{"id":7105,"date":"2017-01-25T11:09:28","date_gmt":"2017-01-25T04:09:28","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=7105"},"modified":"2017-01-25T11:09:28","modified_gmt":"2017-01-25T04:09:28","slug":"festival-cap-go-meh-2017-di-singkawang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/festival-cap-go-meh-2017-di-singkawang\/","title":{"rendered":"Festival Cap Go Meh 2017 di Singkawang"},"content":{"rendered":"<p>Cap Go Meh melambangkan hari kelima belas setelah berakhirnya perayaan Tahun Baru Imlek. Kata Cap Go Meh sendiri berasal dari dialek <em>Tiociu<\/em> atau Hokkien, yaitu <em>Cap Go<\/em>\u00a0yang berarti lima belas dan <em>Meh<\/em>\u00a0yang artinya malam. Sehingga Cap Go Meh dapat diartikan sebagai malam kelima belas.<\/p>\n<p>Sedangkan dalam dialek <em>Hakka<\/em> disebut <em>Cang Nyiat Pan<\/em> yaitu <em>Cang Nyiat<\/em> adalah bulan satu dan <em>Pan<\/em>\u00a0artinya pertengahan, sehingga berarti pertengahan bulan satu. Sementara itu, perayaan Cap Go Meh dalam bahasa Mandarin disebut <em>Yuan Shiau Ciek<\/em> yang artinya festival malam bulan satu dan lebih dikenal sebagai <em>Lantern Festival<\/em>.<\/p>\n<p>Di Indonesia perayaan Cap Go Meh 2017 diisi dengan berbagai festival yang salah satu yang paling meriah ada Festival\u00a0Cap Go Meh 2017 di Singkawang.<\/p>\n<p><strong>Sekilas tentang Festival Cap Go Meh di Singkawang<\/strong><\/p>\n<p>Festival Cap Go Meh di Singkawang memang selalu dirayakan dengan meriah dengan menggelar festival dan atraksi unik.<\/p>\n<p>Dalam perayaan ini akan ada pawai Tatung yang diyakini mampu mengusir roh-roh jahat dari seluruh penjuru kota.<\/p>\n<p>Tak hanya itu akan ada juga atraksi mendebarkan yang dilakukan para Tatung atau orang yang dirasuki roh dewa atau leluhur yang menusuk tubuhnya dengan benda tajam.<\/p>\n<p>Sepanjang jalan para Tatung melakukan aksi ekstrem. Para Tatung hadir dari berbagai etnis, seperti etnis Tionghoa, Dayak, dan Melayu.<\/p>\n<p>Para Tatung duduk di atas tandu dan berjalan diiringi tabuhan tambur dan gong serta wewangian dari dupa. Ada juga yang menyebarkan kertas dan beras, atau menyipratkan air.<\/p>\n<p>Tingkah tiap Tatung di atas tandunya pun tak sama. Ada yang duduk santai, namun kakinya menginjak bilah pedang yang diletakkan di tandunya.<\/p>\n<p>Ada juga Tatung yang berdiri di atas tandu sambil menginjak tombak, duduk di atas pedang, menancapkan besi tajam menembus kedua pipinya, sampai menusukkan pedang ke perutnya.<\/p>\n<p>Tatung-tatung dari Dayak adalah salah satu yang paling ekstrem. Sambil pawai, beberapa Tatung menggoreskan golok besar di bagian tubuhnya, seperti tangan dan lidah.<\/p>\n<p>Beberapa Tatung terlihat turun dari atas tandunya. Bersama rombongan arak-arakkan tatung-tatung berjalan terhuyung-huyung, namun tatapannya sangat tajam. Sesekali para Tatung terlihat seperti sedang bertarung sampai membuat para penonton mundur dari barisannya.<\/p>\n<p><strong>Jadwal Perayaan Cap Go Meh di Singkawang<\/strong><\/p>\n<p>Tahun ini perayaan Cap Go Meh di Kota Pontianak akan diisi dengan beragam acara yang meriah. Berdasarkan Surat Rekomendasi Nomor 556\/02\/I\/DISPORAPAR, Tanggal 11 Januari 2017 yang dikeluarkan oleh Walikota Pontianak Sutarmidji. Berikut jadwal Festival Cap Go Meh di Singkawang tahun 2017 :<\/p>\n<p>Festival Cap Go Meh akan dilaksanakan tanggal 7 \u2013 12 Februari 2017 di Pontianak, tepatnya di Jl. Diponegoro, Darat Sekip, Pontianak Kota, Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243<\/p>\n<p><strong>7-12 Februari 2017<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Festival Kuliner vaganza<\/li>\n<li><em>Chinese Ghost House \u201cThe Forbidden City\u201d<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>8 Februari 2017<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Lomba Karaoke Mandarin<\/li>\n<li>Pesta Rakyat<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>9 Februari 2017<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Prosesi Ritual \u201cNaga Buka Mata\u201d<\/li>\n<li>Karnaval kostum Cap Go Meh 2017<\/li>\n<li>Festival Barongsai Mandiri<\/li>\n<li>Malam adu Bakat Finalis Gege Meimei<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>10 Februari 2017<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Grand Final Pemilihan Gege Meimei 2017<\/li>\n<li>Pawai Naga dan Barongsai<\/li>\n<li>Karnaval Kostum Cap Go Meh<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>11 Februari 2017<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Pawai Cap Go Meh 2568 : Jam 12.00 \u2013 15.00<\/li>\n<li>Pawai \u201cNaga Bersinar\u201d CGM : Jam 19.00 \u2013 21.00<\/li>\n<li>Naga 7 Tim<\/li>\n<li>Barongsai<\/li>\n<li>Parade Karnaval Kostum<\/li>\n<li>Parade Mobil Hias<\/li>\n<li><em>Marching Band<\/em><\/li>\n<li><em>Gege Meimei Lantern Parade<\/em><\/li>\n<li>Pawai Lampion 3 Etnis<\/li>\n<li>Perwati<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>12 Februari 2017<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Prosesi Ritual Pembakaran Naga<\/li>\n<li>Pesta Rakyat<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Persembahan lainnya dalam Festival Cap Go Meh 2017<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Kuliner Nusantara<\/li>\n<li>Beragam penampilan tari dan musik<\/li>\n<li>Beragam <em>games<\/em> dan <em>souvenir<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p><em>reservasi.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cap Go Meh melambangkan hari kelima belas setelah berakhirnya perayaan Tahun Baru Imlek. Kata Cap Go Meh sendiri berasal dari dialek Tiociu atau Hokkien, yaitu Cap Go\u00a0yang berarti lima belas&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":7107,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,98],"tags":[],"class_list":["post-7105","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-singkawang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7105","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7105"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7105\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7105"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7105"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7105"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}