{"id":7987,"date":"2017-10-03T15:46:09","date_gmt":"2017-10-03T08:46:09","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=7987"},"modified":"2017-10-03T15:46:09","modified_gmt":"2017-10-03T08:46:09","slug":"sambut-wisatawan-semarang-percantik-kampung-batik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/sambut-wisatawan-semarang-percantik-kampung-batik\/","title":{"rendered":"Sambut Wisatawan, Semarang Percantik Kampung Batik"},"content":{"rendered":"<p>Semarang &#8211; Pemerintah Kota Semarang terus mempercantik Kampung Batik dengan menjadikannya kampung tematik agar semakin menarik minat wisatawan, baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung.<\/p>\n<p>&#8220;Kampung Batik ini kan awal berdirinya industri batik Semarangan,&#8221; kata Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, saat peresmian program CSR Bina Lingkungan PLN di Kampung Batik Semarang, Senin.<\/p>\n<p>Ita, sapaan akrab Hevearita mengakui keelokan Kampung Batik Semarang sekarang ini dibanding sebelum menjadi kampung tematik, apalagi dengan masuknya PLN dengan program CSR (corporate social reponsibility).<\/p>\n<p>Meski sudah bagus, kata dia, dibutuhkan beberapa penambahan untuk mempercantik Kampung Batik dan membuat wisatawan yang datang semakin betah, di antaranya &#8220;street furniture&#8221; dan berbagai pertunjukan kesenian.<\/p>\n<p>&#8220;Saya melihat masih perlu nambah lagi, perlu dilengkapi street furniture, kemudian ditambahi pertunjukan musik. Jadi, wisatawan tidak hanya datang membeli batik, tetapi menikmati suasananya,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Menurut dia, Kampung Batik Semarang juga akan menjadi salah satu destinasi wisata jujukan bus tingkat pariwisata sehingga semakin banyak wisatawan yang akan berdatangan ke sentra industri batik Semarangan itu.<\/p>\n<p>Persoalan limbah industri batik di kampung itu, kata dia, juga sudah terselesaikan dengan kerja sama yang dijalin dengan Politeknik Negeri Semarang (Polines) untuk menetralkan air limbah pembuatan batik.<\/p>\n<p>&#8220;Kemarin yang bikin Kampung Batik tidak berkembang kan persoalan limbah, sekarang sudah terselesaikan dengan bantuan Polines. Limbah batik diolah jadi air bersih lagi. Kami sangat berterima kasih,&#8221; pungkas Ita.<\/p>\n<p>Sementara itu, Manager PT PLN APD Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta Moses Allo menjelaskan PLN sangat peduli dengan kelestarian batik sebagai warisan budaya leluhur, termasuk Batik Semarangan.<\/p>\n<p>Bertepatan dengan Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober, kata dia, pihaknya menyalurkan program bina lingkungan untuk pengembangan Kampung Batik Semarang yang rencananya dilaksanakan tiga tahap.<\/p>\n<p>Tahap pertama, kata dia, berupa pemberian alat pelatihan batik, alat peraga edukasi (APE) untuk pendidikan anak usia dini (PAUD), sertifikasi personel pengrajin batik, sarana prasarana pelatihan, dan pengembangan wisata.<\/p>\n<p>&#8220;Nilai bantuannya sekitar Rp135 juta. Ini memang baru tahap pertama, selanjutnya untuk tahap kedua dan ketiga akan merapatkan dengan Pemkot Semarang, apa yang masih dibutuhkan. Sertifikasi sudah,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Ketua Paguyuban Kampung Wisata Budaya yang menjadi wadah pengrajin batik di Kampung Batik Semarang, Eko Haryanto menyebutkan setidaknya ada 16 pengrajin di sentra industri batik Semarangan tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Yang sudah tersertifikasi difasilitasi PLN ada 10 pengrajin, yakni lima pengrajin batik tulis dan lima pengrajin batik cap. Semuanya (pengrajin, red.) minta disertifikasi, nanti tahap selanjutnya,&#8221; katanya.<\/p>\n<p><em>antaranews.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Semarang &#8211; Pemerintah Kota Semarang terus mempercantik Kampung Batik dengan menjadikannya kampung tematik agar semakin menarik minat wisatawan, baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung. &#8220;Kampung Batik ini kan awal berdirinya&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":7988,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,97],"tags":[],"class_list":["post-7987","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-semarang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7987","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7987"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7987\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7987"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7987"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7987"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}