{"id":6089,"date":"2016-03-28T10:09:55","date_gmt":"2016-03-28T03:09:55","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=6089"},"modified":"2016-03-28T10:09:55","modified_gmt":"2016-03-28T03:09:55","slug":"keharmonisan-pawai-ogoh-ogoh-semarang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/keharmonisan-pawai-ogoh-ogoh-semarang\/","title":{"rendered":"Keharmonisan Pawai Ogoh-Ogoh Semarang"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Keharmonisan budaya terlihat dalam Karnaval Seni Budaya dan Ogoh-Ogoh 2016 yang digelar di Semarang ditandai dengan iringan penampilan beragam kesenian tradisional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beragam kesenian ditampilkan mengiringi empat &#8220;ogoh-ogoh&#8221; yang didatangkan langsung dari Bali yang diarak bersama-sama dari kawasan Kota Lama menuju Kompleks Balai Kota Semarang, Minggu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beragam kesenian itu, di antaranya kesenian dari Baleganjur Peradah Kota Semarang, kesenian dari Terang Bangsa mewakili umat Kristen, kesenian yang mewakili Khonghucu, dan kelompok penghayat kepercayaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tampil pula kesenian Baleganjur dari Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) dan kelompok &#8220;voorijder&#8221; dari Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Semarang yang mengiringi arak-arakan ogoh-ogoh.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ribuan masyarakat yang terlihat memenuhi sepanjang jalan yang menjadi rute arak-arakan budaya, mulai dari kawasan Kota Lama sampai Jalan Pemuda, terutama di depan Kompleks Balai Kota Semarang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sesampainya di balai kota, pengunjung disuguhi Tari Garuda Murti yang menceritakan Indonesia yang dilambangkan burung garuda mengalami beberapa ujian dan cobaan, namun Pancasila tetap saksi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketua Panitia Karnaval Seni Budaya dan Ogoh-Ogoh 2016 I Nengah Wirta Darmayana menjelaskan tema yang diusung dalam kegiatan pawai budaya itu adalah &#8220;Merajut Harmoni dalam Keberagaman&#8221;.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pawai budaya itu, kata dia, mengambil momentum Hari Raya Nyepi 1938 yang sekaligus menjadi sarana silaturahmi dan pengembangan kreasi seni bagi seluruh elemen masyarakat lintas etnis dan agama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Pawai ogoh-ogoh ini merupakan salah satu upaya memelihara kerukunan umat beragama di Kota Semarang. Diharapkan para pelaku seni juga terpantik untuk mengembangkan kreasi dan inovasi,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tentunya, kata Nengah yang juga Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Semarang, pawai budaya itu bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung ke Kota Atlas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengungkapkan ada beberapa harapan positif dari kegiatan pawai budaya dan ogoh-ogoh itu, yakni mengangkat daya tarik wisatawan ke Kota Semarang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Event semacam ini akan menjadi daya tarik. Tidak hanya bagi wisatawan lokal, tetapi juga wisatawan asing karena dari segi kualitas penyelenggaraan dan muatannya tidak kalah dengan yang di Bali,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Artinya, kata Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi, Semarang memiliki potensi kesenian dan budaya yang berakar dari tradisi agama yang patut dilestarikan dan dikemas secara apik, menarik, dan atraktif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Semarang adalah kota yang kondusif. Kota yang masyarakatnya mampu hidup harmonis dalam keberagaman dan kemajemukan. Kami berharap kebersamaan dalam kemajemukan ini terus terpelihara,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>antaranews.com\/Image\u00a0<span class=\"_r3\"><span class=\"irc_ho\" dir=\"ltr\">potensijateng.com<\/span><\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Keharmonisan budaya terlihat dalam Karnaval Seni Budaya dan Ogoh-Ogoh 2016 yang digelar di Semarang ditandai dengan iringan penampilan beragam kesenian tradisional. Beragam kesenian ditampilkan mengiringi empat &#8220;ogoh-ogoh&#8221; yang didatangkan langsung&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":6090,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,97],"tags":[],"class_list":["post-6089","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-semarang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6089","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6089"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6089\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6089"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6089"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6089"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}