{"id":7838,"date":"2017-07-27T15:00:41","date_gmt":"2017-07-27T08:00:41","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=7838"},"modified":"2017-07-27T15:00:41","modified_gmt":"2017-07-27T08:00:41","slug":"festival-rakyat-erau-di-tenggarong-lebih-meriah-dari-tahun-sebelumnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/festival-rakyat-erau-di-tenggarong-lebih-meriah-dari-tahun-sebelumnya\/","title":{"rendered":"Festival Rakyat Erau di Tenggarong lebih Meriah Dari Tahun Sebelumnya"},"content":{"rendered":"<p>Festival Rakyat Internasional Erau atau Erau International Folk Arts Festival (EIFAF) yang diselenggarakan di Tenggarong, 22- 30 Juli diikuti delapan negara sahabat.<\/p>\n<p>Negara-negara tersebut yakni Korea Selatan, Jepang, Polandia, Bulgaria, India, Slowakia, Thailand, dan Taiwan.<\/p>\n<p>&#8220;Kami terus melakukan inovasi-inovasi agar pelaksanaan Erau ini tidak membosankan setiap tahunnya. Pada tahun ini, kami mengundang sebanyak delapan negara untuk datang ke festival rakyat ini,&#8221; ujar Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari saat ditemui di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Rabu, 26\/7.<\/p>\n<p>Festival Erau 2017 dibuka oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasona Laoly dan dihadiri 19 duta besar negara sahabat. Festival itu juga diikuti oleh sembilan kabupaten\/kota lainnya di Tanah Air, yakni Yogyakarta, Sleman, Gunung Kidul, Bantul, Kulonprogro, Malang, Bone,Paser, dan Kutai Barat.<\/p>\n<p>&#8220;Setiap tahun, kami selalu mengganti negara-negara yang hadir di festival ini,&#8221; kata Rita.<\/p>\n<p>Tujuan mengundang negara sahabat itu adalah untuk memberi semangat para seniman di Kutai Kartanegara agar lebih kreatif. Mereka juga bisa belajar dari negara lain meengenai budaya dan juga busana. &#8220;Kalau orang lain bisa, maka kita harus bisa juga.&#8221;<\/p>\n<p>Rita menjelaskan Erau yang diselenggarakan setiap tahunnya tersebut berhasil meningkatkan jumlah wisatawan ke Tenggarong.<\/p>\n<p>Sebelum dirinya menjabat sebagai bupati, jumlah wisatawan yang datang ke Kutai Kartanegara hanya 250 ribu setiap tahunnya. Namun saat ini sudah mencapai angka 1,9 juta wisatawan per tahun. &#8220;Banyak wisatawan dari Amerika dan Spanyol, yang tak saya undang, datang ke sini. Ini membuktikan Erau memiliki magnet tersendiri bagi wisatawan,&#8221; ujar dia.<\/p>\n<p>Kepala Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara, Sri Wahyuni, menjelaskan pemerintah menggelontorkan dana sebesar Rp4 miliar untuk Festival Erau 2017. Jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.<\/p>\n<p>&#8220;Untuk saat ini, kami lebih banyak bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang ada di Kutai Kartanegara dalam penyelenggaraan festival ini,&#8221; kata Sri.<\/p>\n<p>Sementara itu, Putra Mahkota Kesultanan Kutai, Adji Pangeran Adipate Prabu Anum Suria Adiningrat, mengatakan Erau pada tahun ini lebih meriah dibandingkan tahun sebelumnya.<\/p>\n<p>&#8220;Disamping mengangkat kearifan lokal, juga menampilkan budaya lokal. Ini yang menjadikan festival sangat menarik,&#8221; kata Adji Pangeran.<\/p>\n<p>Menurut Adji Pangeran, Erau penting dilaksanakan setiap tahun untuk melestarikan adat dan budaya Kutai Kartanegara.<\/p>\n<p><em>ANTARA<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Festival Rakyat Internasional Erau atau Erau International Folk Arts Festival (EIFAF) yang diselenggarakan di Tenggarong, 22- 30 Juli diikuti delapan negara sahabat. Negara-negara tersebut yakni Korea Selatan, Jepang, Polandia, Bulgaria,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":7839,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,137],"tags":[],"class_list":["post-7838","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kabupaten-kutai-kartanegara"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7838","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7838"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7838\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7838"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7838"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7838"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}