Skip to content Skip to footer

Bagan, Kota Seribu Pagoda di Tepi Sungai Irrawaddy Myanmar

Di sepanjang kelokan sungai Ayeyarwady di dataran tengah Myanmar, pengunjung disambut oleh pemandangan yang memukau: ribuan pagoda dan candi bagai mawar menyembul tinggi di antara hijau zamrudnya pepohonan dan dataran tanah merah.

Bagan adalah kota kuno di wilayah Mandalay, Myanmar. Dari abad ke-9 hingga ke-13, kota ini menjadi ibu kota Kerajaan Bagan — kerajaan pertama yang menyatukan wilayah-wilayah yang kemudian membentuk Myanmar.

Foto: Steve Allen Photo/Getty Images

Pada masa kejayaan kerajaan antara abad ke-11 dan ke-13, lebih dari 10.000 kuil Buddha, pagoda, dan biara dibangun di dataran Bagan. Kini, tersisa lebih dari 2.200 kuil dan pagoda yang masih bertahan. Kawasan ini merupakan konsentrasi kuil Buddha, stupa, dan biara terbesar dan terpadat di dunia.

Kejayaan Kerajaan Pagan berakhir pada 1287 akibat invasi Mongol. Kota yang pernah dihuni 50.000 hingga 200.000 jiwa itu perlahan menyusut menjadi kota kecil, dan tidak pernah kembali ke masa keemasannya.

Situs Warisan Dunia UNESCO

Bagan adalah lanskap sakral yang menampilkan ragam seni dan arsitektur Buddha yang luar biasa. Properti ini mencakup tujuh hingga delapan komponen, mengandung kuil, stupa, biara, tempat ziarah, serta reruntuhan arkeologi, fresko, dan pahatan yang megah.

Pertama kali dicalonkan sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 1995, namun ditolak karena junta militer yang berkuasa dianggap mengabaikan saran para ahli dalam upaya restorasi. Akhirnya, pada tahun 2019, Bagan resmi ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO — sebuah pengakuan yang dinantikan selama hampir seperempat abad.

Bagan, Situs Warisan Dunia UNESCO. Foto: 22places.com
Pengembangan Pariwisata

Dengan pemandangan alam, danau alami, dan kawasan warisan budaya kuno, pariwisata berbasis komunitas berkembang pesat di Bagan. Kawasan Bagan mengalami pertumbuhan kunjungan wisatawan yang konsisten setiap bulan. Menurut banyak pakar perjalanan, wisata ke Bagan menjadi tren pada 2025 dan 2026 berkat keindahannya yang masih alami dan statusnya sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Pengembangan pariwisata di Bagan diselaraskan secara erat dengan persyaratan konservasi Warisan Dunia UNESCO melalui pengembangan Rencana Pengelolaan Bagan (BMP – Bagan Management Plan). BMP tersebut mencakup Rencana Strategis untuk Pariwisata Berkelanjutan yang bertujuan untuk mengelola pertumbuhan pengunjung sekaligus melindungi Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value) situs tersebut. Pendekatan terintegrasi ini menempatkan pariwisata bukan sebagai risiko bagi warisan budaya, tetapi sebagai alat praktis untuk mendukung tujuan konservasi dan berkontribusi pada pembangunan lokal yang direncanakan dan dikelola dengan cermat.

Tata Kelola dan Koordinasi Lintas Sektor

Tata kelola kelembagaan yang kuat telah menjadi ciri khas pendekatan Bagan terhadap pengelolaan pariwisata berkelanjutan. Inisiatif ini dipimpin oleh Kementerian Perhotelan dan Pariwisata (MOHT – Ministry of Hotels and Tourism), dengan kerja sama teknis dari Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA – Japan International Cooperation Agency), yang memastikan bahwa tujuan pengembangan pariwisata sejak awal telah selaras dengan persyaratan pelestarian warisan budaya.

Untuk mempraktikkan koordinasi ini, Komite Koordinasi Bersama (JCC – Joint Coordination Committees) dan Kelompok Kerja tematik dibentuk, yang menyatukan kementerian terkait, pemerintah daerah dan lokal, organisasi manajemen destinasi, serta asosiasi sektor swasta. Platform ini memungkinkan dialog terstruktur, pengambilan keputusan bersama, dan alokasi peran yang jelas antar lembaga-lembaga yang bertanggung jawab atas pariwisata, budaya, infrastruktur, dan administrasi lokal. Bagan menyadari bahwa menjaga Subak bukan hanya kewajiban lingkungan, tetapi juga kewajiban budaya dan spiritual. Tanpa sistem hidup ini, teras-teras tersebut akan kehilangan makna dan bentuknya.

Foto: tripjive.com
Partisipasi Masyarakat dan Pengembangan Mata Pencaharian Lokal

Partisipasi masyarakat secara sistematis diintegrasikan ke dalam kerangka pariwisata berkelanjutan Bagan sebagai pendekatan implementasi inti, bukan sebagai kegiatan paralel. Rencana Pengelolaan Pariwisata Bagan sangat menekankan pariwisata berbasis komunitas (CBT – community-based tourism) dan peningkatan kapasitas untuk memastikan manfaat langsung bagi penduduk setempat dari pengembangan pariwisata dan kontribusi aktif nya terhadap pelestarian warisan budaya.

Melalui program pelatihan yang ditargetkan dan percontohan inisiatif CBT, masyarakat setempat dilibatkan dalam kegiatan terkait pariwisata seperti produksi kerajinan tangan, jasa pemandu wisata, dan perhotelan skala kecil. Upaya-upaya ini telah memperkuat keterampilan lokal, menciptakan peluang kerja, dan memperdalam pemahaman tentang nilai-nilai warisan budaya, sekaligus menumbuhkan rasa bangga budaya yang lebih kuat di kalangan penduduk.

Manajemen dan Promosi Pariwisata Berkelanjutan

Pengembangan infrastruktur di Bagan dipandu oleh prinsip-prinsip keberlanjutan, kepekaan terhadap warisan budaya, dan pemeliharaan jangka panjang. Fasilitas terkait pariwisata—termasuk pusat informasi, titik pandang, jalur pengunjung, dan rambu-rambu publik—dirancang untuk selaras dengan lanskap bersejarah dan mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh otoritas warisan budaya.

Pendekatan konstruksi memprioritaskan penggunaan material dan tenaga kerja lokal, menghasilkan solusi infrastruktur yang tahan lama, hemat biaya, dan dapat dikelola oleh pemerintah daerah. Selain itu, kontrol terhadap iklan luar ruangan dan modifikasi lanskap telah membantu menjaga integritas visual lingkungan warisan budaya. Pariwisata tetap menjadi mata pencaharian yang layak dan dihormati, bukan mata pencaharian yang ditinggalkan oleh generasi muda.

Foto: shorthandstories.com
Keberlanjutan Lingkungan dan Layanan Urban

Pengelolaan lingkungan telah dianggap sebagai komponen integral dari pengembangan pariwisata berkelanjutan di Bagan. Investasi dalam sistem pengelolaan limbah, infrastruktur pasokan air dan sanitasi, saluran listrik bawah tanah, dan fasilitas transportasi telah membantu mengurangi tekanan lingkungan yang terkait dengan pertumbuhan aktivitas pariwisata.

Perbaikan ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kenyamanan dan keselamatan pengunjung, tetapi juga pada pelestarian jangka panjang lanskap budaya. Fokus pada pengetahuan dan keterampilan membantu penduduk muda membangun karier berkelanjutan tanpa meninggalkan desa mereka.

Pengembangan Sumber Daya dan Kesadaran Publik

Pengembangan sumber daya manusia diakui sebagai faktor pendukung penting dalam pengelolaan pariwisata berkelanjutan di Bagan. Program pelatihan untuk pejabat pemerintah, profesional pariwisata, dan anggota masyarakat diimplementasikan untuk memperkuat kapasitas teknis, meningkatkan kualitas layanan, dan meningkatkan koordinasi kelembagaan.

Upaya ini dilengkapi dengan kampanye kesadaran publik yang mempromosikan perilaku pengunjung yang bertanggung jawab dan memperkuat pemahaman tentang pelestarian warisan di antara penduduk dan pemangku kepentingan utama.

Foto: The Independent

 

Kemampuan Replikasi dan Implikasi Kebijakan

Sebagai model percontohan untuk pengembangan pariwisata regional di Myanmar, Bagan menawarkan pelajaran yang dapat ditransfer untuk destinasi warisan lainnya, yang menggarisbawahi nilai perencanaan jangka panjang, koordinasi kuat antar kelembagaan, keterlibatan masyarakat, dan kerja sama internasional. Pengalaman ini menunjukkan bahwa ketika struktur tata kelola, perencanaan teknis, dan partisipasi lokal terintegrasi secara efektif, pariwisata dapat mendukung pelestarian warisan budaya sekaligus menyediakan jalur yang dapat direplikasi untuk destinasi UNESCO dan destinasi warisan budaya lainnya.

 

Sumber: nationalgeographic.com, asean-japan sustainable tourism,

Bacaan:  

Leave a Comment