{"id":8052,"date":"2017-11-02T10:13:24","date_gmt":"2017-11-02T03:13:24","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=8052"},"modified":"2017-11-02T10:13:24","modified_gmt":"2017-11-02T03:13:24","slug":"kunjungan-wisman-ke-kota-malang-menyukai-wisata-heritage","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/kunjungan-wisman-ke-kota-malang-menyukai-wisata-heritage\/","title":{"rendered":"Kunjungan Wisman ke Kota Malang Menyukai Wisata Heritage"},"content":{"rendered":"<p title=\"Author: KOMPAS.COM\/ANDI HARTIK Caption: Gedung Balai Kota Malang saat diambil pada Senin (30\/10\/2017). Gedung tersebut termasuk bangunan heritage yang kerap dikunjungi wisatawan mancanegara.\" data-id=\"59f727a3ce61d0119331b592\" data-author=\"KOMPAS.COM\/ANDI HARTIK\" data-caption=\"Gedung Balai Kota Malang saat diambil pada Senin (30\/10\/2017). Gedung tersebut termasuk bangunan heritage yang kerap dikunjungi wisatawan mancanegara.\" data-aligment=\"\" data-width=\"750px\"><strong>MALANG<\/strong>\u00a0&#8211; Kota\u00a0Malang\u00a0merupakan salah satu daerah di Jawa Timur yang menjadi tujuan wisatawan. Bukan hanya karena alamnya yang memesona, kawasan\u00a0heritage\u00a0yang ada di &#8220;Kota Bunga&#8221; itu juga andil dalam menarik jumlah wisatawan, khusus wisatawan mancanegara (\u00a0wisman).<\/p>\n<p>Kepala Seksi Promosi Pariwista pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar)\u00a0Kota Malang, Agung H Buana mengatakan, sebanyak 65 persen wisman yang ke Kota Malang mengunjungi kawasan-kawasan heritage.<\/p>\n<p title=\"Author: KOMPAS.COM\/ANDI HARTIK Caption: Gedung Balai Kota Malang saat diambil pada Senin (30\/10\/2017). Gedung tersebut termasuk bangunan heritage yang kerap dikunjungi wisatawan mancanegara.\" data-id=\"59f727a3ce61d0119331b592\" data-author=\"KOMPAS.COM\/ANDI HARTIK\" data-caption=\"Gedung Balai Kota Malang saat diambil pada Senin (30\/10\/2017). Gedung tersebut termasuk bangunan heritage yang kerap dikunjungi wisatawan mancanegara.\" data-aligment=\"\" data-width=\"750px\">&#8220;65 persen wisatawan asing mencari\u00a0<em>culture<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>heritage<\/em>,&#8221; katanya, di Museum Mpu Purwa Kota Malang.<\/p>\n<p title=\"Author: KOMPAS.COM\/ANDI HARTIK Caption: Gedung Balai Kota Malang saat diambil pada Senin (30\/10\/2017). Gedung tersebut termasuk bangunan heritage yang kerap dikunjungi wisatawan mancanegara.\" data-id=\"59f727a3ce61d0119331b592\" data-author=\"KOMPAS.COM\/ANDI HARTIK\" data-caption=\"Gedung Balai Kota Malang saat diambil pada Senin (30\/10\/2017). Gedung tersebut termasuk bangunan heritage yang kerap dikunjungi wisatawan mancanegara.\" data-aligment=\"\" data-width=\"750px\">Menurutnya, terdapat sejumlah bangunan di berbagai kawasan di Kota Malang yang keasliannya masih terjaga. Seperti bangunan yang ada Kawasan Ijen yang merupakan kawasan elit di masa penjajahan Belanda, Kawasan Kayu Tangan, Kawasan Celaket, Kawasan Kanjuruhan dan Pecinan.<\/p>\n<p title=\"Author: KOMPAS.COM\/ANDI HARTIK Caption: Gedung Balai Kota Malang saat diambil pada Senin (30\/10\/2017). Gedung tersebut termasuk bangunan heritage yang kerap dikunjungi wisatawan mancanegara.\" data-id=\"59f727a3ce61d0119331b592\" data-author=\"KOMPAS.COM\/ANDI HARTIK\" data-caption=\"Gedung Balai Kota Malang saat diambil pada Senin (30\/10\/2017). Gedung tersebut termasuk bangunan heritage yang kerap dikunjungi wisatawan mancanegara.\" data-aligment=\"\" data-width=\"750px\">Kawasan-kawasan itu banyak dikunjungi oleh wisatawan dari\u00a0Eropa, di antaranya dari Perancis, Jerman, Belgia, Belanda dan sejumlah negara di Eropa Timur.<\/p>\n<p>&#8220;Wisatawan asal Belanda dan Belgia kebanyakan untuk mencari jejak-jejak leluhur mereka. Baik orang tua maupun kakek neneknya. Mereka ingin melihat dari dekat kehidupan leluhur mereka,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p title=\"Author: KOMPAS.COM\/ANDI HARTIK Caption: Gedung Balai Kota Malang saat diambil pada Senin (30\/10\/2017). Gedung tersebut termasuk bangunan heritage yang kerap dikunjungi wisatawan mancanegara.\" data-id=\"59f727a3ce61d0119331b592\" data-author=\"KOMPAS.COM\/ANDI HARTIK\" data-caption=\"Gedung Balai Kota Malang saat diambil pada Senin (30\/10\/2017). Gedung tersebut termasuk bangunan heritage yang kerap dikunjungi wisatawan mancanegara.\" data-aligment=\"\" data-width=\"750px\">Apalagi, data kependudukan warga yang tinggal di Kota Malang sejak masa penjajahan masih tersimpan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Malang. &#8220;Sejak tahun 1890-an sudah punya data kependudukan. Sudah teregister,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Tidak hanya itu, komplek Pemakaman Sukun juga tidak luput dari kunjungan wisman, karena di komplek itu banyak ditemui makam-makam kuno.<\/p>\n<p>Di lokasi itu terdeteksi makam tertua adalah makam yang ada pada periode tahun 1898, meski penataan komplek makam dilakukan pada tahun 1910.<\/p>\n<p>Makam itu juga menjadi komplek pemakaman orang-orang Belanda yang ada di sekitar Malang. Seperti orang-orang Belanda yang ada di Blitar, Tulungagung, Kediri dan Pasuruan. Bahkan, makam salah satu Administratur Pabrik Gula Panggungrejo, Kota Pasuruan juga ada di komplek tersebut.<\/p>\n<p>Selama ini, rata-rata kunjungan wisman ke Kota Malang sebanyak 10.000 orang per tahun. Tahun ini, kunjungan wisman ke Kota Malang ditargetkan sebanyak 15.000 orang.<\/p>\n<p>&#8220;Sampai saat ini sudah 12.000 wisatawan asing, Target 15.000 yang ke Kota Malang. Untuk menunjang target Kementerian Pariwisata,&#8221; kata Agung.<\/p>\n<p><em>travel.kompas.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MALANG\u00a0&#8211; Kota\u00a0Malang\u00a0merupakan salah satu daerah di Jawa Timur yang menjadi tujuan wisatawan. Bukan hanya karena alamnya yang memesona, kawasan\u00a0heritage\u00a0yang ada di &#8220;Kota Bunga&#8221; itu juga andil dalam menarik jumlah wisatawan,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":8053,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,93],"tags":[],"class_list":["post-8052","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-malang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8052","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8052"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8052\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8052"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8052"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8052"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}