{"id":7098,"date":"2017-01-23T13:09:51","date_gmt":"2017-01-23T06:09:51","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=7098"},"modified":"2017-01-23T13:09:51","modified_gmt":"2017-01-23T06:09:51","slug":"solo-imlek-festival-2017-kian-meriah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/solo-imlek-festival-2017-kian-meriah\/","title":{"rendered":"Solo Imlek Festival 2017, Kian Meriah"},"content":{"rendered":"<p><strong>SOLO \u2014<\/strong> Solo Imlek Festival 2017\u00a0 semakin meriah dengan adanya Solo Imlek Fair yang digelar di lantai dua pasar buah Pasar Gede pada Minggu-Jumat (22-27\/1\/2017).<\/p>\n<p>Acara ini disemarakkan dengan adanya stan kuliner, <em>handicraft<\/em>, batik <em>fashion show<\/em>, panggung hiburan hingga barongsai, dan <em>shufa<\/em>. Setidaknya ada 70 stan makanan khas Imlek yang siap memanjakan lidah para pengunjung.<\/p>\n<p>Solo Imlek Fair ini dibuka mulai pukul 10.00 WIB hingga 21.00 WIB. Perayaan ini melibatkan sejumlah pedagang di Pasar Gede. Selain itu, puluhan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) juga diikutkan untuk membuat pernak-pernik Imlek yang bisa dijadikan buah tangan.<\/p>\n<p>\u201cSolo Imlek Festival 2017 ini kami menggandeng berbagai pihak karena Imlek ini milik masyarakat Solo. Kami ingin perayaan ini bisa memberikan efek positif ke sejumlah sektor mulai dari pariwisata hingga sosial ekonomi,\u201d ujar Ketua Panitia Solo Imlek Festival 2017, Sumartono Hadinoto, dalam jumpa pers di Gedung Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS).<\/p>\n<p>Sumartono menambahkan belasan <em>event<\/em> disiapkan untuk membuat Solo Imlek Festival 2017 kali ini kian ramai. Terlebih tahun ini SIF terintegrasi dengan acara lain yang ada di Kota Solo.<\/p>\n<p>Antara lain, Solo Great Sale dan Gerebeg Sudiro yang merupakan <em>event<\/em> budaya rutin yang sudah ditetapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo sebagai agenda pariwisata Kota Solo.<\/p>\n<p><strong>Gapura Imlek<\/strong><\/p>\n<p>Tak lupa pula adanya gapura Imlek dan 5.000 lampion yang dipasang di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Urip Sumoharjo.<\/p>\n<p>Sedangkan lampion 12 shio, neon box 12 shio, lima shio ayam, dan Dewa Rejeki, dipasang dan dihidupkan pada Jumat (20\/1).<\/p>\n<p>\u201cTahun ini jumlah lampion diperbanyak hingga 5.000 buah dan dipasang sampai bundaran Gladag. Sebelumnya satu sampai dua hari kita akan uji coba dinyalakan terlebih dulu,\u201d imbuh Penanggung Jawab Lampion, Hendra.<\/p>\n<p>Di samping itu, akan ada pesta kembang api di Balaikota Solo, Jumat (27\/1). Sementara untuk perayaan Imlek bersama Pemkot di Pendapi Gede Balaikota Solo, 11 Februari.<\/p>\n<p>Begitu pula dengan kirab barongsai dan liong keliling Solo pada Cap Go Meh di hari yang sama. Tahun ini SIF juga siap memecahkan rekor Muri, yakni menulis kaligrafi aksara Jawa terpanjang 500 meter di Solo Paragon Mall, 5 Februari.<\/p>\n<p>Sementara itu, SIF juga menggandeng Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Solo yang menawarkan Imlek Tour berupa tiga paket wisata. Paket yang dijual dengan harga mulai Rp2,8 juta ini akan membawa wisatawan ikut menjadi bagian meriahkan perayaan Imlek di Kota Solo.<\/p>\n<p>\u201cIni melibatkan semua pihak mulai dari maskapai penerbangan, hotel, sampai travel agent. Kami ingin lebih menjual<em> event <\/em>ini ke masyarakat luas dan menunjukkan Imlek Solo punya ciri khas yang berbeda dengan daerah lain,\u201d jelas Presiden IMA Chapter Solo, Retno Wulandari.<strong><em>\u00a0<\/em><\/strong><\/p>\n<p><em>solopos.com\/Image timlo.net<br \/>\n<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SOLO \u2014 Solo Imlek Festival 2017\u00a0 semakin meriah dengan adanya Solo Imlek Fair yang digelar di lantai dua pasar buah Pasar Gede pada Minggu-Jumat (22-27\/1\/2017). Acara ini disemarakkan dengan adanya&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":7099,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,72],"tags":[],"class_list":["post-7098","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-surakarta"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7098","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7098"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7098\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7098"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7098"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7098"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}