{"id":6993,"date":"2016-12-14T11:35:41","date_gmt":"2016-12-14T04:35:41","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=6993"},"modified":"2016-12-14T11:35:41","modified_gmt":"2016-12-14T04:35:41","slug":"tarian-cakalele-tarian-adat-dari-maluku","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/tarian-cakalele-tarian-adat-dari-maluku\/","title":{"rendered":"Tarian Cakalele Tarian Adat Dari Maluku"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Tari Cakalele<\/strong>\u00a0adalah tarian tradisional khas daerah Maluku. Dalam ritual adat,\u00a0tari cakalele\u00a0biasanya dibawakan oleh 30 penari pria dan wanita secara berpasangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kostum<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penari pria mengenakan pakaian adat warna merah. Warna merah melambangkan keberanian dan sifat laki-laki Maluku yang pantang menyerah. Pakaian itu terdiri dari penutup kepala atau tualipa, selempang atau salebutu, dan ikat pinggang atau goronamabiliku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penari cakalele selalu dilengkapi peralatan perang berupa parang atau semarang dan perisai atau salawaku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi bangsa Maluku, parang melambangkan martabat bangsa Maluku yang harus dijaga sampai mati. Salawaku yang digunakan bisanya dihiasi dengan motif tertentu yang dibuat berdasarkan perhitungan tertentu sehingga mampu menangkis serangan musuh.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sedangkan penari wanita mengenakan pakaian adat sederhana, dilengkapi sapu tangan atau\u00a0lenso.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tarian Adat<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cakalele merupakan tarian adat. Tarian ini diadakan sebagai rangkaian pesta adat sebelum para pria Maluku mengarungi lautan untuk pergi berperang atau mencari nafkah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat tarian dilakukan, kadang ada penari yang kerasukan roh. Oleh sebab itu, tarian ini disebut cakalele. Cakalele dalam bahasa Ternate terdiri dua kata caka\u00a0artinya roh, dan lele\u00a0artinya mengamuk. Sehingga cakalele\u00a0berarti roh yang mengamuk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konon, dalam perang sesungguhnya, para penari yang sudah kerasukan roh akan berteriak-teriak\u00a0 mengeluarkan kata-kata Aulee&#8230; Aulee&#8230;\u00a0yang berarti banjir darah!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cakalele Sekarang<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tarian untuk perang? Itu zaman dulu! Sekarang semua sudah dalam keadaan tenang dan damai. Akan tetapi, tarian perang cakalele tetap hidup menjadi tradisi khas Maluku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pak Klion Silulu, seorang penari cakalele di Desa Kedi, Kecamatan Loloda, Kabupaten Halmahera Barat, menjelaskan&#8230; katanya, sekarang tarian cakalele itu ada 3 macam. Cakalele untuk menyambut tamu, cakalele untuk upacara adat, dan cakalele untuk perang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>kidnesia.com\/Image <span class=\"_r3\"><span class=\"irc_ho\" dir=\"ltr\">indonesia-tourism.com<\/span><\/span><br \/>\n<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tari Cakalele\u00a0adalah tarian tradisional khas daerah Maluku. Dalam ritual adat,\u00a0tari cakalele\u00a0biasanya dibawakan oleh 30 penari pria dan wanita secara berpasangan. Kostum Penari pria mengenakan pakaian adat warna merah. Warna merah&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":6994,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,134],"tags":[],"class_list":["post-6993","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kabupaten-halmahera-barat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6993","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6993"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6993\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6993"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6993"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6993"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}