{"id":9235,"date":"2018-05-30T09:56:02","date_gmt":"2018-05-30T02:56:02","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=9235"},"modified":"2018-05-30T09:56:02","modified_gmt":"2018-05-30T02:56:02","slug":"yogyakarta-diusulkan-sebagai-kota-kebudayaan-asean","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/yogyakarta-diusulkan-sebagai-kota-kebudayaan-asean\/","title":{"rendered":"Yogyakarta Diusulkan Sebagai Kota Kebudayaan ASEAN"},"content":{"rendered":"<p>Yogyakarta akan diusulkan sebagai\u00a0<em>City of Culture<\/em>\u00a0ASEAN\u00a0(Kota Budaya ASEAN) dalam pertemuan tingkat Menteri Pendidikan se-ASEAN pada Oktober 2018 mendatang. Usulan tersebut akan disampaikan delegasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.<\/p>\n<p>Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid mengungkapkan, setiap dua tahun sekali ASEAN menetapkan\u00a0satu kota menjadi\u00a0<em>city of culture.\u00a0<\/em>Penetapan itu, kata dia, dilakukan bergantian dan biasanya memang negara yang ditempati untuk pertemuan tingkat menteri itulah yang menjadi\u00a0<em>city of culture.<\/em><\/p>\n<p>\u201cKemendikbud melihat Yogyakarta layak menjadi kota budaya ASEAN, sehingga ditetapkan sebagai tempat dilaksanakannya pertemuan se-ASEAn sekaligus melakukan penetapan Yogyakarta sebagai\u00a0<em>City of Culture<\/em>\u00a0ASEAN. Yogyakarta adalah pilihan yang sangat logis dan layak menjadi ibukota budaya di ASEAN,\u201d imbuhnya, usai bertemu Gubernur DIY di Gedhong Wilis, Kepatihan Yogyakarta pada Senin (28\/05\/2018).<\/p>\n<p>Hilmar menandaskan, pengusulan Yogyakarta sudah bulat. Pertimbangannya,\u00a0kata Hilmar, karena Yogyakarta memiliki sejarah untuk waktu yang sangat lama dan menjadi kota dengan tingkat kepadatan kebudayaan yang tertinggi di Indonesia,<\/p>\n<p>\u201cDari segi kegiatan kebudayaan seperti festival pun Yogyakarta juga sangat banyak dalam setahun.\u00a0Pada kunjungan kami kali ini, kami juga menyampaikan rangkaian cara terkait pertemuan Menteri Pendidikan tingkat ASEAN. Dan Gubernur DY siap mendukung terlaksananya kegiatan ini,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Pembahasan lain yang dilakukan dalam pertemuan tersebut ialah gagasan terkait dukungan bagi dunia literasi. Menurut Hilman, ada gagasan membentuk sekolah untuk para penulis, baik penulis fiksi, kreatif, maupun sejarah. Dalam hal ini, Gubernur DIY mengusulkan rencana itu diwujudkan dalam bentuk akademi komunitas,<\/p>\n<p>\u201cJadi ke depan mungkin akan ada akademi penulisan di Yogyakarta, hasil kerja sama antara Pemda DIY dengan Dirjen Kebudayaan Kemendikbud. Untuk rencana ini baru pembicaraan awal. Kesimpulannya, kalau kerangka akademi komunitas ini bisa dipakai, akademi ini akan menjadi rumah bagi mereka yang ingin belajar menulis. Kalau semua lancar, tahun depan sudah bisa beroperasi,\u201d paparnya.<\/p>\n<p>Sementara itu Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan mendukung\u00a0rencana ini.<\/p>\n<p>Hal itu sebagaimana disampaikan Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY Budi Wibowo, SH., MM yang turut mendampingi Sri Sultan HB X dalam pertemuan. Budi mengatakan,<\/p>\n<p>Pemda DIY sebenarnya sedang berupaya mengusulkan Yogyakarta sebagai kota warisan budaya dunia, sehingga setara dengan Edinburg dan Praha,<\/p>\n<p>\u201cKarena Yogyakarta sebenarnya juga tidak kalah bagus. Keuntungannya jadi kota warisan dunia, maka dunia nantinya akan turut serta mengamankan warisan budaya yang ada di Yogyakarta,\u201d kata Budi Wibowo.<\/p>\n<p><em>jogjakartanews.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yogyakarta akan diusulkan sebagai\u00a0City of Culture\u00a0ASEAN\u00a0(Kota Budaya ASEAN) dalam pertemuan tingkat Menteri Pendidikan se-ASEAN pada Oktober 2018 mendatang. Usulan tersebut akan disampaikan delegasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI. Dirjen&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":9236,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,87],"tags":[],"class_list":["post-9235","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-yogyakarta"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9235","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9235"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9235\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9235"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9235"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9235"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}