{"id":6493,"date":"2016-07-22T10:04:36","date_gmt":"2016-07-22T03:04:36","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=6493"},"modified":"2016-07-22T10:04:36","modified_gmt":"2016-07-22T03:04:36","slug":"jalan-terjal-menuju-pusaka-dunia-kota-lama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/jalan-terjal-menuju-pusaka-dunia-kota-lama\/","title":{"rendered":"Jalan Terjal Menuju Pusaka Dunia &#8220;Kota Lama&#8221;"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>KOTA<\/strong> Lama, distrik bersejarah di Kota Semarang, Jawa Tengah, didaftarkan menjadi Situs Warisan Pusaka Dunia Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Satu jenjang menjelang status destinasi wisata global.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Suatu siang di sudut Jalan Kepodang, Kota Lama, sepasang muda-mudi bergaya mesra di antara kilatan lampu blitz kala menjalani foto pranikah di depan satu bangunan mangkrak. Terpaut belasan meter, kerumunan laki-laki berjongkok membentuk lingkaran, mengitari dua ayam jago yang tengah beradu. Mereka terbahak, kadang memekak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ngatiman (61), satu di antara penyabung ayam itu, mengatakan, usia arena adu ayam sudah lebih dari 50 tahun. \u201dMulai sekitar 1965-an. Lokasinya berpindah-pindah, tetapi masih di Kota Lama,\u201d ujarnya, Rabu (25\/5\/2016).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Awalnya tempat itu adalah pasar ayam, lalu lama-lama berubah menjadi tempat adu ayam. Tentu hal ini, diakui Ngatiman, tidak lepas dari perjudian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bukan hanya sabung ayam, bagian selatan areal seluas 31 hektar (ha) itu juga dipenuhi bangunan liar untuk berdagang dan bermukim. Bahkan, kala malam menjadi lokasi mangkal pekerja seks komersial dan warung minuman keras.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Puluhan tahun, lorong-lorong Kota Lama kumuh. Walau dua tahun terakhir mulai banyak kafe dan ruang publik di ruas utama (Jalan Letjen Suprapto) untuk kegiatan positif, sebagian besar kawasan masih gelap dan suram. Ini tentu jadi hambatan pariwisata. \u201dBanyak wisatawan takut. Tidak nyaman berkeliling, terutama di kawasan kumuh. Kadang masih ada juga yang berlaku tidak sopan terhadap turis,\u201d tutur Danny Toledo (35), agen wisata yang sering membawa rombongan pelancong domestik dan asing ke Semarang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong style=\"max-width: 100%;\" title=\"Author: KOMPAS\/P RADITYA MAHENDRA YASA 1 Caption: Petugas jaga memeriksa seputar kawasan Gedung Lawang Sewu yang telah berhasil menjadi contoh konservasi bangunan cagar budaya di Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (20\/4\/2016). Gedung-gedung tua berarsitektur indah dengan cerita sejarah masa lalu menjadi potensi wisata yang belum tergarap, seperti di Kota Lama.\" data-id=\"622461\" data-aligment=\"\" data-width=\"780px\">Dirundung masalah<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika Kota Lama menjadi Situs Warisan Pusaka UNESCO, sebagaimana target Pemkot Semarang, memang menguntungkan, terutama promosi gratis berskala internasional. Bisa dilihat potret serupa seperti Vigan di Filipina dan Penang di Malaysia yang dijejali jutaan turis asing setiap tahun. Namun, siapkah Semarang?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wakil Wali Kota Semarang Hevearita G Rahayu yang akrab disapa Ita mengakui, kondisi fisik dan nonfisik Kota Lama masih jauh dari ideal. Persoalan sosial menjadi salah satu kendala besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk menangani pedagang liar, Pemkot akan merelokasi mereka ke satu bangunan yang pemiliknya telah sepakat untuk bekerja sama dengan pemerintah. Arena sabung ayam dan pemukim liar segera ditertibkan. Terminal angkutan kota yang menempati areal di sekitar Jalan Kepodang juga diharapkan dipindah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201dMulai tahun ini kami serius membenahi Kota Lama jadi ikon Kota Semarang,\u201d ujar Ita yang juga Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Infrastruktur juga jadi perhatian. Tahun ini, Pemkot Semarang menganggarkan Rp 69 miliar untuk perbaikan infrastruktur Kota Lama, antara lain perbaikan drainase. Selama ini, setiap hujan deras dan limpasan air laut melanda, Kota Lama sulit lepas dari genangan. Di beberapa titik, ketinggiannya mencapai 30 sentimeter. Air menggenang karena tumpukan sampah menyumbat gorong-gorong.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Agar fokus, dibentuk enam kelompok kerja di lingkungan dinas terkait untuk menyelesaikan setiap hambatan. Targetnya, akhir tahun persoalan sosial yang merundung kawasan itu teratasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Bidang Perencanaan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kota Semarang M Farchan mengatakan, perbaikan infrastruktur juga meliputi pemasangan paving block dan pembuatan interior jalan (street furniture) seperti lampu hias dan kursi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dua jalan, yakni Jalan Merak (Noorderwalstaat) dan Jalan Mpu Tantular (Westerwalstraat dan Parkhuisstraat), juga diperbaiki dan akan diteruskan ke jalan lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ironisnya, sejak 2003, Pemkot sebenarnya telah memiliki Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Kota Lama. Namun, pelaksanaannya tumpul. Misalnya, ada larangan truk berbobot lebih dari 3 ton melintas. Nyatanya, siang-malam truk berat lalu-lalang di sana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sangat disayangkan karena dari sisi akomodasi, kawasan ini mulai berbenah menjadi tujuan wisata. Ini bisa dilihat dari tumbuhnya hotel-hotel berbintang di dekat Kota Lama. Dari segi transportasi, penerbangan menuju Semarang bisa dijangkau dari sejumlah kota besar, bahkan dari Kuala Lumpur, Malaysia dan Singapura.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Warisan sejarah<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berdasarkan data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang, jumlah kunjungan wisatawan ke ibu kota Jateng ini setiap tahun meningkat tipis. Pada 2014, jumlah wisatawan sekitar 4,2 juta orang. Pada 2015 menjadi 4,4 juta orang. Sayangnya, dari jumlah 4,4 juta orang itu, wisatawan asing hanya 52.000 orang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Masdiana Safitri berharap, revitalisasi Kota Lama akan mendongkrak kunjungan wisman. \u201dKota Lama bisa jadi pusat wisata sejarah di Jateng. Sejarah perdagangan dunia bisa dipelajari dari sini. Kami akan lebih sering mengadakan acara di Kota Lama,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ditilik dari kerangka sejarah, kawasan berjuluk \u201dLittle Netherland\u201d\u2014karena dibangun menyerupai kota-kota modern di Belanda\u2014ini memuat nilai historis begitu besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam buku Island of Java, John Joseph Stockdale pada 1811 mencatat, sejak benteng yang melindungi daerah itu dihancurkan pada 1791, kawasan di muara Kali Semarang itu telah menjadi pusat kantor dagang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kota yang dibangun pada abad ke-17 ini kian megah didukung perdagangan hasil bumi seperti, karet, kopra, gula, dan aneka rempah. Arsitekturnya cermin kota modern Eropa yang dipengaruhi banyak latar budaya, seperti Belanda, Jerman, Yunani, dan Spanyol.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemerhati cagar budaya Tjahjono Rahardjo menilai pentingnya pembuatan urban planning atau tata rencana kota. Dokumen ini harus jadi acuan detail revitalisasi di bidang fisik dan nonfisik. \u201dBagaimana pedestrian, akses ke ruang publik, lalu lintasnya, hingga pemanfaatan bangunan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kota Lama, lanjut Tjahjono, mesti diarahkan menjadi warisan sejarah yang hidup <em>(living heritage).<\/em> Bangunan tak dimaknai semata artefak, tetapi juga sejarah dinamis dengan kehidupan di dalamnya yang melintasi peradaban.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk itu, upaya memfungsikan kembali bangunan bersejarah menjadi target utama. \u201dTumbuhkan kafe, restoran, atau toko, daripada ditinggal dan ambruk. Yang penting tidak mengubah bangunan cagar budaya,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang terpenting, pemerintah tak semestinya menjadikan pengakuan UNESCO sebagai tujuan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>travel.kompas.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KOTA Lama, distrik bersejarah di Kota Semarang, Jawa Tengah, didaftarkan menjadi Situs Warisan Pusaka Dunia Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Satu jenjang menjelang status destinasi wisata&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":6494,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,97],"tags":[],"class_list":["post-6493","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-semarang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6493","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6493"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6493\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6493"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6493"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6493"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}