Oleh: Asfarinal (Mahasiswa Doktoral FIB UI)
“Heritage is not only about preserving the past it is about shaping the future.”
– Irina Bokova, Mantan Direktur Jenderal UNESCO
Di awal Desember 2025 ini, saya memberikan kuliah umum kepada mahasiswa Program Vokasi Pariwisata Universitas Indonesia dengan tajuk, “Merawat Warisan, Menyambut Dunia: Masa Depan Hospitality Berbasis Budaya.”
Garis besar dari presentasi ini adalah refleksi sekaligus ajakan: bahwa dunia pariwisata, terutama industri perhotelan yang harus mulai menempatkan heritage sebagai inti narasi dan daya saing, bukan sekadar dekorasi. Sebab warisan budaya bukan hanya peninggalan, tapi masa depan.

Dalam dua dekade terakhir, industri pariwisata global mengalami transformasi besar. Wisatawan tidak lagi hanya mencari tempat yang nyaman, tetapi juga yang bermakna. Mereka mencari sense of place, keaslian, narasi, dan keunikan budaya lokal.
Inilah alasan mengapa konsep hospitality berbasis warisan (heritage-based hospitality) menjadi semakin relevan. Hospitality tidak lagi hanya tentang kenyamanan fisik, melainkan tentang pengalaman kultural. Dari bangunan tua yang direvitalisasi menjadi hotel, hingga narasi sejarah kota yang menjadi paket wisata, dunia perhotelan berubah menjadi jendela sejarah dan budaya.
Dalam kerangka teoritis, kita dapat merujuk pada Henri Lefebvre yang menyebut bahwa ruang adalah hasil konstruksi sosial, bukan semata entitas fisik. Hotel, restoran, dan destinasi pariwisata menjadi ruang budaya yang memproduksi makna baru atas warisan lama.
UNESCO pun telah memberikan kerangka lewat pendekatan Historic Urban Landscape (HUL), yang menekankan pentingnya membaca warisan tidak sebagai elemen statis, tetapi sebagai lanskap hidup yang menyatukan warisan fisik, sosial, dan simbolik kota.
Indonesia memiliki modal heritage yang luar biasa: kota tua, arsitektur kolonial, kampung adat, situs sejarah maritim, hingga kekayaan budaya takbenda seperti kuliner, tekstil, ritual, dan narasi rakyat. Namun, integrasi warisan budaya ke dalam industri hospitality masih belum sistemik.

Kota-kota seperti Yogyakarta, Semarang, Jakarta Kota Tua, Bandung, Lasem, Pekalongan, Pasuruan, Bukittinggi, Palembang, dan Muntok telah mulai memanfaatkan warisan kotanya sebagai elemen daya tarik. Namun tantangannya adalah:
- Hotel masih banyak yang mengusung gaya generik (internasional) daripada lokal
- Belum ada kurikulum atau pelatihan terstruktur yang mengintegrasikan sejarah dan budaya lokal ke dalam layanan hospitality
- Terbatasnya sinergi antara pelaku heritage, akademisi, dan pelaku industry
Dan, bila kita coba sandingkan dengan beberapa kota di negara tetangga yang sudah melakukan pendekatan integrasi heritage dan hospitality, kita bisa mengambil studi perbandingan dengan kota-kota seperti: Bangkok, Penang, Malaka, Xi’an
- Bangkok (Thailand): Menjadikan istana dan kuil tua sebagai daya tarik utama, didukung dengan hotel-hotel butik bernuansa Thai heritage, seperti Ariyasomvilla dan Chakrabongse Villas.
- Penang & Malaka (Malaysia): Kota-kota ini menumbuhkan heritage hotel di bangunan shophouses, dengan storytelling budaya Peranakan dan arsitektur kolonial sebagai daya tarik utama.
- Xi’an (Tiongkok): Kota tua yang menjadi titik awal Jalur Sutra ini sukses membangun jaringan hotel, restoran, dan ruang budaya yang merefleksikan nilai sejarahnya.
Kunci keberhasilan mereka: kurasi budaya, storytelling sejarah, desain otentik, dan konsistensi kebijakan.
Sebetulnya, beberapa hotel di Indonesia juga sudah berhasil mengangkat warisan budaya:
- Hotel Savoy Homann (Bandung): Menjadi ikon art deco dan saksi sejarah Konferensi Asia Afrika.
- The Phoenix Hotel (Yogyakarta): Menghidupkan bangunan kolonial dengan elemen budaya Jawa klasik.
- Tugu Hotels (Malang, Blitar, Lombok, Bali): Menggabungkan hotel mewah dengan museum hidup, menyuguhkan koleksi seni, patung, dan narasi budaya Nusantara.
- Plataran Heritage Borobudur: Menyatukan kenyamanan bintang lima dengan latar kisah Candi Borobudur dan alam pedesaan Jawa.
Namun belum banyak yang mengintegrasikan budaya takbenda secara utuh: seperti tradisi lisan, kuliner lokal, upacara adat, dan kerajinan rakyat sebagai bagian dari pelayanan dan atmosfer hotel.

Masa Depan: Hospitality sebagai Museum Hidup
Gagasan bahwa hotel dapat berfungsi sebagai “museum hidup” bukanlah sekadar metafora romantik. Di tengah pergeseran tren pariwisata global, konsep ini menjadi strategi masa depan untuk mempertahankan relevansi warisan budaya sekaligus meningkatkan daya tarik destinasi. Hospitality berbasis warisan bukan hanya tentang memulihkan bangunan tua dan meletakkan ornamen etnik, melainkan tentang menjadikan ruang perhotelan sebagai ekosistem pengalaman yang terus hidup, bernapas, dan berkembang bersama masyarakat lokal.
Dalam konsep living museum, tamu tidak lagi diposisikan sebagai pengamat pasif. Mereka justru menjadi bagian dari cerita, ikut terlibat dalam ritme kehidupan kota tua atau kampung tradisi. Setiap sudut ruang, setiap aroma kuliner, setiap interaksi dengan staf hotel menjadi bagian dari narasi yang lebih besar: narasi sebuah kota, sebuah komunitas, sebuah peradaban.
Untuk mewujudkan itu, ada empat dimensi utama yang harus dihidupkan.
- Pelatihan Staf sebagai Pencerita Budaya (Cultural Storytellers)
Masa depan hospitality menuntut lebih dari sekadar staf yang cekatan dan ramah. Mereka harus menjadi penjaga pengetahuan budaya.
Seorang resepsionis di hotel heritage seharusnya dapat menjelaskan asal-usul bangunan, kisah keluarga pemilik lama, hingga cerita rakyat yang hidup di balik lorong-lorong kota tua. Seorang pramutama restoran harus tahu filosofi dari setiap hidangan tradisional yang disajikan, bukan hanya bahan-bahannya.
Pelatihan staf tidak lagi hanya soal service excellence, tetapi juga tentang:
- sejarah lokal dan narasi ruang,
- etika budaya,
- simbol-simbol arsitektur,
- dan nilai-nilai tradisi yang masih hidup.
Dengan cara ini, staf tidak hanya melayani, tetapi juga menghidupkan kembali sebuah ingatan kolektif.

- Desain Interior yang Mengangkat Arsitektur Lokal
Desain interior bukan sekadar estetika, tetapi alat komunikasi budaya.
Di banyak hotel modern, desain sering terjebak dalam standar global yang seragam: marmer putih, lampu redup, sofa minimalis. Namun di hotel heritage, desain harus menjadi arsitektur naratif. Tiang kayu jati, tegel kunci, ukiran pintu, jendela krepyak, bahkan retakan halus pada dinding, semua adalah bagian dari cerita yang ingin disampaikan.
Desain interior masa depan harus menjawab tiga hal:
- Menghormati elemen arsitektur asli
- Mengadaptasikannya dengan kenyamanan modern tanpa menghilangkan karakter
- Menghadirkan karya komunitas lokal—keramik tradisional, tekstil, ukiran, gambar tangan, furnitur buatan pengrajin setempat
Dengan demikian, setiap kamar menjadi galeri kecil, dan setiap lobby menjadi ruang pamer masa lalu dan masa kini.
- Kurasi Kuliner, Musik, dan Pertunjukan Rakyat
Tidak ada pengalaman budaya tanpa rasa, bunyi, dan ritme.
Di masa depan, hotel berbasis warisan akan semakin menonjolkan:
- kuliner tradisional yang terkurasi, bukan hanya diperjualbelikan,
- musik daerah yang tidak hanya menjadi latar, tetapi menjadi pengalaman interaktif,
- pertunjukan rakyat yang digelar sebagai bagian dari ritual sosial, bukan hiburan turis semata.
Hal ini selaras dengan tren dunia yang menempatkan budaya takbenda (UNESCO – Intangible Cultural Heritage) sebagai bernilai sama pentingnya dengan bangunan bersejarah.
Contoh:
- Wayang orang mini show di lobi hotel Yogyakarta
- Demonstrasi membatik di halaman penginapan di Lasem
- Musik keroncong yang dihadirkan bukan sebagai pertunjukan, namun sebagai bagian alami dari suasana sore di Kota Lama Semarang
- Cerita rakyat Minangkabau yang diceritakan langsung oleh tokoh adat di Bukittinggi
Hotel bukan sekadar tempat tidur, hotel menjadi ruang perjumpaan budaya.
- Paket Wisata Berbasis Narasi Kampung dan Kota
Masa depan hospitality menuntut hotel untuk tidak hanya hidup di dalam bangunan, tetapi juga merambat keluar, menjadi jembatan antara tamu dan kehidupan kota.
Paket wisata tidak lagi cukup hanya mengajak tamu “mengunjungi” lokasi. Paket wisata berbasis narasi menawarkan pengalaman:
- menelusuri jejak kolonial Kota Lama Semarang melalui cerita para arsiteknya,
- mengikuti napak tilas jalur rempah di Makassar bersama pengrajin perahu pinisi,
- berjalan dalam tur kampung di Lasem bersama keturunan keluarga Tionghoa-Jawa yang menyimpan ingatan diaspora,
- merasakan kehidupan pasar tradisional di Bukittinggi sambil mempelajari filosofi kuliner Minang.
Paket wisata seperti ini bukan hanya meningkatkan kepuasan wisatawan, tetapi juga memperkuat ekonomi komunitas lokal dan menjaga keberlanjutan warisan.

Peran Mahasiswa Vokasi dan Pelaku Muda
Mahasiswa vokasi pariwisata memiliki peran penting dalam menjembatani pengetahuan budaya dengan praktik hospitality. Dibutuhkan kurikulum yang tidak hanya teknis, tetapi juga historis dan kultural. Mahasiswa harus memahami cerita di balik ruang, dan menjadi pencerita (storyteller) yang membangun kesadaran baru dalam industri.
Warisan kota bukanlah beban masa lalu. Ia adalah aset strategis masa depan. Lewat pendekatan hospitality yang menghargai sejarah, kita tidak hanya menawarkan kenyamanan, tetapi makna.
Karena dunia tidak hanya mencari tempat tinggal saat bepergian, tapi tempat untuk bercerita dan terhubung.