{"id":7288,"date":"2017-02-17T11:11:31","date_gmt":"2017-02-17T04:11:31","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=7288"},"modified":"2017-02-17T11:11:31","modified_gmt":"2017-02-17T04:11:31","slug":"agoes-djajasoeminta-warna-biru-dan-merah-memberi-nuansa-magis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/agoes-djajasoeminta-warna-biru-dan-merah-memberi-nuansa-magis\/","title":{"rendered":"Agoes Djajasoeminta Warna Biru dan Merah Memberi Nuansa Magis"},"content":{"rendered":"<p>Nama \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 : Raden Agoes Djajasoeminta<\/p>\n<p>Lahir \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0:Pandeglang, Banten, 1 April 1913<\/p>\n<p>Wafat \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 : Bogor, Jawa Barat, 24 April 1994<\/p>\n<p>Pendidikan :<\/p>\n<ul>\n<li>\u00b7\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 HIS (1926),<\/li>\n<li>\u00b7\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 MULO (1930),<\/li>\n<li>\u00b7\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 MLS (Sekolah Menengah Pertanian, tidak tamat),<\/li>\n<li>\u00b7\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 HIK (1934),<\/li>\n<li>\u00b7\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Akademi Seni Rupa Amsterdam Belanda<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Aktifitas Lain :<\/p>\n<ul>\n<li>\u00b7\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Pendiri dan Ketua Persagi, (193t-1942),<\/li>\n<li>\u00b7\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Kepala Sekolah,<\/li>\n<li>\u00b7\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Ketua Pusat Kebudayaan Bagian Senirupa (1942-1945)<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pelopor pelukis dari tiga zaman ini dilahirkan\u00a0 di Pandeglang, Banten, 1 April 1913.\u00a0 Di zaman pendudukan Jepang, ia direkomendasikan oleh Bung Karno untuk menjadi Ketua Pusat Kebudayaan Bagian Senirupa (1942-1945). Pada zaman\u00a0 revolusi kemerdekaan ia aktif sebagai Kolonel Intel dan F.P (Persiapan Lapangan). Namun setelah kemerdekaan ia kembali aktif ke dunia senirupa.<\/p>\n<p>Ada suasana magis terpancar dari warna biru dan merah Agus Djaya. Sosok-sosok penari yang tampil dalam lukisannya merupakan penampilan suasana ritual dari masyarakat yang ma\u00edsih sangat dekat dengan alam. Warna biru dan merahnya seperti sudah menemukan karakter tersendiri, sehingga merupakan idiom yang khas dari Agus. Dunia pewayangan rupanya amat menarik hati pelukis kelahiran Pandeglang, Banten ini. Dalam kanvas-kanvasnya, apabila Agus mengerjakan obyek wayang, terasa ada kekayaan.<\/p>\n<p>Kadang-kadang sambil bergurau, Agus menertawakan dirinya yang bekerja seni untuk seni, dengan mengorbankan karir sebagai calon jenderal. April 1976 ia berpameran tunggal di TIM, Jakarta. Yang pertama kali setelah absen berpameran tunggal selama 40 tahun. Lebih dari 70 buah lukisan dipajangnya. Tampak percobaan untuk beranjak dari seni-sosok menuju lukisan-lukisan yang sifatnya abstrak, atau semi-abstrak. Ia mencita-citakan lahirnya corak seni-lukis Indonesia yang khas. Bukan perbedaan-perbedaan bentuk, katanya, akan tetapi sari. Tetapi lebih penting dari itu adalah corak pribadi, tutor mantan tentara dengan 11 tanda jasa ini, ia lalu menyebut nama Affandi sebagai yang sudah punya corak kepribadian.<\/p>\n<p>Sering berpameran baik itu di dalam maupun di luar negeri, didalam negeri seperti di Taman Ismail Marzuki, Balai Budaya, Museum Pusat, Mitra Budaya, Lembaga Indonesia (LIA), Oet\u2019s fine art gallery, dll. Sedangkan pamerannya di luar negeri seperti di Stedelijk Museum Amsterdam, Galerie Barbison Paris, Grand Prix des Beaux Art Monaco, Biennale Sao Paolo Brazil, International Art Gallery Sydney dll. Ia berharap generasi muda Indonesia mampu memenuhi museum-museum yang penuh dengan koleksi senilukis sebagai ciri dari mutu seni budayanya sendiri.<\/p>\n<p><em>zirakarisma.blogspot.co.id\/Image berbagai sumber<br \/>\n<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nama \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 : Raden Agoes Djajasoeminta Lahir \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0:Pandeglang, Banten, 1 April 1913 Wafat \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 : Bogor, Jawa Barat, 24 April&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":7289,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76],"tags":[],"class_list":["post-7288","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7288","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7288"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7288\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7288"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7288"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7288"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}