{"id":6144,"date":"2016-04-13T09:16:37","date_gmt":"2016-04-13T02:16:37","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=6144"},"modified":"2016-04-13T09:16:37","modified_gmt":"2016-04-13T02:16:37","slug":"500-penari-akan-meriahkan-pawai-budaya-gianyar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/500-penari-akan-meriahkan-pawai-budaya-gianyar\/","title":{"rendered":"500 Penari Akan Meriahkan Pawai Budaya Gianyar"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Sebanyak 500 penari akan ikut ambil bagian dalam memeriahkan pawai budaya di panggung terbuka Balai Budaya Kabupaten Gianyar, Bali, Sabtu, 16 April 2016.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Mereka telah melakukan latihan persiapan di halaman Pura Batuyang, Batubulan,&#8221; kata Tim Pembina tari tersebut I Nyoman Sunarta, di Gianyar, Bali, Senin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia mengatakan, ke-500 penari dan penabuh terlibat dalam kolaborasi untuk memeriahkan kegiatan seni dan budaya yang berlangsung di Kota Gianyar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pawai budaya kali ini mengusung tema <i>Karang awak di tengah globalisasi.<\/i> Sesuai dengan kesepakatan, Desa Batubulan Kangin berkesempatan menggarap fragmentari tentang <i>Karang Awak<\/i>, di tengah masa kekinian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sedangkan duta Kecamatan Ubud mendapat jatah untuk menampilkan parade yang akan diiringi berbagai karya seni budaya, di antaranya\u00a0<i>mepeed<\/i>, &#8220;arak-arakan&#8221;, mobil hias, <i>gebogan<\/i>, <i>bleganjur<\/i>, gong suling, barisan <i>jegeg bagus<\/i>, dan <i>jerimpen<\/i> yang menggambarkan identitas desa setempat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Unsur yang ditonjolkan lebih kepada bunga dan buah-buahan setempat,&#8221; ujar Sunarta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menjelaskan, &#8220;Karang Awak&#8221; dalam era modern saat ini dapat diartikan sebagai kekuatan yang terpendam dalam diri seseorang, untuk mencari jati diri sesungguhnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam <i>Bhuwana Alit<\/i>, terdiri atas berbagai molekul kehidupan berupa <i>sarwa prani<\/i>, hutan, <i>beburon<\/i>, dan seisi alam semesta. Partikel tersebut akan memberikan energi, yang saling terkait dan memberi kehidupan bagi manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;<i>Karang Awak<\/i> mengajarkan manusia tentang betapa pentingnya menjaga alam raya,&#8221; ujar I Nyoman Sunarta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fragmentari dari Desa Batubulan Kangin akan menampilkan berbagai tari-tarian yang masih tetap populer di masa kini, yaitu kecak, legong Sang Hyang, barong, rangda, semar pegulingan, dan lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia mengharapkan masyarakat umum yang menyaksikan pertunjukkan dapat menyimak dengan seksama semua jenis garapan seni yang ditampilkan. Sebab, tema pawai sangat menarik tentang ruang lingkup kehidupan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Manusia mesti sadar betapa indah dan agungnya harmonisasi, yang dimotori maha karya seni budaya yang diwarisi hingga sekarang menjadi adi luhung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>antaranews.com\/Image\u00a0<span class=\"_r3\"><span class=\"irc_ho\" dir=\"ltr\">aktual.com<\/span><\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebanyak 500 penari akan ikut ambil bagian dalam memeriahkan pawai budaya di panggung terbuka Balai Budaya Kabupaten Gianyar, Bali, Sabtu, 16 April 2016. &#8220;Mereka telah melakukan latihan persiapan di halaman&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":6145,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,116],"tags":[],"class_list":["post-6144","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kabupaten-gianyar"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6144","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6144"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6144\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6144"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6144"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6144"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}