{"id":6250,"date":"2016-05-11T07:46:44","date_gmt":"2016-05-11T00:46:44","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=6250"},"modified":"2016-05-11T07:46:44","modified_gmt":"2016-05-11T00:46:44","slug":"15-poin-hasil-rakernas-jkpi-ke-v-di-banda-aceh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/15-poin-hasil-rakernas-jkpi-ke-v-di-banda-aceh\/","title":{"rendered":"15 Poin Hasil Rakernas JKPI ke-V di Banda Aceh"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Jaringan Kota Pusat Indonesia (JKPI) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-V tahun 2016 di Museum Aceh, Banda Aceh, Selasa (10\/6).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketua Presidium JKPI 2016, Illiza Sa\u2019aduddin Djamal menyebutkan ada 15 poin hasil Rakernas ke-V JKPI ini untuk direkomendasikan ke pemerintah pusat, di mana wadahnya adalah Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) RI.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSelanjutnya kita juga akan rekomendasi ke Pak Presiden Jokowi. Beliau juga salah satu pendiri JKPI sewaktu masih menjabat Wali Kota Solo,\u201d kata Illiza yang juga Wali Kota Banda Aceh.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Illiza menambahkan untuk saat ini kabupaten\/kota yang tergabung dalam JKPI ada 58 anggota. Untuk keanggotaan nantinya cukup 70 saja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk Rakernas JKPI tahun 2017, kata Illiza, akan digelar di Gianyar Bali.\u00a0 Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Agung Bharata akan menjadi Presidium JKPI 2017.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Adapun 15 poin hasil Rakernas JKPI ke V adalah:<\/p>\n<p style=\"margin-bottom: 12pt; text-align: justify;\">1. Pentingnya meningkatkan kerja sama antara sesama anggota JKPI untuk mempromosikan kegiatan pelestarian pusaka yang tersebar di seluruh Indonesia.<br \/>\n2. Mendata seluruh aset pusaka yang ada di Indonesia untuk kemudian dapat dijadikan sebuah buku dalam rangka mempromosikan sejarah Indonesia ke mata dunia.<br \/>\n3. Rakernas tahun 2017 akan dilaksanakan di Gianyar, Bali.<br \/>\n4. Kongres ke IV JKPI akan dilaksanakan di Kota Solo pada tahun 2018.<br \/>\n5. Pelunasan iuran keanggotaan JKPI (Rp10 juta\/tahun)<br \/>\n6. Kemenko PMK RI menjadi organisasi induk JKPI yang akan memfasilitasi program\/kegiatan lintas kementerian.<br \/>\n7. Forum Rakernas JKPI ke-V 2016 menerima anggota baru dalam keanggotaan JKPI, yakni Kabupaten Halmahera Barat, Kabupaten Siak, Kota Sabang, dan Kabupaten Pesawaran.<br \/>\n8. Memberikan masukan kepada Presiden RI yang pernah menjadi bagian dari JKPI, agar dapat membantu memfasilitasi rapat lintas kementerian dan lembaga terkait dengan permasalahan aset pusaka yang ada di daerah-daerah.<br \/>\n9. Agar adanya DAK Cagar Budaya yang diperuntukkan untuk pemugaran dan pemeliharaan situs-situs cagar budaya.<br \/>\n10. Perlu adanya master plan terkait penataan kawasan cagar budaya atau pusaka.<br \/>\n11. Melaporkan progres capaian satu dekade JKPI pada Presiden RI di tahun 2018.<br \/>\n12. Agar bantuan dari pemerintah pusat tidak hanya bersifat fisik, namun juga bersifat sosialisasi dalam rangka mendorong kesadaran masyarakat untuk lebih peduli terhadap pelestarian cagar budaya dan nilai-nilai budaya.<br \/>\n13. Adanya gagasan pusaka untuk pemberian Pusaka Award dari Pemerintah Indonesia bagi kabupaten\/kota sebelum memasuki level Warisan Kota Dunia.<br \/>\n14. Perlu kejelasan terkait dengan regulasi dan peraturan yang ada di level nasional terkait dengan upaya-upaya pelestarian atau revitalisasi cagar budaya.<br \/>\n15. Perlu membangun website JKPI yang kemudian dapat dijadikan sebagai media komunikasi antar sesama anggota JKPI. <strong>[Aidil Saputra]<\/strong><\/p>\n<p style=\"margin-bottom: 12pt; text-align: justify;\"><em>kanalaceh.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jaringan Kota Pusat Indonesia (JKPI) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-V tahun 2016 di Museum Aceh, Banda Aceh, Selasa (10\/6). Ketua Presidium JKPI 2016, Illiza Sa\u2019aduddin Djamal menyebutkan ada 15&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":6251,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,75],"tags":[],"class_list":["post-6250","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-banda-aceh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6250","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6250"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6250\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6250"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6250"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6250"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}