Skip to content Skip to footer

Pusaka Masa Depan – Catatan dari Launching Rakernas XII JKPI

Oleh: Rinto Taib
(Kepala Litbang JKPI)

Ditengah gejolak dan dinamika politik ekonomi global, kota-kota pusaka di seluruh dunia kini berada dalam ancaman resiko kebencanaan. Pada daerah tertentu bahkan dibelahan dunia tertentu, identitas Kota pusakanya berpotensi sedang diambang pusara. Realitas tersebut bukanlah sebuah pandangan skeptis atas fenomena perang proksi dan meningkatnya eskalasi politik global yang terjadi saat ini. Fakta telah membuktikan, dampak perang ikut menghancurkan situs warisan dunia yang telah diakui UNESCO sekalipun.

Refleksi kecemasan. tersebut terekam pula dalam rapat Badan Pengurus sebagai tahapan launching dan persiapan jelang Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) Ke-XII pada tahun 2026 yang direncanakan akan berlangsung di Kota Ternate sejak tanggal 24 hingga. 28 Agustus mendatang. Rapat yang berlangsung di Ruang Yudistira Balaikota Jogyakarta dipimpin langsung Direktur Eksekutif JKPI dan dihadiri Ketua Presidium JKPI (Wali Kota Jogyakarta), Walikota Banda Aceh, Bupati Sumbawa, Wakil Walikota Banjarmasin dan Staf Ahli Pemko Semarang dan juga Dewan Pakar JKPI serta audiens anggota JKPI dan komunitas budaya di kanal zoom meeting untuk mengulas berbagai hal penting terkait isu-isu aktual kontemporer dan kondisi masa depan perkotaan yang dihadapi dalam tatanan kehidupan global.

Suasana rapat badan pengurus JKPI di Balaikota Jogyakarta

Beberapa masukan berupa catatan untuk penguatan konsep acara yang disampaikan pada kesempatan ini antara lain sebagai berikut :

Pertama: Forum menyambut baik dan mengapresiasi kerja berbagai pihak yang terus mendorong guna membantu mensukseskan Rakernas XII yang akan digelar di Ternate pada Agustus mendatang dengan mengusung tema “Ternate Episentrum Rempah Dunia”. Tematik ini sekilas nampak sempit dan eksklusif yang seolah terbatas pada karakteristik yang melekat pada kota tuan rumah penyelenggara Rakernas dengan city brandingnya sebagai kota rempah.

Namun sesungguhnya jauh lebih luas dari itu, tematik ini menghubungkan seluruh daerah anggota JKPI pada sebuah time line atau lini masa urutan kronologis dari rangkaian peristiwa panjang perjalanan sejarah bangsa yang membentuk kesadaran kolektif sebagai bangsa maritim dan realitas yang disulam diantara kepulauan nusantara (baca John Craufurd, Sejarah Kepulauan Nusantara) yang bisa kita saksikan saat ini melalui tinggalan arkeologis bandar perdagangan rempahnya, jejak diplomasi budayanya yang menjadi alasan menyatukan kita sebagai sebuah bangsa yang kita kenal saat ini dengan sebutan bangsa Indonesia. Bangsa besar kaya (megadiversity) akan pusaka alamnya (natural resource), pusaka sejarah (historical) dan saujana (heritage) yang memukau sejak dahulu hingga kini.

Kedua: Forum juga berkomitmen untuk memperkuat narasi sejarah agung tersebut diatas yang menghubungkan dan menyatukan satu sama lain sesama anggota JKPI dari potensi kesejarahan bersama sebagai bandar jalur rempah dunia dimasa lalu dan mitra strategis masa depan dalam agenda-agenda pemajuan kebudayaan dan jejaring tatanan dunia global (global network) dalam berbagai bidang, salah satunya melalui program sharing cities yang telah berlangsung selama ini, dimana JKPI berperan aktif dalam isu-isu pembangunan perkotaan baik dari aspek kerjasama hingga adaptasi dalam wujud pembangunan ditingkat lokal.

Program Sharing Cities ini juga dirancang sebagai platform kolaborasi tematik antar kota pusaka melalui program aglomerasi budaya, yaitu sebuah wujud program guna mendorong sinergisitas antar kota dengan kesamaan tema budaya ataupun landscape perkotaannya seperti misalnya kota sungai di Banjarmasin dengan sistim pengelolaan kanal di Amsterdam Belanda, dan lain-lain sebagainya. Hal yang sama sebagaimana di dalam negeri sesama daerah anggota JKPI adalah potensi kolaborasi antara Singkawang (Cap Go Meh) dengan Festival Budaya Tionghoa di kawasan Pecinan kota Yogyakarta. Program pendekatan seperti ini akan ikut membentuk poros budaya baru yang menghidupkan ekonomi kreatif berbasis tradisi.

Selain itu juga, sharing cities ini merupakan momentum untuk menjelajahi situs warisan dunia (UNESCO) & tata kelola museum yang mapan dan profesional sebagai momentum field study untuk membangun daerah masing-masing. Kunjungan bersama ke kota-kota yang memiliki situs warisan dunia seperti ini bukan pula sebatas untuk mempelajari pengelolaan museum bertaraf internasional, pengarsipan sejarah, melainkan pula memberikan banyak peluang kerjasama baik dalam hal ruang pamer seperti yang pernah dilakukan kota Sawahlunto dengan Malaka maupun juga sebagai peluang promosi produk budaya dan pariwisata kota pusaka Indonesia di luar negeri.

Berdasarkan pengalaman yang dilakukan selama ini juga tidak lepas dari peran serta kedutaan besar negara sahabat dan lembaga kebudayaan internasional yang telah turut memberikan kontribusi nyata dalam penyelenggaraan program Sharing Cities JKPI di berbagai negara. Selain itu juga, berbagai isu penting yang dihadapi baik ditingkat lokal, nasional dan tatanan global saat ini juga menjadi perhatian serius terutama yang berkaitan dengan situasi terkini terkait nasib cagar budaya dan permuseuman daerah anggota JKPI yang secara de facto masih minim perhatian atau nyaris terbengkalai karena berbagai alasan klasik yang umumnya terjadi di setiap daerah seperti keterbatasan anggaran, minimnya kualitas SDM dan kompetensi tenaga teknis dalam manajemen tata kelola cagar budaya dan permuseuman (konservator, kurator, edukator, dll) hingga akibat konflik sosial (kerusuhan), perang dan juga bencana alam (banjir, erupsi merapi), termasuk klaim kepemilikan dan penguasaan cagar budaya baik oleh perseorangan maupun kepentingan antara lembaga pemerintah yang timpang dalam tata kelola aset dan warisan budaya.

Penulis bersama Direktur Eksekutif dan badan pengurus JKPI di Kota Jogyakarta

Realitas tersebut terjadi di berbagai daerah anggota JKPI sebagaimana yang terjadi saat ini di kawasan cagar budaya benteng Kuto Besak (BKB) Kota Palembang yang dianggap berpotensi mengancam nilai historis kawasan cagar budaya peninggalan Kesultanan Palembang. Dalam dimensi kebencanaan, kebakaran yang melanda gedung pusat kebudayaan Sawahlunto sebagai salah satu situs warisan dunia (UNESCO) yang diduga korsleting bagian atap bangunan sebagai sumber kebakaran telah berdampak hangusnya suluruh bagian dari bangunan bersejarah tersebut pada tahun 2022 lalu.

Peristiwa ini menjadi peringatan bersama bagi semua pihak untuk sensitif terhadap potensi dan resiko bencana dan kebakaran yang terjadi di kawasan cagar budaya sekaligus menuntut kita untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola bangunan cagar budaya yang sensitif pada bencana. Diperlukan pula upaya dan adaptasi mitigatif dalam perspektif pembangunan perkotaan yang tangguh terhadap bencana.

Dalam tatanan kehidupan dunia global, nasib cagar budaya dan museum telah memberikan banyak pelaajaran berarti bagi kita seperti bagaimana respons pemerintah Perancis pasca kebakaran Katedral Notre-Dame serta protokol perlindungan bangunan kayu bersejarah di Jepang.

Pada konteks demikian, JKPI berkomitmen untuk terus mendorong penyusunan standar mitigasi risiko kebakaran (kebencanaan), audit keselamatan bangunan pusaka, dan peningkatan kapasitas pengelola kawasan heritage di kota-kota anggota JKPI untuk masa depan yang lebih baik dalam upaya pelestarian kota pusaka Indonesia sebagai warisan kota pusaka dunia dan nasib keberlanjutan dari kelangsungan pusaka masa depan.

Akhirnya, Rakernas ke-XII JKPI yang akan berlangsung di Ternate Kota Rempah diharapkan tidak sekedar sebagai pertemuan tahunan yang rutin terselenggara dengan ragam hiburan dekoratif semata melainkan juga sebagai panggung diplomasi budaya rempah yang menegaskan kembali posisi dan masa depan kota-kota pusaka Indonesia dalam sejarah nusantara yang mendunia dan memukau sejak dahulu kala hingga kini dan akan datang. Semoga !

Leave a Comment