{"id":781,"date":"2011-02-07T02:34:22","date_gmt":"2011-02-06T19:34:22","guid":{"rendered":"http:\/\/www.vs-virtualservices.com\/?p=17"},"modified":"2011-02-07T02:34:22","modified_gmt":"2011-02-06T19:34:22","slug":"berita-1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/berita-1\/","title":{"rendered":"Kontroversi Bangunan Saripetojo di Solo"},"content":{"rendered":"<p><strong><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone\" title=\"gbr 1\" src=\"https:\/\/indonesia-heritage.net\/wp-content\/uploads\/2011\/07\/IMG_6.JPG\" alt=\"\" width=\"580\" height=\"387\" \/>Kontroversi Bangunan Saripetojo di Solo<\/strong><\/p>\n<p>Beberapa hari ini kontroversi bangunan bekas Pabrik Es Saripetojo <strong><img decoding=\"async\" class=\"alignright\" title=\"gbr 1\" src=\"..\/wp-content\/uploads\/2011\/07\/IMG_4.JPG\" alt=\"\" width=\"281\" height=\"187\" \/><\/strong>di kota solo menjadi headline media di Indonesia. Dimulai dari perseteruan antara dua pimpinan daerah sampai dengan gugatan masyarakat terhadap keinginan investor untuk mengubah fungsi dan bentuk dari keberadaan bangunan pabrik es saripetojo ini.<\/p>\n<p>Akar permasalahan dari bangunan Pabrik Es Saripetojo ini bermula keinginan investor untuk berinvestasi di Kota Solo. Investor mau menjadikan kawasan ini pusat pembelanjaan\/Mall. Maka investor mengajak pemilik bangunan untuk bekerjasama, pemilik dari bangunan ini adalah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. \u00a0Gayungpun bersambut, pemerintah Provinsi Jawa tengah sebagai pemilik gedung sepakat<strong><img decoding=\"async\" class=\"alignright\" title=\"gbr 1\" src=\"..\/wp-content\/uploads\/2011\/07\/IMG_1.JPG\" alt=\"\" width=\"281\" height=\"187\" \/><\/strong> dengan kerjasama ini.<strong> <\/strong><strong> <\/strong><\/p>\n<p>Dengan mengantongi kesepakatan dan dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, investor mengajukan perijinan ke Pemerintah Kota Solo. Disinilah mulai berawal kontroversi dimulai. Investor belum mempunyai ijin amdal dan IMB , tetapi bangunan sudah dirobohkan. Hampir 60% dari kawasan ini sudah digempur, terlihat dinding dan atap dari <strong> <\/strong>pabrik es sudah hancur. Melihat kasus ini masyarakat\/LSM pelestarian di Kota Solo mengadukan ke polisi atas tuduhan merusak Benda Cagar Budaya. Polisipun bertindak dan saat ini masih menjaga kawasan tersebut.<\/p>\n<p>Polemikpun berkembang, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah <strong><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignright\" title=\"gbr 1\" src=\"..\/wp-content\/uploads\/2011\/07\/IMG_2.JPG\" alt=\"\" width=\"281\" height=\"187\" \/><\/strong>membentuk <strong><\/strong>tim ahli indipenden untuk mengkaji apakah bangunan ini masuk BCB atau tidak. Tim yang dibentuk terdiri dari bebera<strong> <\/strong>pa pakar dari Undip Semarang, UGM Yogyakarta dan ahli sejarah dari Kota Solo. Ditengah perjalanan anggota tim indipenden ini berbeda pendapat dan <strong> <\/strong><strong><\/strong>akhirnya anggota tim dari Kota Solo mengundurkan diri.<\/p>\n<p>Walikota Solo juga akhirnya membentuk tim ahli sesuai yang diamanatkan oleh UU No. 11\/2010 tentang Cagar Budaya pasal 33 yang menyatakan bahwa Bupati\/Walikota berwenang mengeluarkan\u00a0 penetapan status benda cagar budaya setelah direkomendasi oleh tim ahli cagar budaya yang menyatakan benda, bangunan,<strong><\/strong> <strong><\/strong><strong><\/strong><strong><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignright\" title=\"gbr 1\" src=\"..\/wp-content\/uploads\/2011\/07\/IMG_3.JPG\" alt=\"\" width=\"281\" height=\"187\" \/><\/strong>struktur, lokasi<strong><\/strong><strong><\/strong> <strong><\/strong>dan<strong><\/strong>\/atau<strong><\/strong> satuan ruang georafis yang didaftarkan layak sebagai benda<strong><\/strong> cag<strong><\/strong>ar budaya. Dengan harapan\u00a0 dibentuknya tim ini akan dapat melahirkan \u00a0se<strong><\/strong>b<strong><\/strong>uah produk yang dapat menyelesaikan per<strong><\/strong>masalah<strong><\/strong>an ini serta kedepan menjadi pijakan bagi kota Solo ataupu<strong><\/strong>n daerah lain untuk melangkah bila berhadapan dengan permasalahan Benda Cagar Budaya.<\/p>\n<p>Sedangkan informasi\u00a0 terakhir dari tim indipen bentukan Pemerintah Provinsi Jawa tengah, \u201cGubernur Jawa Tengah menyatakan bahwa Gubernur akan ikuti peraturan yang berlaku\u201d, semoga <strong><\/strong>dengan meredanya polemic ini dan keduabelah pihak mampu duduk bersama dalam mencari solusi permasalahan ini menja<strong><\/strong>di preseden bai kita bersama bila <strong><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignright\" title=\"gbr 1\" src=\"..\/wp-content\/uploads\/2011\/07\/IMG_5.JPG\" alt=\"\" width=\"281\" height=\"187\" \/><\/strong>b<strong><\/strong>erbenturan selalu mengacu kepada peraturan dan UU. Dan ini juga jadi momentum bagi daerah-daerah lainnya <strong><\/strong>bahwa menghancurkan BCB akan berhadapan dengan UU Cagar Budaya.\u00a0 &#8211; NNg<strong><\/strong><strong><\/strong><strong><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kontroversi Bangunan Saripetojo di Solo Beberapa hari ini kontroversi bangunan bekas Pabrik Es Saripetojo di kota solo menjadi headline media di Indonesia. Dimulai dari perseteruan antara dua pimpinan daerah sampai&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[71,72],"tags":[],"class_list":["post-781","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-archives","category-kota-surakarta"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/781","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=781"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/781\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=781"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=781"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=781"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}