{"id":7563,"date":"2017-05-05T15:36:40","date_gmt":"2017-05-05T08:36:40","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=7563"},"modified":"2017-05-05T15:36:40","modified_gmt":"2017-05-05T08:36:40","slug":"kota-lama-semarang-jalur-rempah-nusantara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/kota-lama-semarang-jalur-rempah-nusantara\/","title":{"rendered":"Kota Lama Semarang Jalur Rempah Nusantara"},"content":{"rendered":"<p><strong>KOTA<\/strong> Lama Semarang bakal disulap lebih meriah dan lebih bersahabat kepada para pengunjung. Pemerintah Kota Semarang menggandeng sejumlah <em>stakeholder<\/em> terkait untuk mengembangkan kawasan peninggalan Kolonial Belanda tersebut.<\/p>\n<p>Pemerintah pusat pun turun tangan untuk membantu pengembangan Kota Lama. Rencananya, pada 5 Mei 2017, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menunjuk Kota Lama menjadi tuan rumah <em>Focus Group Discussion<\/em> (FGD) \u201dJalur Rempah Nusantara.\u201d Gelaran akbar tersebut bakal diikuti tiga kota lain yang saat ini masuk dalam daftar sementara Warisan Budaya Dunia versi UNESCO. Yakni, DKI Jakarta, Surabaya, dan Pulau Banda Maluku.<\/p>\n<p>\u201dItu juga untuk penyusunan <em>Dossiers<\/em> (penyusunan dokumen registrasi, Red). Jadi, memang harus paralel dengan semua pihak terkait,\u201d kata Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu kepada <em>Jawa Pos Radar Semarang<\/em>.<\/p>\n<p>Menurut Mbak Ita\u2014sapaan akrab wawali\u2014 Kota Lama tercatat menjadi jalur rempah nusantara, karena sejak dulu Indonesia dikenal sebagai penghasil rempah-rempah berkualitas. Dari penghasil rempah itulah, Indonesia menempati posisi penting di dunia sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dunia. \u201dIni menjadi magnet Kota Lama yang terus digali,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Anggota Tim Percepatan Belanja dan Kuliner Kementerian Pariwisata, Tendi Naim menjelaskan, penunjukan sebagai tuan rumah Jalur Rempah Nusantara ini merupakan momentum kebangkitan Kota Lama. Rencananya, Kota Lama bakal mengangkat tema perdagangan gula. Sebab, di Semarang pernah ditinggali Raja Gula, Oei Tiong Ham. Salah satu kantornya pun ada di Kawasan Kota Lama.<\/p>\n<p>\u201dSelain itu, Kota Semarang juga menyimpan banyak sejarah. Kabarnya kereta api pertama ada di Semarang. Pelabuhan juga. Masih ada menara pandang syahbandar yang kini digunakan untuk kantor PGN (Perusahaan Gas Negara),\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Dalam perhelatan Jalur Rempah Nusantara itu, rencananya juga membahas agar empat kota daftar <em>tentative<\/em> UNESCO untuk ditetapkan menjadi daftar tetap warisan budaya dunia. Sebab, jika dilakukan sendiri-sendiri, justru akan sulit. Selain biayanya menjadi mahal, pegumpulan dokumen pun banyak yang mengalami kendala.<\/p>\n<p>\u201dDokumennya terpencar-pencar. Nanti akan kami bantu mencarinya di kementerian. Semoga saja semua bisa diakui di mata internasional sebagai destinasi wisata warisan dunia,\u201d harapnya.<\/p>\n<p>Mbak Ita menambahkan, nyaris semua dokumen Kota Lama berada di Kemendikbud. Pihaknya pun sudah coba jemput bola dengan melayangkan surat ke Kemendikbud. Sayang, surat tersebut belum dibalas.<\/p>\n<p>Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) ini bercerita, beberapa waktu lalu pihaknya terbang ke UNESCO di Paris Prancis untuk memastikan kebenaran Kota Lama masuk daftar sementara Warisan Budaya Dunia. \u201dTernyata benar, tapi hanya sampai 2019 saja. Jadi kami harus cepat mengurusnya agar segera ditetapkan oleh UNESCO,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Banyak hal dan tahapan yang menjadi pekerjaan rumah (PR) Pemkot Semarang untuk mengegolkan agar Kota Lama Semarang sebagai Kota Pusaka bisa diakui UNESCO.<\/p>\n<p>Menurut Mbak Ita \u2013sapaan akrab wawali, itu bukan pekerjaan mudah. Dia mencontohkan Kota Tua DKI Jakarta yang juga masih berjuang di UNESCO. \u201dKatanya Kota Tua Jakarta sedang di-<em>drop<\/em> karena dokumennya kurang, yakni peta kawasan. Memang komunikasi dengan kementerian harus intens agar bisa segera beres,\u201d terangnya.<\/p>\n<p><em>radarsemarang.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KOTA Lama Semarang bakal disulap lebih meriah dan lebih bersahabat kepada para pengunjung. Pemerintah Kota Semarang menggandeng sejumlah stakeholder terkait untuk mengembangkan kawasan peninggalan Kolonial Belanda tersebut. Pemerintah pusat pun&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":7564,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,97],"tags":[],"class_list":["post-7563","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-kota-semarang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7563","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7563"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7563\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7563"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7563"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7563"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}