{"id":9288,"date":"2018-06-08T12:26:38","date_gmt":"2018-06-08T05:26:38","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=9288"},"modified":"2018-06-08T12:26:38","modified_gmt":"2018-06-08T05:26:38","slug":"4-masjid-yang-mencerminkan-akulturasi-budaya-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/4-masjid-yang-mencerminkan-akulturasi-budaya-di-indonesia\/","title":{"rendered":"4 Masjid Yang Mencerminkan Akulturasi Budaya di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Sejarah dan budaya di Indonesia punya kisah yang panjang. Perpaduan dan akulturasi budaya mewarnai berbagai hal di Indonesia, termasuk arsitektur bangunan, salah satunya masjid.<\/p>\n<p>Sejumlah masjid yang ada di Tanah Air menunjukkan hasil akulturasi budaya.<\/p>\n<p>Empat di antaranya adalah masjid-masjid di bawah ini. Berikut 4 masjid yang menunjukkan akulturasi budaya dalam bangunannya.<\/p>\n<p><strong>Masjid Menara Kudus<\/strong><\/p>\n<p>Sesuai namanya, masjid ini terletak di Kudus, Jawa Tengah. Masjid yang dibangun pada 1549 ini juga disebut sebagai Masjid Al-Aqsha.<\/p>\n<p>Di dalamnya terdapat makam dari Sunan Kudus, oleh karenanya masjid ini kerap dijadikan sebagai tujuan ziarah.<\/p>\n<p>Tak seperti masjid kebanyakan yang bergaya Timur Tengah, masjid ini menampilkan corak kebudayaan pra-Islam seperti Jawa, Hindu, dan Budha.<\/p>\n<p>Hal itu terlihat dari menara dan gapura yang ada di sekitar masjid.<\/p>\n<p>Menara Kudu dibangun menggunakan bata merah tanpa perekat. Menara ini terdiri dari 3 bagian, yakni kaki, badan, dan kepala, yang menunjukkan corak Hindu-Majapahit yang ada di Jawa.<\/p>\n<p><strong>Masjid Cheng Ho Surabaya <\/strong><\/p>\n<p>Masjid ini berdiri di Jalan Gading, Ketabang, Genteng, Surabaya dan menjadi bentuk penghormatan kepada Laksamana Cheng Ho yang pernah datang menyebarkan agama Islam di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n<p>Berwarna merah, hijau, dan kuning nuansa Tionghoa begitu terasa di masjid ini.<\/p>\n<p>Masjid yang terletak di sebelah utara Balaikota Surabaya ini memiliki bangunan utama seluas 11&#215;9 meter. Angka ini memiliki arti tersendiri.<\/p>\n<p>Angka 11 merupakan luas Ka\u2019bah saat awal dibangun, sementara angka 9 melambangkan jumlah wali yang menyebarkan ajaran Islam di Jawa (Wali Sanga).<\/p>\n<p>Karena keunikannya, masjid ini kerap dijadikan tujuan wisata di Surabaya dan menjadi objek menarik untuk mengambil gambar.<\/p>\n<p>Masjid Cheng Ho dibangun pada 2002 oleh arsitek Ir. Abdul Aziz. Masjid ini berkapasitas 200 jemaah.<\/p>\n<p><strong>Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta<\/strong><\/p>\n<p>Masjid yang terletak di dalam kawasan Kraton, tepatnya di barat Alun-alun Utara Yogyakarta ini memiliki arsitektur khas Jawa.<\/p>\n<p>Bentuk bangunan utamanya adalah tajug lambang teplok dengan atap berbentuk tumpang tiga yang merupakan filosofi Jawa dengan nilai-nilai Islam seperti Hakekat, Ma\u2019rifat, dan Syariat.<\/p>\n<p>Sedangkan dalam ajaran Hindu-Budha mencerminkan meru, bangunan suci tempat para dewa menurut ajaran Hindu-Budha.<\/p>\n<p>Masjid ini dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1773 diarsitekturi oleh Kiai Wiryokusumo.<\/p>\n<p><strong>Masjid Raya Sumatera Barat<\/strong><\/p>\n<p>Masjid Raya Sumatera Barat merupakan masjid modern tanpa kubah yang dibangun di kota Padang, Sumatera Barat.<\/p>\n<p>Masjid ini digadang-gadang menjadi yang terbesar di Sumbar dan mampu menampung jamaah hingga sebanyak 5.000-6.000 jemaah.<\/p>\n<p>Masjid ini didesain menyerupai Rumah Gadang, rumah adat khas Sumbar dengan bentuk atap gonjong (semakin ke atas semakin lancip).<\/p>\n<p>Di dinding eksteriornya terdapat ukiran khas minang dan kaligrafi yang semakin menegaskan nuansa adat Minangkabau di bangunan ini.<\/p>\n<p>Meski berkonsep rumah adat, masjid ini berdiri dengan megah, pembangunannya menelan dana hingga Rp 240 miliar.<\/p>\n<p>Desain masjid ini merupakan karya seorang arsitektur bernama Rizal Arifin yang berhasil memenangkan sayembara mengalahkan setelah 323 arsitek lainnya.<\/p>\n<p><em>travel.kompas.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejarah dan budaya di Indonesia punya kisah yang panjang. Perpaduan dan akulturasi budaya mewarnai berbagai hal di Indonesia, termasuk arsitektur bangunan, salah satunya masjid. Sejumlah masjid yang ada di Tanah&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":9289,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96],"tags":[],"class_list":["post-9288","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9288","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9288"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9288\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9288"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9288"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9288"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}