{"id":7304,"date":"2017-02-23T13:38:01","date_gmt":"2017-02-23T06:38:01","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=7304"},"modified":"2017-02-23T13:38:01","modified_gmt":"2017-02-23T06:38:01","slug":"kesenian-bundengan-tarik-minat-wisatawan-asing","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/kesenian-bundengan-tarik-minat-wisatawan-asing\/","title":{"rendered":"Kesenian Bundengan Tarik Minat Wisatawan Asing"},"content":{"rendered":"<p>Semarang : Bundengan atau dikenal juga dengan Koangan, seni musik unik khas Wonosobo kian menarik banyak kalangan. Kesenian yang mengandalkan sebuah alat musik berbentuk seperti serangga sawah tersebut, bahkan mampu membuat sejumlah wisatawan asal Australia berminat untuk melakukan penelitian lebih mendalam.<\/p>\n<p>Mulyani, seniwati yang juga guru tari di SMP 2 Selomerto \u00a0mengungkap perihal adanya minat turis asing asal Australia tersebut, seusai bertemu dengan Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo, Bambang Sutejo.<\/p>\n<p>\u201cSeni musik Bundengan ini tengah menjadi bahan penelitian salah satu dosen Monash University Australia, karena dinilai memiliki keunikan tersendiri dibanding alat musik lain,\u201d jelas Mulyani.<\/p>\n<p>Mulyani mengaku pihaknya tengah merancang sebuah acara workshop Seni Bundengan, yang bakal melibatkan tak kurang dari 100 pelajar SD. Dalam acara yang rencananya digelar di kawasan Pendopo Kabupaten pada pertengahan Maret mendatang itulah, ia berusaha menunjukan, bahwa alat musik yang awalnya hanya digunakan oleh penggembala itik untuk mengisi waktu luang tersebut, mampu mengiringi beragam jenis lagu.<\/p>\n<p>\u201cNantinya selama dua hari, akan kami gelar pelatihan memainkan Bundengan bagi 100 pelajar Sekolah Dasar, dan dilanjutkan dengan pertunjukan musik mengiringi tarian,\u201d lanjutnya.<\/p>\n<p>Demi suksesnya gelaran tersebut, Mulyani mengaku ia membutuhkan dukungan banyak pihak, termasuk salah satunya dari Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Wonosobo.<\/p>\n<p>Menanggapi adanya inisiatif untuk menggelar workshop Bundengan bagi para pelajar tersebut, Kabid Informasi dan Komunikasi, Bambang Sutejo mengaku sangat apresiatif dan mendukung penuh.<\/p>\n<p>\u201cKami di Diskominfo memiliki program forum komunikasi media tradisional (FK Mitra), dan memang seni Bundengan ini layak masuk sebagai salah satu media seni tradisional untuk menyosialisasikan berbagai program pemerintah daerah,\u201d ungkap Bambang.<\/p>\n<p>Bundengan, menurut Bambang memiliki sejarah dan makna mendalam terkait bagaimana karakter seseorang bisa dibentuk. Nilai filosofis yang terkandung \u00a0dari alat musik Bundengan, yang berbentuk sederhana namun mampu menghasilkan harmonisasi nada, diakui Bambang juga sudah sepatutnya dipahami, khsususnya oleh generasi muda sekarang.<\/p>\n<p>\u201cMempelajari seni Bundengan atau koangan ini saya yakini akan bisa menjadi salah satu media untuk membentuk karakter anak, khususnya dalam hal tanggung jawab,\u201d tandasnya.<\/p>\n<p>Ke depan, Bambang juga menegaskan bahwa pihaknya akan berupaya untuk mengangkat Bundengan ke berbagai acara resmi, sehingga dikenal lebih luas sebagai salah satu jenis kesenian asli Wonosobo.<\/p>\n<p>\u201cKalau memungkinkan bahkan saya akan berusaha agar ada paten terhadap kesenian ini sebagai seni asli Wonosobo, sehingga tidak diakui oleh daerah lain,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p><em>rri.co.id\/Image dkdwonosobo.wordpress.com<br \/>\n<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Semarang : Bundengan atau dikenal juga dengan Koangan, seni musik unik khas Wonosobo kian menarik banyak kalangan. Kesenian yang mengandalkan sebuah alat musik berbentuk seperti serangga sawah tersebut, bahkan mampu&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":7305,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,97],"tags":[],"class_list":["post-7304","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-semarang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7304","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7304"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7304\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7304"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7304"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7304"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}