{"id":6977,"date":"2016-12-09T11:10:30","date_gmt":"2016-12-09T04:10:30","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=6977"},"modified":"2016-12-09T11:10:30","modified_gmt":"2016-12-09T04:10:30","slug":"5-tarian-asal-indonesia-ini-dikenal-masyarakat-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/5-tarian-asal-indonesia-ini-dikenal-masyarakat-dunia\/","title":{"rendered":"5 Tarian Asal Indonesia Ini Dikenal Masyarakat Dunia"},"content":{"rendered":"<p>Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki lebih dari 249 juta penduduk yang tersebar dari ujung barat hingga timur.<\/p>\n<p>Dengan perbedaan suku bangsa pada tiap-tiap wilayah, tak heran jika Indonesia memiliki tradisi dan kebudayaan yang amat kaya.<\/p>\n<p>Satu di antaranya tarian.<\/p>\n<p>Dengan gerakan yang khas, tarian Indonesia begitu mencerminkan keanekaragaman budaya yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n<p>Oleh sebab itu, antara satu daerah dengan daerah lain memiliki jenis tarian yang berbeda-beda.<\/p>\n<p>Dari ratusan tarian yang ada Indonesia, beberapa di antaranya ternyata sudah dikenal masyarakat dunia.<\/p>\n<p>Berikut lima tarian asal Indonesia yang namanya telah dikenal hingga luar negeri.<\/p>\n<p><strong>1. Tari Saman<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2016\/12\/o1.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-6978\" src=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2016\/12\/o1.jpg\" alt=\"o1\" width=\"500\" height=\"192\" \/><\/a><em>Image thepresidentpost.com<\/em><\/p>\n<p>Berasal dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Tari Saman biasanya ditampilkan saat acara adat sedang berlangsung.<\/p>\n<p>Dengan gerakan penari yang super cepat, tari saman merupakan media penyampaian pesan.<\/p>\n<p>Di luar negeri, tari saman sering ditampilkan oleh mahasiswa Indonesia yang belajar di sana.<\/p>\n<p>Dikutip dari\u00a0thepresidentpost.com, tari saman membuat masyarakat Paris tertegun di cultural hall Kedutaan Besar Republik Indonesia di Paris, Perancis, pada Mei 2013.<\/p>\n<p><strong>2. Tari Kecak<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2016\/12\/o2.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-6979\" src=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2016\/12\/o2.jpg\" alt=\"o2\" width=\"500\" height=\"288\" \/><\/a><em>Image uluwatukecakdance.com<\/em><\/p>\n<p>Berasal dari Bali, tari kecak dimainkan oleh sejumlah penari pria yang duduk melingkar.<\/p>\n<p>Bercerita mengenai kisah Ramayana, penari tari kecak pada irama tertentu selalu menyerukan &#8220;cak!&#8221; dan mengangkat kedua lengan.<\/p>\n<p>Di Bali, pertunjukan tari kecak biasanya diperlihatkan untuk wisatawan yaitu di Pura Uluwatu.<\/p>\n<p>Penontonnya pun tak hanya wisatawan lokal, turis mancanegara pun melihat pertunjukan ini.<\/p>\n<p><strong>3. Tari Pendet<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2016\/12\/o3-1.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-6981\" src=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2016\/12\/o3-1.jpg\" alt=\"Bali dance\" width=\"500\" height=\"375\" \/><\/a><\/p>\n<p><em>Image balitourismboard.org<\/em><\/p>\n<p>Sama halnya dengan tari kecak, tari pendet juga berasal dari Pulau Dewata.<\/p>\n<p>Bedanya, tari pendet dimainkan oleh penari wanita dengan membawa sangku, kendi, cawan, dan perlengkapan sesajen lainnya.<\/p>\n<p>Meskipun tak setenar tari kecak, namun tari pendet sudah dikenal hingga ke luar negeri.<\/p>\n<p><strong>4. Tari Reog Ponorogo<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2016\/12\/o4.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-6982\" src=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2016\/12\/o4.jpg\" alt=\"o4\" width=\"500\" height=\"341\" \/><\/a><em>Image indonesia-tourism.com<\/em><\/p>\n<p>Berasal dari Jawa Timur, reog merupakan kesenian yang menampilkan sosok warok dan gemblak.<\/p>\n<p>Selain itu, dalam tari reog selalu terdapat singa barong yang merupakan penari dengan topeng barong seberat 50-60 kg.<\/p>\n<p>Keunikannya telah membawa tari ini terbang ke Filipina pada Agustus 2016 lalu.<\/p>\n<p><strong>5. Tari Jaipong<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2016\/12\/o5.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-6983\" src=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2016\/12\/o5.jpg\" alt=\"o5\" width=\"500\" height=\"412\" \/><\/a><em>Image Pinterest<\/em><\/p>\n<p>Tari Jaipong merupakan seni tari tradisional Sunda, di mana tariannya dipadukan dengan suara gamelan dan kendang.<\/p>\n<p>Biasanya ketika penari sedang menari, penonton secara spontan akan meneriakkan aksen tiruan seperti bunyi kendang.<\/p>\n<p>Dikutip dari kebudayaanindonesia.net, tari jaipong ditampilkan di depan umum pada 1974 dalam Hong Kong Arts Festival.<\/p>\n<p><em>travel.tribunnews.com<br \/>\n<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki lebih dari 249 juta penduduk yang tersebar dari ujung barat hingga timur. Dengan perbedaan suku bangsa pada tiap-tiap wilayah, tak heran jika Indonesia memiliki tradisi&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":6984,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96],"tags":[],"class_list":["post-6977","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6977","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6977"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6977\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6977"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6977"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6977"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}