{"id":6328,"date":"2016-06-06T10:17:32","date_gmt":"2016-06-06T03:17:32","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=6328"},"modified":"2016-06-06T10:17:32","modified_gmt":"2016-06-06T03:17:32","slug":"pawai-budaya-tutup-rangkaian-hari-jadi-bogor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/pawai-budaya-tutup-rangkaian-hari-jadi-bogor\/","title":{"rendered":"Pawai Budaya Tutup Rangkaian Hari Jadi Bogor"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Pawai Budaya Helaran menjadi penutup peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke- 534 yang digelar Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pawai Budaya tersebut berlangsung meriah, diikuti sekitar 10.000 peserta yang menampilkan berbagai atraksi mulai dari Reog Ponorogo, drumband dari Pusdikzi, mobil hiasan, dan iring-iringan dondang (pembawa jampang).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tahun ini Pawai Budaya berlangsung istimewa dihadiri Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang ikut menunggang kuda bersama Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kami mengundang seluruh wali kota se Jawa Barat untuk menghadiri pawai Helaran ini, yang hadir Wali Kota Bandung, pimpinan kota lainya hanya diwakilkan,&#8221; kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Ekonomi Kreatif Kota Bogor Shahlan Rasyidi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Shahlan mengatakan, kehadiran Ridwan Kamil menjadi kehormatan sekaligus kado istimewa menambah kemeriahan Pawai Budaya Helaran Kota Bogor.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ridwan Kamil tidak datang sendiri, tapi membawa langsung seluruh camat se Kota Bandung,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Shahlan, kehadiran Wali Kota Bogor mendapat nilai positif untuk terus melestarikan pawai budaya yang ada di wilayah Jawa Barat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, Ketua DPRD Kota Bogor Untung B Maryono mengapresiasi pelaksanaan Pawai Budaya Helaran yang menjadi pemersatu antara warga dan pimpinannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Pawai Budaya ini memperlihatkan kekompakan antara kepala daerah, dan masyarakat terhibur, tidak ada pembatasan, antara warga dan pejabat,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Untung kegiatan tersebut dapat menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap Kota Bogor, sehingga bersama-sama mewujudkan Bogor yang lebih baik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Suatu kebahagiaan, Hari Jadi Bogor jatuh pada hari Jumat. Dan momen hari itu bertepatan dengan datangnya bulan Ramadan. Semoga ini menjadi rahmat bagi kita semua,&#8221; kata Untung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pawai Budaya Helaran menampilkan berbagai atraksi mulai pawai pejabat berkuda, kereta kencana, delman, hingga mobil hias.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Widya (32) warga Cimahpar mengaku ini kali kedua ia menyaksikan pawai budaya yang sangat menghibur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Cuma sayang, masih banyak sampah. Jadi kurang rapi dan bersih. Selain minim tempat sampah di sepanjang lokasi, juga kesadaran warga yang buang sampah sembarangan belum banyak,&#8221; kata ibu satu anak tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>antaranews.com\/Image r<span class=\"_r3\"><span class=\"irc_ho\" dir=\"ltr\">idwanaz.com<\/span><\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pawai Budaya Helaran menjadi penutup peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke- 534 yang digelar Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu. Pawai Budaya tersebut berlangsung meriah, diikuti sekitar 10.000 peserta yang&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":6329,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,78],"tags":[],"class_list":["post-6328","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-bogor"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6328","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6328"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6328\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6328"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6328"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6328"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}