{"id":8595,"date":"2018-03-19T13:05:52","date_gmt":"2018-03-19T06:05:52","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=8595"},"modified":"2018-03-19T13:05:52","modified_gmt":"2018-03-19T06:05:52","slug":"menpar-ingin-wisata-maluku-utara-seperti-maladewa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/menpar-ingin-wisata-maluku-utara-seperti-maladewa\/","title":{"rendered":"Menpar Ingin Wisata Maluku Utara Seperti Maladewa"},"content":{"rendered":"<p>Pesona\u00a0wisata\u00a0Maluku Utara makin dilirik dunia. Keindahan lanskap alam yang komplet, mulai laut, darat, hingga pegunungan, berhasil mendatangkan ribuan wisatawan mancanegara tiap tahun ke sana.<\/p>\n<p>Tiga pulau berjuluk segitiga emas, yakni Ternate, Tidore, dan Morotai, menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Keindahan provinsi di timur Indonesia ini tentu tak kalah dengan wilayah-wilayah kepulauan lain di dunia yang sudah lebih dulu kesohor.<\/p>\n<p>Tak janggal kalau provinsi tersebut ditetapkan sebagai satu dari 10 destinasi Bali baru yang bakal mendongkrak kunjungan turis mancanegara ke Nusantara.<\/p>\n<p>Kehadiran Maluku Utara di pasar wisata internasional menjadi perhatian khusus Menteri Pariwisata Arief Yahya. Menurut dia, banyak hal harus dilakukan untuk mengupayakan percepatan pembangunan wisata.<\/p>\n<p>&#8220;Rumusnya pakai unsur 3A, yaitu atraksi, amenitas, dan aksesibilitas. Ketiganya harus benar-benar siap,&#8221; katanya saat peluncuran 33 agenda wisata Maluku Utara, di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Jakarta Pusat, Selasa, 13 Februari 2018.<\/p>\n<p>Arief mengatakan dua unsur utama, yakni atraksi dan amenitas, telah dipenuhi Maluku Utara. Namun soal urusan aksesibilitas, perlu dilakukan pembangunan berlanjut. Utamanya perihal bandar udara (bandara) internasional.<\/p>\n<p>&#8220;Maluku ini jumlahnya 4.000 kepulauan. Solusinya adalah kita bikin\u00a0<em>sea plane<\/em>,&#8221; ujarnya.\u00a0<em>Sea plane<\/em>adalah taksi udara yang bisa mendarat di laut. Kendaraan itu akan membawa turis lebih mudah mengunjungi pulau-pulau kecil.<\/p>\n<p><em>Sea plane<\/em>\u00a0sudah dibangun lebih dulu di Maladewa. Sebab, tipografinya yang berupa kepulauan-kepulauan kecil tak memungkinkan pemerintah membangun bandara internasional satu demi satu di sana. Hal itu sama dengan yang terjadi di Maluku Utara.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau saya mengharapkan pemerintah menggarap bandara, akan lama,&#8221; ucapnya.<\/p>\n<p>Selain\u00a0<em>sea plane<\/em>\u00a0yang diadaptasi dari Maladewa, Arief juga ingin membangun konsep pariwisata\u00a0<em>nomadic<\/em>. Konsep ini memungkinkan investor membangun akomodasi sementara yang bisa berpindah-pindah. &#8220;Misalnya, seperti hotel karavan atau\u00a0<em>glam-camping<\/em>\u00a0yang sudah mendunia,&#8221; tuturnya.<\/p>\n<p>Dengan konsep\u00a0wisata\u00a0ini, Arief meyakini pariwisata Maluku Utara akan bertumbuh cepat. Selain itu, provinsi tersebut bakal berkontribusi besar terhadap upaya pencapaian target kunjungan 20 juta wisatawan asing hingga 2019.<\/p>\n<p><em>travel.tempo.co\/Image\u00a0<span class=\"irc_ho\" dir=\"ltr\">duakotopas.com<\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pesona\u00a0wisata\u00a0Maluku Utara makin dilirik dunia. Keindahan lanskap alam yang komplet, mulai laut, darat, hingga pegunungan, berhasil mendatangkan ribuan wisatawan mancanegara tiap tahun ke sana. Tiga pulau berjuluk segitiga emas, yakni&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":8596,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,101,128],"tags":[],"class_list":["post-8595","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-kota-ternate","category-kota-tidore"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8595","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8595"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8595\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8595"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8595"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8595"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}