Tanggal 14 hingga 16 April kemarin adalah Tahun Baru 2569 era Buddha di sebagian negara ASEAN, Laos (Pi Mai), Kamboja (Chaul Chnam Thmey), Myanmar (Thingyan) dan Thailand (Songkran).
Di Laos perayaan tahun baru dilaksanakan dalam bentuk Festival Boun Pi Mai Lao, juga biasa disebut Pi Mai. “Boun” dalam bahasa Laos berarti melakukan hal-hal baik.
Hari pertama festival menandai hari terakhir tahun lama. Pada hari itu, warga Laos membersihkan rumah dan gang, melambangkan pembuangan masalah tahun lalu. Prabang, patung emas Buddha suci di Laos, secara seremonial dibawa keluar dari Ho Prabang dan diarak ke Vat Mai. Di sana, Prabang diletakkan di pendopo selama tiga hari agar masyarakat dapat memberikan penghormatan dan menuangkan air bunga ke atas patung yang paling sakral ini.

Hari kedua festival disebut sebagai “hari tanpa hari”, atau “Wan Nao“, hari transisi antara tahun lama dan tahun baru. Ini adalah waktu untuk refleksi dan berbuat kebajikan. Banyak orang mengunjungi candi untuk membangun stupa pasir. Melepaskan hewan seperti ikan, kepiting, dan burung juga merupakan kebiasaan, yang melambangkan pembebasan diri dari kesalahan masa lalu dan menumbuhkan welas asih.
Hari ketiga menandai awal tahun yang baru. Perayaan mencapai puncaknya dengan pertunjukan budaya, musik dan tari tradisional. Keluarga berkumpul untuk upacara Baci, di mana benang katun putih diikatkan di pergelangan tangan untuk memanggil kembali roh-roh yang berkeliaran dan memastikan keberuntungan.
Di kota pusaka Luang Prabang, Pi Mai merupakan festival paling meriah dan berlangsung lebih lama, tahun ini dari tanggal 11 hingga 20 April. Dimulai dengan pameran, pasar kerajinan dan kuliner tradisional, dan pemilihan tujuh putri untuk prosesi Nang Sang Khan.

Tujuh putri berperan sebagai anak-anak raja yang membawa kebaikan bagi rakyat Laos. Salah satunya adalah Putri Musim Semi dengan pedang di satu tangan dan cincin api di tangan lainnya.
Prosesi Nang Sang Khan dilaksanakan pada 13 April, Ratu Musim Semi dan enam adik adiknya berada di atas kendaraan hias yang dirias secara mewah dengan bunga, selendang sutra, dan ornamen emas berparade melewati kuil-kuil kuno dan rumah-rumah kolonial, diiringi tabuhan genderang dan alunan musik tradisional Laos.

Nang Sang Khan sejatinya merupakan pementasan legenda tentang Raja Kabinlaphom (Brahma), yang kehilangan nyawa karena kalah bertaruh dengan pemuda bijak Thammaban (Dhammapala), dan sesuai janji kepalanya pun dipenggal.
Raja memperingatkan bahwa jika kepalanya menyentuh bumi, api dahsyat akan melahap dunia, jika menyentuh laut, samudra akan mengering, jika menyentuh langit, hujan tidak akan pernah turun.
Kabinlaphom memerintahkan ketujuh putrinya untuk menempatkan kepalanya di sebuah gua di kaki Gunung Sumeru, tempat yang lokasinya bukan di dunia ini maupun di dunia para dewa.
Mematuhi pesan ayah mereka dan untuk mencegah terjadinya bencana alam, setiap tahun, salah satu dari ketujuh putri tersebut merawat kepala Raja dengan membersihkan dan memimpin prosesi di sekitar kaki Gunung Sumeru.
Legenda ini dipentaskan selama berabad-abad sebagai bagian dari perayaan Tahun Baru, di mana “replika” kepala Kabinlaphom diarak di sekitar “pusat” atau struktur yang mewakili Gunung Sumeru.

Salah satu kegiatan yang tak terpisahkan dalam Festival Pi Mai adalah kegiatan saling menyiram atau perang air. Ini merupakan perluasan dari prosesi menyiram patung Buddha dan dianggap sebagai ritual paling khas, melambangkan penyucian, membersihkan semua nasib buruk, penyakit, dan dosa tahun lalu, serta menyambut tahun baru yang segar.
Warga bersenjatakan ember, selang, dan pistol air, saling menyiram air dalam suasana persaudaraan yang riang dan penuh sukacita. Untuk menunjukkan rasa hormat, kaum muda menyiram air kepada para tetua mereka untuk mendoakan mereka panjang umur dan kemakmuran.
Semakin banyak air yang mengenai seseorang dan semakin basah pakaian mereka, semakin bahagia mereka. Mereka percaya akan mendapatkan banyak keberuntungan sepanjang tahun, dan pada saat yang sama hal itu membuktikan bahwa mereka dicintai oleh banyak orang.

Dalam kesehariannya Luang Prabang hanyalah sebuah kota kecil berpenduduk sekitar 80.000 jiwa, tidak dipenuhi dengan kesibukan. Penduduknya sederhana dan ramah. Kehidupan di sini mengalir perlahan, seperti dua sungai yang coklat dan tenang — Nam Khan dan Mekong bertemu satu sama lain dalam perjalanan mereka mengelilingi Luang Prabang, Shangri-La yang tersembunyi di antara kerimbunan pohon palem dan keharuman bunga kamboja, flamboyan, dan bodhi.
Luang Prabang menjadi situs warisan dunia UNESCO sejak 1995. Majalah CN Traveler menyebut Luang Prabang sebagai kota paling ideal di Asia Tenggara, dan termasuk dalam 50 kota terindah di dunia.

Ibu kota tua yang megah ini memiliki sekelompok kuil Buddha yang berkilauan, istana, dan bangunan administrasi, sisa-sisa kemegahan monarki Laos. Kecil dan padat, kota ini dikelilingi oleh puncak-puncak gunung dan tersamarkan oleh pohon palem dan dedaunan tropis yang lebat.

Kota yang tenang ini tetap menjadi salah satu kota yang paling terjaga keasliannya di Asia, terabaikan oleh perkembangan pesat yang telah melanda wilayah lainnya. Kuil-kuil Buddha dengan relief berlapis emasnya, dan jalan-jalan yang sejuk, kuliner yang lezat, pasar tradisionil, dan penduduk yang ramah melengkapi salah satu tempat luar biasa di Asia.
Sumber: indochinatravel, SEA Heritage & History, bestpricetravel
Baca dokumen: Pengelolaan Pariwisata dan Situs Warisan Budaya di Kota Warisan Dunia Luang Prabang