{"id":8720,"date":"2018-03-27T10:31:10","date_gmt":"2018-03-27T03:31:10","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=8720"},"modified":"2018-03-27T10:31:10","modified_gmt":"2018-03-27T03:31:10","slug":"kabupaten-batang-selenggarakan-festival-tari-batik-gringsing","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/kabupaten-batang-selenggarakan-festival-tari-batik-gringsing\/","title":{"rendered":"Kabupaten Batang Selenggarakan Festival Tari Batik Gringsing"},"content":{"rendered":"<p style=\"font-weight: 400;\">Menyambut Hari Jadi Kabupaten Batang ke-52, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) menyelenggarakan Festival Tari Batik Gringsing dan Tari Simo Gringsing yang diikuti siswa-siswi SMA dan SMP guna menumbuhkan kecintaan terhadap seni tari tradisional khas Batang di Pendopo Kabupaten Batang, Senin (26\/3).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cTari Batik Gringsing dan Tari Simo Gringsing diciptakan oleh Seniman Tari Yoyok Bambang Priambodo melalui penelitian selama bertahun-tahun sebagai wujud kepeduliannya terhadap nilai kearifan lokal yang dimiliki Batang,\u201d tutur Bupati Wihaji usai membuka Festival Tari Batik Gringsing dan Tari Simo Gringsing.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Bupati mengharapkan, dengan lahirnya tari tersebut supaya menjadi tarian khas masyarakat Batang. Untuk memperkenalkan tari Batik Gringsing dan tari Simo Gringsing kepada generasi muda, maka diselenggarakanlah kedua tari tersebut.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cBulan April mendatang bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Batang ke-52, kedua tarian itu akan ditampilkan oleh 100 penari, agar masyarakat mengetahui tarian khas Kabupaten Batang,\u201d ungkap Bupati.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Bupati Wihaji menambahkan, untuk mempertahankan kearifan lokal harus ada inovasi dan kreasi dengan melahirkan tarian baru yang menjadi karakter serta menimbulkan kebanggaan bagi masyarakat Batang.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Ahmad Taufiq menjelaskan, sebelumnya seluruh guru seni tari telah diberikan bimbingan teknis tentang tari Batik Gringsing dan tari Simo Gringsing di agrowisata Pagilaran, yang selanjutnya diajarkan kepada peserta didik mereka.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cHarapannya siswa-siswi akan semakin mencintai seni tari khas Batang, khususnya tari Batik Gringsing dan tari Simo Gringsing yang nantinya menjadi identitas masyarakat Batang,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Festival tari ini lanjut Taufiq, diselenggarakan selama 2 hari (26-27 Maret) diikuti 42 peserta yang terdiri dari tingkat SMP tari Simo Gringsing 7 peserta dan tari Batik Gringsing 11 peserta. Di tingkat SMA tari Simo Gringsing 10 peserta dan tari Batik Gringsing 14 peserta.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ditemui pada kesempatan yang sama Suningsih, S.Pd guru tari sekaligus Kepala SMP N 3 Subah sangat mengapresiasi atas diselenggarakannya kegiatan ini karena bisa mengembangkan kesenian dan membuat Kabupaten Batang semakin dikenal oleh masyarakat luas.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cTari Batik Gringsing dan tari Simo Gringsing akan menambah wawasan, pengetahuan seni dan kekayaan budaya khas Batang,\u201d ucap Mbak Ning sapaan akrabnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menurutnya, ada beberapa tari yang menjadi tarian khas Batang di antaranya tari Babalu, tari Sintren dan tari Tahu Robyong ditambah tari Batik Gringsing dan tari Simo Gringsing.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cBoleh saja kita menerima budaya asing, tapi harus wajib dulu melestarikan budaya daerah sendiri agar tidak punah dan tergilas oleh budaya asing,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p><em>batangkab.go.id\/Image\u00a0jateng.tribunnews.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menyambut Hari Jadi Kabupaten Batang ke-52, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) menyelenggarakan Festival Tari Batik Gringsing dan Tari Simo Gringsing yang diikuti siswa-siswi SMA dan SMP guna menumbuhkan kecintaan terhadap&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":8722,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,129],"tags":[],"class_list":["post-8720","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kabupaten-batang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8720","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8720"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8720\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8720"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8720"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8720"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}