{"id":7020,"date":"2016-12-21T09:41:00","date_gmt":"2016-12-21T02:41:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=7020"},"modified":"2016-12-21T09:41:00","modified_gmt":"2016-12-21T02:41:00","slug":"makan-bajamba-di-kota-bukittinggi-untuk-melestarikan-budaya-tradisional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/makan-bajamba-di-kota-bukittinggi-untuk-melestarikan-budaya-tradisional\/","title":{"rendered":"Makan Bajamba di Kota Bukittinggi Untuk Melestarikan Budaya Tradisional"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Ribuan peserta mengikuti prosesi makan bajamba yang dilaksanakan Pemerintah Kota Bukittinggi di pelataran jam gadang, kegiatan yang merupakan rangkaian peringatan hari jadi kota ke 232 itu berlangsung meriah, walaupun sempat diguyur hujan gerimis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bukittinggi Melfi Abra mengatakan, 300 jamba disediakan dalam prosesi makan bajamba ini, 240 jamba dari 24 kelurahan, ditambah 60 jamba dari pihak perbankan, swasta, BUMN, BUMD, dan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDalam satu jamba terdapat 6 menu lauk pauk yang keseluruhannya merupakan menu khas di Kurai Limo Jorong atau penduduk asli Bukittinggi, yang tradisi nya telah ada semenjak nenek moyang dahulu, yang diterima secara turun temurun sampai sekarang,\u201d jelasnya, Selasa (20\/12\/2016).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Melfi Abra, jamba dari 24 Kelurahan dananya disiapkan pemerintah kota bukittinggi, untuk satu jamba dibantu dana 250 ribu rupiah, sedangkan dari pihak luar dibiayai secara pribadi, sumbangan dari pihak hotel, BUMN, dan BUMD.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKegiatan makan bajamba ini diadakan dengan tujuan menjaga tradisi budaya asli minangkabau, sekaligus ajang untuk memperkenalkan tradisi itu pada wisatawan yang berkunjung, dan diharapkan kedepan penyelenggaraannya lebih baik lagi,\u201d tukasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu Wali Kota Bukittinggi M. Ramlan Nurmatias menuturkan, <span lang=\"EN-US\">makan bajamba diadakan <\/span>Pemerintah Kota Bukittinggi<span lang=\"EN-US\"> untuk melestarikan budaya<\/span> tradisional, <span lang=\"EN-US\">serta untuk menciptakan rasa kebersamaan dan <\/span>keakraban antara Pemko Bukittinggi dan masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBiasanya prosesi makan bajamba diadakan Pemerintah Kota Bukittinggi pada tanggal 22 Desember bertepatan dengan Hari Jadi Kota (HJK), setelah berlangsung nya rapat istimewa DPRD, namun tahun ini dimajukan pelaksanaannya, dengan tujuan lebih meriah dan masyarakat dapat menikmati jamba yang tersedia dengan waktu yang lebih lama,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut M. Ramlan Nurmatias, masyarakat sangat antusias mengikuti prosesi makan bajamba ini, hal itu menandakan adat istiadat Bukittinggi masih dijaga terus keberadaannya hingga sekarang, karena warisan nenek moyang ini memang harus kita lestarikan bersama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>rri.co.id\/Image netralnews.com<br \/>\n<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ribuan peserta mengikuti prosesi makan bajamba yang dilaksanakan Pemerintah Kota Bukittinggi di pelataran jam gadang, kegiatan yang merupakan rangkaian peringatan hari jadi kota ke 232 itu berlangsung meriah, walaupun sempat&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":7021,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,109],"tags":[],"class_list":["post-7020","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-bukittinggi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7020","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7020"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7020\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7020"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7020"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7020"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}