{"id":5972,"date":"2016-01-21T10:45:13","date_gmt":"2016-01-21T03:45:13","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=5972"},"modified":"2016-01-21T10:45:13","modified_gmt":"2016-01-21T03:45:13","slug":"sumsel-promosi-pariwisata-di-bali","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/sumsel-promosi-pariwisata-di-bali\/","title":{"rendered":"Sumsel Promosi Pariwisata di Bali"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan akan melakukan promosi pariwisata memanfaatkan momentum gerhana matahari total (GMT) yang dapat disaksikan dari beberapa kabupaten dan kota di provinsi ini pada 9 Maret 2016.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Tim hari ini mulai berangkat ke Bali melakukan promosi wisata lewat momentum gerhana matahari total ini,&#8221; kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayan dan Pariwisata Sumsel, Irene Camelyn Sinaga, dijumpai di sela aktivitas pengukuran posisi dan kondisi cahaya matahari di Jembatan Ampera Palembang, Selasa (19\/1\/2016).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia mengemukakan, promosi pariwisata ini juga dibantu beberapa agen perjalanan yang akan mengantarkan wisatawan menuju tujuan peristiwa GMT itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Irene menjelaskan, beberapa lokasi di Palembang, seperti Jakabaring, Bukit Siguntang, Sungai Gantung Plaju, dan terutama Jembatan Ampera akan disiapkan untuk menyaksikan fenomena alam yang langka ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dinas Perhubungan setempat rencananya menutup sebagian jalur jalan di Jembatan Ampera selama 12 jam, mulai pukul 00.00 WIB hingga Pukul 12.00 WIB.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Beruntung peristiwa itu bersamaan hari libur nasional, sehingga memudahkan kami untuk melakukan penutupan jalan,&#8221; katanya lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Irene, di atas Jembatan Ampera akan digelar semacam pasar kuliner dari pangkal hingga ujung jembatan itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak hanya di Palembang, beberapa daerah lain yang potensial, seperti kawasan Upang Sungsang di Kabupaten Banyuasin, Kota Lubuklinggau, Kota Prabumulih, dan Sekayu-Sungai Lilin-Babat Toman di Kabupaten Musi Banyuasin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Target kami jelas akan menyasar ribuan wisatawan, kami sudah lihat dari jumlah pemesanan kamar di berbagai hotel,&#8221; ujar Irene.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia mengemukakan, menjelang fenomena alam tersebut tim dari Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer-Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) melakukan pengukuran kenaikan posisi dan kondisi sinar matahari di Jembatan Ampera Palembang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kami di sini melakukan pengukuran sekian derajat ketinggian untuk pengamatan pada saat terjadi gerhana matahari total nanti,&#8221; kata perwakilan tim, Saipullah, usai mengamati lokasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia memaparkan, GMT diperkirakan terjadi terakhir kali pada tahun 1988.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Namun gerhana matahari total seperti yang akan terjadi pada Maret mendatang kurang lebih terjadi dalam kurun 100 tahun sekali,&#8221; ujar Saipullah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gerhana itu akan dimulai pada saat matahari mulai naik antara pukul 06.00-06.20 WIB dan mencapai fase puncaknya sekitar pukul 07.20 WIB.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Fase puncak saat matahari mulai tertutup akan berlangsung dalam kurun waktu satu menit 29 detik,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>travel.kompas.com\/Image\u00a0<span class=\"_r3\"><span class=\"irc_ho\" dir=\"ltr\">cecadak.blogspot.com<\/span><\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan akan melakukan promosi pariwisata memanfaatkan momentum gerhana matahari total (GMT) yang dapat disaksikan dari beberapa kabupaten dan kota di provinsi ini pada 9 Maret&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5973,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,82],"tags":[],"class_list":["post-5972","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-palembang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5972","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5972"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5972\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5972"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5972"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5972"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}