{"id":6587,"date":"2016-08-16T09:59:33","date_gmt":"2016-08-16T02:59:33","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=6587"},"modified":"2016-08-16T09:59:33","modified_gmt":"2016-08-16T02:59:33","slug":"festival-pesona-pulau-makassar-2016-di-baubau-20-21-agustus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/festival-pesona-pulau-makassar-2016-di-baubau-20-21-agustus\/","title":{"rendered":"Festival Pesona Pulau Makassar 2016 di Baubau, 20-21 Agustus"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Festival Pulau Makassar (FPM) 2016 akan digelar di Kota Baubau, di Sulawesi Tenggara, tempat keberadaan benteng terbesar, terpanjang, terluas peninggalan zaman perang itu. Persisnya, pada 20-21 Agustus 2016.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekretaris Daerah Kota Baubau, Muhammad Djudu menjelaskan agenda pariwisata ini mengedepankan kekuatan budaya dan alam Pulau Makassar, salah satu unggulan wisata bahari di Kota Baubau.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lebih lanjut, pria yang biasa disapa Djudul itu mengatakan, FPM 2016 itu akan difokuskan di Pulau Makasar, Kelurahan Sukanayo dan Liwuto Kecamatan Kokalukuna. Kegiatan ini juga didukung oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dan sudah ditetapkan menjadi kalender nasional tahunan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201dSemua harus siap, termasuk kuliner khas Sultra. Kopi khas asli Bau-bau. Pulau Makassar dikaruniai pemandangan alam bawah laut yang menakjubkan, terumbu karangnya menjadi incaran penyelam untuk dinikmati secara visual. Warga setempat pun setiap hari memanfaatkan kekayaan Pulau Makassar melalui panen-panen ikan yang dihasilkan dari pulau tersebut. Jadi sudah harus tahu manfaat dalam menerima wisatawan termasuk membuat home stay,\u201d beber Djudul, dalam keterangan tertulis dari Kementerian Pariwisata, Senin *15\/8\/2016).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kata Djudul, FPM 2016 tidak bisa lepas dari ritual tradisi masyarakat setempat yang \u2018tuturangiana andala\u2019 atau memberikan sesajen di tengah laut. Ini adalah kegiatan seraya menyerahkan persembahan kepada penguasa alam pada empat penjuru mata agin agar rezeki melimpah dan marabahaya menjauh dari nelayan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201dTradisi itu biasanya menyertai kepala kambing sebagai sesajen. Jadi sangat menarik dari sisi budayanya,\u201d ujarnya bangga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Djudul menambahkan, saat perhelatan nanti semua masyarakat diharapkan suasananya harus lebih ramai dan indah karena pariwisata dalam konsep memang harus indah, nyaman, aman dan masyarakatnya harus ramah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201dDampaknya kita selalu berorentasi pada efek ekonomi terhadap daerah,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, lanjut Djudul, Pariwisata juga akan memberikan perubahan cara pandang masyarakat yang semula cara berjualan sekedar untuk dijajakan ala kadarnya, maka mereka berpikir untuk menjajakan konsumsi wisatawan, sehingga kuliner itu bisa menjadi perhatian konsumen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSehingga kegiatan di Pulau Makasar bukan hanya sekedar masyarakat lokal yang mendapatkan efek ekonominya, tetapi masyarakat sekitar daerah ini karena kegiatan ini berskala regional dan nasional, tentu orang akan berdatangan ke sini,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meskipun kegiatan itu bukan baru kali pertama digelar Baubau, kata Djudul, namun FPM ini yang baru saja ditetapkan menjadi agenda kalender tahunan dan pertama kali mendapatkan dukungan dari Kemenpar sehingga harus dilaksanakan lebih sukses dari tahun-tahun sebelumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cUntuk bisa dipercaya di masa mendatang maka kesempatan pertama ini harus kita sukseskan, agar pemerintah pusat bisa menilai dengan baik, sehingga pada tahun depan bisa mendapatkan perhatian untuk meningkatkan persiapan kegiatan festival nasional ini,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pulau Makassar yang kerap disingkat dengan \u2018Puma\u2019 tengah dipersiapkan sebagai tujuan wisata bahari, karena daerah yang terletak di pesisir Baubau ini memiliki nilai jual yang tinggi baik di atas laut maupun bawah lautnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nama \u2018Pulau Makassar\u2019 sendiri mungkin menimbulkan kebingungan bagi wisatawan yang baru mendengarnya. Ada beberapa versi yang melatari pemberian nama tersebut. Salah satu versinya menyebutkan bahwa pulau ini dihibahkan oleh Sultan Buton kepada para bangsawan Bone (Makassar) penentang kerajaan Gowa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perjalanan dari Kota Baubau ke Pulau Makassar tidak sampai setengah jam dengan ojek laut \u2018jerangka\u2019 atau perahu mesin tempel. Di sepanjang perjalanan, wisatawan dapat menyaksikan air laut yang jernih.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menteri Pariwisata Arief Yahya belum memberikan kepastian untuk hadir di acara tersebut, karena skedulnya bertabrakan dengan Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba 2016 di Balige dan Parapat. Tetapi, Mantan Dirut PT Telkom ini sangat mengapresiasi semangat walikota dan masyarakat di sana yang antusiasi membangun Pariwisata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cItu modal yang baik untuk memajukan perekonomian bangsa,\u201d kata Arief Yahya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>tribunnews.com\/<span class=\"_r3\"><span class=\"irc_ho\" dir=\"ltr\">onenusantara.com<\/span><\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Festival Pulau Makassar (FPM) 2016 akan digelar di Kota Baubau, di Sulawesi Tenggara, tempat keberadaan benteng terbesar, terpanjang, terluas peninggalan zaman perang itu. Persisnya, pada 20-21 Agustus 2016. Sekretaris Daerah&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":6590,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,95],"tags":[],"class_list":["post-6587","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-kota-bau-bau"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6587","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6587"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6587\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6587"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6587"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6587"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}