{"id":9013,"date":"2018-05-09T13:45:01","date_gmt":"2018-05-09T06:45:01","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=9013"},"modified":"2018-05-09T13:45:01","modified_gmt":"2018-05-09T06:45:01","slug":"pelestarian-permainan-niok-sorong-di-bangka-barat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/pelestarian-permainan-niok-sorong-di-bangka-barat\/","title":{"rendered":"Pelestarian Permainan &#8220;niok sorong&#8221; di Bangka Barat"},"content":{"rendered":"<p>Muntok &#8211; Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memberikan apresiasi positif kepada para pegiat permainan tradisional yang terus melestarikan olahraga &#8220;niok sorong&#8221;.<\/p>\n<p>&#8220;Permainan tradisional yang memiliki nilai kearifan lokal tersebut saat ini sudah hampir punah oleh kemajuan zaman dan kalah dengan permainan individual berbagai teknologi,&#8221; kata Kepala Bagian Komunikasi Humas dan Protokol Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Henry Firsanto di Muntok, Selasa.<\/p>\n<p>Menurut dia, penampilan tim &#8220;niok sorong&#8221; pada Festival Olahraga Tradisional tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2018 yang berlangsung 7-9 Mei 2018 yang digelar di Muntok patut mendapatkan apresiasi dari seluruh pihak.<\/p>\n<p>Permainan &#8220;niok sorong&#8221; mirip dengan permainan hoki, namun bola yang digunakan menggunakan kelapa kering dan tongkat berbahan pelepah pohon kelapa. Permainan itu dahulu merupakan permainan yang biasa dilakukan anak-anak nelayan di pinggir pantai.<\/p>\n<p>&#8220;Niok sorong&#8221; berasal dari kata &#8220;niok&#8221; yang dalam bahasa lokal berarti buah kelapa kering atau tua dan kata &#8220;sorong&#8221; yang artinya dorong. Secara harafiah &#8220;niok sorong&#8221; berarti permainan buah kelapa yang dimainkan dengan cara mendorongnya untuk dimasukkan ke dalam gawang yang terbuat dari anyaman daun kelapa.<\/p>\n<p>Permainan itu salah bentuk kreativitas anak-anak nelayan yang sedang menunggu orang tua mereka dari laut mencari ikan dan udang menggunakan jala dan sungkur.<\/p>\n<p>Dalam memainkan &#8220;niok sorong&#8221;, satu tim terdiri atas lima pemain. Saat memulai dilakukan &#8220;tangkueng&#8221; atau undian untuk pembagian kelompok besar menjadi kelompok kecil, sehingga pembagian kelompok atau tim menjadi adil dan sama.<\/p>\n<p>Para pemain hanya boleh mendorong &#8220;niok&#8221; menggunakan pelepah kelapa masing-masing dan jika ada pemain yang memukul &#8220;niok&#8221; akan mendapatkan sanksi.<\/p>\n<p>Jika ada pemain yang memecahkan bola atau &#8220;niok&#8221; maka timnya akan mendapatkan sanksi pinalti.<\/p>\n<p>Kedua tim berusaha saling memasukkan &#8220;niok&#8221; ke gawang lawan dan setelah permainan selesai yang kalah mendapatkan hukuman menggendong anggota tim yang menang.<\/p>\n<p>&#8220;Permainan itu memiliki banyak nilai kearifan lokal yang akan memperkenalkan karakter para pemainnya, seperti sikap disiplin, sportivitas, percaya diri, kerja sama, berani, daya juang, berakhlak mulia dan berjiwa sosial,&#8221; kata dia.<\/p>\n<p>Untuk itu diharapkan para pegiat permainan tradisional terus menjaga kelestarian budaya lokal tersebut dan terus menyosialisasikan kepada khalayak agar bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.<\/p>\n<p>&#8220;Unsur kebugaran, kelincahan, daya tahan, kekuatan, kecepatan, keseimbangan dan koordinasi juga bisa diperoleh dalam permainan kelompok tersebut,&#8221; kata dia.<\/p>\n<p><em>Antara\/Image\u00a0humas.bangkabaratkab.go.id<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Muntok &#8211; Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memberikan apresiasi positif kepada para pegiat permainan tradisional yang terus melestarikan olahraga &#8220;niok sorong&#8221;. &#8220;Permainan tradisional yang memiliki nilai kearifan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":9016,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,113],"tags":[],"class_list":["post-9013","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kabupaten-bangka-barat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9013","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9013"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9013\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9013"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9013"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9013"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}