{"id":8787,"date":"2018-04-09T11:07:44","date_gmt":"2018-04-09T04:07:44","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=8787"},"modified":"2018-04-09T11:07:44","modified_gmt":"2018-04-09T04:07:44","slug":"event-festival-solo-menari-tampilkan-tarian-tradisional-tarian-gambyong","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/event-festival-solo-menari-tampilkan-tarian-tradisional-tarian-gambyong\/","title":{"rendered":"Event Festival Solo Menari, Tampilkan Tarian Tradisional \u201dTarian Gambyong\u201d"},"content":{"rendered":"<p>Gelaran event Solo Menari 2018 akan berlangsung pada tanggal 29 April 2018. Hal ini bertepatan dengan\u00a0World Dance Day\u00a0atau\u00a0Hari Tari Dunia\u00a0yang selalu diadakan setiap tanggal 29 April.<\/p>\n<p>event Solo Menari 2018 akan menampilkan Tarian Tradisional dari Surakarta \u201dTarian Gambyong\u201d. Tari Gambyong Adalah tarian yang sudah sering ditampilkan ketika acara-acara besar atau festival budaya berlangsung. Banyak dari wisatawan mancanegara yang menyukai tarian gambyong ini, hal ini karena tarian\u00a0tersebut mempunyai keunikan tersendiri.<\/p>\n<p>Tari gambyong merupakan salah satu tari tradisional yang berasal dari daerah Surakarta, Jawa Tengah. Pada awalnya tarian ini hanyalah sebuah tarian jalanan atau tarian rakyat. Tari ini juga termasuk tari kreasi baru dari perkembangan tari tayub.<\/p>\n<p>Tari ini\u00a0dipertunjukkan pada saat upacara panen dan hendak akan menanam padi. Masyarakat percaya tarian ini untuk memanggil Dewi Sri atau Dewi Padi agar ia memberikan berkah kepada sawah mereka dengan hasil panen yang maksimal.<\/p>\n<p>Nama gambyong sebenarnya\u00a0berasal dari nama seorang penari terkenal pada masa itu, yaitu Sri Gambyong. Sri Gambyong mempunyai suara yang sangat indah dan kelincahan dalam menari sudah menarik perhatian masyarakat.<\/p>\n<p>Pertunjukkan seni tari tayub pada awalnya dilakukan oleh Sri Gambyong di jalanan. Akhirnya banyak kalangan menganggap tari ini mempunyai keunikan dan ciri khas yang membedakan tariannya dengan tarian dari penari-penari lainnya.<\/p>\n<p>Sehingga semua masyarakat di wilayah Surakarta pada masa itu mengenal dia. Atas perintah dari Sinuhun Paku Buwono IV yang pada waktu itu memerintah daerah Surakarta. Sri Gambyong diizinkan menyelenggarakan pementasan dilingkungan kraton Surakarta.\u00a0Sejak saat itulah tarian ini\u00a0dinamakan sebagai tari Gambyong.<\/p>\n<p>Sebelum dari pihak kraton Surakarta mengubah dan mempatenkan struktur gerakannya, tarian gambyong ini sebenarnya merupakan tarian rakyat yang digunakan sebagai acara ritual sebelum bercocok tanam.<\/p>\n<p>Tujuannya supaya tanaman yang sudah masyarakat tanam diberi kesuburan dan menjadi panen yang melimpah. Setelah masuk ke lingkungan kraton, tarian gambyong ini suka dijadikan sebagai tarian penghibur dan menyambutan tamu kehormatan.<\/p>\n<p><em>berbagaisumber<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gelaran event Solo Menari 2018 akan berlangsung pada tanggal 29 April 2018. Hal ini bertepatan dengan\u00a0World Dance Day\u00a0atau\u00a0Hari Tari Dunia\u00a0yang selalu diadakan setiap tanggal 29 April. event Solo Menari 2018&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":8788,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,72],"tags":[],"class_list":["post-8787","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-surakarta"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8787","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8787"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8787\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8787"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8787"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8787"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}