{"id":6470,"date":"2016-07-14T10:32:03","date_gmt":"2016-07-14T03:32:03","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=6470"},"modified":"2016-07-14T10:32:03","modified_gmt":"2016-07-14T03:32:03","slug":"candi-prambanan-masih-menjadi-favorit-wisatawan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/candi-prambanan-masih-menjadi-favorit-wisatawan\/","title":{"rendered":"Candi Prambanan Masih Menjadi Favorit Wisatawan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Objek wisata peninggalan sejarah budaya Candi Prambanan di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, masih menjadi pilihan favorit wisatawan selama libur Lebaran 2016.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Tercatat hingga H+5 Lebaran 2016 wisatawan yang berkunjung ke Candi Prambanan dan Ratu Boko mencapai 118.000 orang,&#8221; kata Direktur PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero) Edi Setiono, Rabu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut dia, jumlah tersebut terhitung sejak hari H lebaran hingga H+4 atau Minggu (10\/7).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Rinciannya, wisatawan yang berkunjung ke Candi Prambanan sekitar 108.000 orang sementara yang berkunjung ke Ratu Boku sekitar 10.000 orang. Pengunjung didominsi wisatawan Nusantara (Wisnus),&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia mengatakan pada hari H Lebaran 2016 jumlahnya hanya sekitar 4.100 kunjungan wisatawan. Jumlah tersebut meningkat drastis dan mencapai puncaknya pada H+3 yang mencapai 30.000 orang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sementara jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) masih stabil di angka 350 hingga 400 orang per hari,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Edi mengatakan, banyak keunggulan wisatawan yang berkunjung ke lokasi candi tersebut. Pasalnya, wisatawan tidak hanya melihat-lihat candi sebagai warisan budaya tetapi juga ikut belajar memahami sejarah bangsa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Banyak inspirasi yang muncul, mulai dari mempelajari estetika arsitektur candi yang luar biasa, arkeologi hingga cerita relief. Semua bisa dipelajari wisatawan,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia mengatakan, pihaknya menetapkan masa ramai libur Lebaran 2016 selama 15 hari, terhitung sejak 3 Juli hingga 17 Juli. Selama masa ramai Lebaran, pihaknya menggandeng masyarakat untuk memberikan sajian hiburan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Salah satunya, atraksi seni dan budaya semisal musik keroncong, akustik, cokekan, jathilan, atraksi punokawan, atraksi badut, dan atraksi Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>antaranews.com\/Image\u00a0<span class=\"_r3\"><span class=\"irc_ho\" dir=\"ltr\">tv.liputan6.com<\/span><\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Objek wisata peninggalan sejarah budaya Candi Prambanan di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, masih menjadi pilihan favorit wisatawan selama libur Lebaran 2016. &#8220;Tercatat hingga H+5 Lebaran 2016 wisatawan yang berkunjung&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":6471,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,87],"tags":[],"class_list":["post-6470","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-yogyakarta"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6470","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6470"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6470\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6470"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6470"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6470"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}