{"id":7028,"date":"2016-12-23T14:05:33","date_gmt":"2016-12-23T07:05:33","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=7028"},"modified":"2016-12-23T14:05:33","modified_gmt":"2016-12-23T07:05:33","slug":"sejarah-di-balik-benteng-sorawolio-yang-eksotis-kota-baubau","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/sejarah-di-balik-benteng-sorawolio-yang-eksotis-kota-baubau\/","title":{"rendered":"Sejarah di Balik Benteng Sorawolio Yang Eksotis Kota Baubau"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Bila\u00a0 menuju ke Kelurahan Bukit Wolio Indah, Kecamatan Wolio, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, maka kamu akan menemukan dua benteng kecil yang berdiri dengan tegak dan kokoh.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kedua benteng tersebut jaraknya tidak terlalu berjauhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi masyarakat Kota Baubau, kedua benteng tersebut dinamakan Benteng Sorawolio yang sama-sama terbuat dari batu karang dengan perekatnya menggunakan putih telur ayam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kedua benteng tersebut ukurannya tidak teralu besar, mempunyai ketebalan sekitar satu meter dengan tinggi benteng tersebut mencapai sekitar 6-7 meter.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seorang penjaga benteng, La Ade (50), mengatakan, kedua Benteng Sorawolio ini dibuat pada masa Sultan Buton XIX yakni Sultan Sakiyuddin Darul Alam pada tahun 1712-1750.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Benteng tersebut berfungsi sebagai benteng pertahanan dari serangan Belanda dan juga perampok.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDahulu ada yang tinggal di dalam benteng ini, namun sekarang sudah tidak lagi. Di dalam benteng terdapat kuburan yang sudah lama ada,\u201d kata La Ade.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di dalam kedua benteng terdapat tanah yang datar dengan ukuran yang tidak terlalu luas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun ada beberapa bagian dinding di Benteng Sorawolio kedua tersebut mengalami kerusakan akibat pohon yang hidup di atas benteng.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPernah suatu hari ketika saya lagi pergi ke daerah benteng, tiba-tiba saya melihat sosok yang besar tinggi dan hitam. Kemudian sosok tersebut mengangkat badan saya langsung dibuang dan dibanting di tanah,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Memang, keberadaan pohon tua dengan batu benteng yang sudah dimakan usia menimbulkan daya magnet yang kuat serta penuh misteri terhadap benteng tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Walaupun demikian, lanjut La Ade, benteng tersebut tetap dikunjungi warga yang ingin melihat benteng dari dalam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jarak kedua benteng tersebut sekitar 1 kilometer dari benteng utama Keraton Kesultanan Buton.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDulu ada masjid di dalam benteng ini. Karena dimakan usia, sekarang hanya sekarang hanya menyisakan batu tempat pijakan masjid saja,\u201d ucap La Ade.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Kompas.com<br \/>\n<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bila\u00a0 menuju ke Kelurahan Bukit Wolio Indah, Kecamatan Wolio, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, maka kamu akan menemukan dua benteng kecil yang berdiri dengan tegak dan kokoh. Kedua benteng tersebut jaraknya&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":7029,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,95],"tags":[],"class_list":["post-7028","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-bau-bau"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7028","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7028"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7028\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7028"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7028"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7028"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}