{"id":9243,"date":"2018-05-31T11:33:19","date_gmt":"2018-05-31T04:33:19","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=9243"},"modified":"2018-05-31T11:33:19","modified_gmt":"2018-05-31T04:33:19","slug":"indonesia-akan-tampil-lebih-istimewa-dalam-acara-tong-tong-fair-ttf-2018","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/indonesia-akan-tampil-lebih-istimewa-dalam-acara-tong-tong-fair-ttf-2018\/","title":{"rendered":"Indonesia Akan Tampil Lebih Istimewa Dalam Acara Tong-Tong Fair (TTF) 2018"},"content":{"rendered":"<p>KBRI Den Haag kembali mendukung dan turut berpartisipasi mempromosikan Indonesia kepada publik Belanda dalam acara Tong-Tong Fair (TTF) yang berlangsung 24 Mei \u2013 3 Juni 2018. TTF kali ini istimewa karena bertepatan dengan 60 tahun pageleran festival budaya Asia tersebut.<\/p>\n<p>Sekretaris Pertama Fungsi Ekonomi KBRI Den Haag, Nur Evi Rahmawati kepada mengatakan pada penyelenggaraan TTF tahun 2018 ini pavilion Indonesia diisi sekitar 48 peserta. Kebanyakan mereka menjual berbagai produk tradisional Indonesia, seperti batik, handicraft, makanan ringan, hingga gitar.<\/p>\n<div>\n<div id=\"aniBox\">\n<div id=\"aniplayer_aniviewJS8720932\">\n<div id=\"anibid\">Produk Indonesia juga banyak dijumpai di area grand pasar, baik makanan kecil dan minuman, maupun buah tropis seperti salak dan manggis. Dubes RI Den Haag, I Gusti A. Wesaka Puja mengatakan TTF setiap tahunnya berhasil menarik puluhan ribu pengunjung dari berbagai pelosok Belanda dan negara-negara sekitar. \u201cKami ingin kehadiran yang lebih besar dari Indonesia, termasuk KBRI, dapat semakin memperkaya festival ini,\u201d ujar dia.<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Tahun ini, KBRI Den Haag mengetengahkan konsep promosi Indonesia melalui\u00a0<em>one shop information.<\/em>\u00a0Jadi pengunjung dapat mengakses informasi mengenai perkembangan ekonomi Indonesia, pariwisata, update informasi tanah air, peluang bisnis dan investasi, hingga isu-isu keimigrasian.<\/p>\n<div id=\"inarticle\" data-google-query-id=\"COvI2L2Lr9sCFU3TjgodwiUI4g\">\n<div id=\"google_ads_iframe_\/14056285\/tempo.co\/desktop_travel_inarticle_0__container__\">TTF setiap tahunnya menjadi daya tarik publik Belanda yang memiliki kantong diaspora Indonesia terbesar. Banyak masyarakat Belanda yang memiliki koneksi kuat dengan Indonesia karena faktor sejarah di masa lalu.<\/div>\n<\/div>\n<p>Banyak dari mereka yang berminat untuk kembali berkunjung ke Indonesia dan banyak pula yang masih memiliki keluarga di Indonesia. Dengan demikian, partisipasi Indonesia pada TTF tidak hanya menjadi obat rindu tanah air, namun juga untuk menarik mereka berkunjung dan berwisata ke Indonesia, ujarnya.<\/p>\n<p>Beberapa Pemerintah Daerah turut mempromosikan Indonesia pada TTF 2018 ini, seperti Pemda Sleman, Malang dan Teluk Wondama, Papua. Sementara itu, di area produk makanan (EEtwiijk), pengunjung dapat menikmati aneka makanan tradisional Indonesia dari berbagai restauran Indonesia di Belanda.<\/p>\n<p>Pertunjukan budaya TTF 2018 menampilkan berbagai kelompok budaya dan musik Indonesia, seperti Balawan, Kelompok Musik Keroncong Jakarta, Pencak Silat Cecep Arif Rahman, Wayang Golek dari Garut, JEI Angklung dan berbagai kelompok budaya dari Garut maupun Jakarta. Pengunjung juga dapat mengikuti aneka\u00a0<em>workshop<\/em>, seperti pembuatan wayang, batik, dan juga berbagai tarian daerah Indonesia.<\/p>\n<p><em>ANTAR\/Image\u00a0kumparan.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KBRI Den Haag kembali mendukung dan turut berpartisipasi mempromosikan Indonesia kepada publik Belanda dalam acara Tong-Tong Fair (TTF) yang berlangsung 24 Mei \u2013 3 Juni 2018. TTF kali ini istimewa&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":9244,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96],"tags":[],"class_list":["post-9243","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9243","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9243"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9243\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9243"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9243"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9243"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}