Di dalam gua berusia ribuan milenia Adhi penasaran pada sebuah jejak samar, “ini mirip telapak tangan,” pikirnya. Di antara tim terjadi perdebatan apakah itu memang jejak telapak tangan karena sangat samar dan terlalu aus untuk diteliti. Adhi yang sudah berkutat di penelitian gua Sulawesi sejak 2013 bertekad menemukan jejak yang lebih jelas. Berbekal helm dan senter Dr. Adhi Agus Oktaviana bersama timnya masuk lebih dalam lagi. Hasil pencariannya sangat memuaskan, ada deretan cap telapak tangan (hand stencil)yang sangat jelas di dinding dan langit-langit gua. Meski tertutup oleh coraloid speleothem (lapisan mineral gua) namun kemudian terlihat utuh dan jelas. Uniknya, bentuk jari-jari orang purba ini runcing seakan memielihara kuku-kuku panjang, berbeda dengan jejak telapak tangan purba lain di dunia.

Sampel fisik mineral itu diambil dan dikirim ke laboratorium di Australia untuk mengetahui usianya. Dengan metode mutakhir menggunakan laser yang memiliki tingkat presisi sangat tinggi dibandingkan dengan teknik uranium, dipastikan bahwa jejak telapak tangan itu berusia 67.800 tahun.
Temuan ini tentu cukup menghebohkan dunia arkeologi, lukisan gua era paleolitikum (zaman batu pra-10.000 tahun sebelum Masehi) di seluruh dunia umumnya berusia sekitar 40.000 tahun. Namun di Sulawesi ditemukan lukisan figuratif berburu berusia 48.000 tahun dan adegan naratif berusia 51.000 tahun. Sekurangnya temuan ini memperkuat teori Out of Africa yang memperkirakan migrasi manusia ke seluruh wilayah dunia dari Afrika.

“Ini adalah bukti tertua kapasitas manusia untuk berpikir secara abstrak. Lukisan ini sekitar dua kali lebih tua dibandingkan lukisan gua tertua di Eropa yang berumur sekitar 40.000 tahun,” kata Profesor Maxime Aubert dari Griffith University Australia, salah satu anggota tim. Leang Metanduno memperkuat model kronologi panjang, yang menyatakan bahwa manusia telah mencapai daratan Sahul (Australia–Papua) setidaknya sekitar 65.000 tahun lalu yang melibatkan penjelajahan laut antara Kalimantan (Borneo) dan Papua, sebuah wilayah yang hingga kini masih relatif kurang dieksplorasi secara arkeologis. Semoga saja ke depannya setiap pembukaan lahan baru untuk proyek tambang dan perkebunan bisa diawasi oleh para arkeolog, karena gua terluas di dunia saja berlokasi di pulau Kalimantan, Serawak. Ukurannya mencapai sekitar 600 meter x 415 meter dengan tinggi 80 meter. Ruangan ini sangat luas hingga mampu menampung puluhan pesawat Boeing 747 di dalamnya.

Rekor Dunia
Pada Januari 2026, studi yang dilakukan BRIN bekerja sama dengan Griffith University dan Southern Cross University itu dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Nature dengan judul Rock Art From at Least Sixty-Five Thousand Years Ago in Sulawesi
19 Mei 2026 lalu Guinness World Records menobatkan jejak telapak tangan dari gua Metanduno di pulau Muna, Sulawesi Tenggara sebagai lukisan batu tertua di dunia.
Kolaborasi ini telah menghasilkan sekurangnya 12 publikasi di berbagai jurnal bereputasi internasional. Selain publikasi ilmiah, kolaborasi ini juga menghasilkan produk diseminasi pengetahuan yang dimanfaatkan secara global. Salah satu hasil riset digunakan sebagai materi Museum George Lucas di Amerika Serikat melalui kerja sama dengan Google Arts & Culture.

Membuat Jejak Telapak Tangan
Teknik yang digunakan untuk menciptakan siluet telapak tangan purba:
1. Untuk membuat cetakan tangan, peneliti menduga orang-orang purba menggunakan tabung dari tulang berongga atau batang tanaman (seperti alang-alang) untuk meniupkan cat, serta
menggunakan cangkang kerang sebagai wadah cat. Pigmen yang digunakan untuk membuat cat tersebut dihaluskan menjadi bubuk dan dapat diperoleh dari berbagai jenis mineral.
2. Bubuk pigmen dicampur dengan bahan pengikat di dalam cangkang kerang, batang tanaman atau tulang tadi digunakan sebagai alat pengaduk. Peneliti yang mencoba mereplikasi jejak tangan prasejarah menemukan bahwa untuk menghasilkan cat yang cukup encer agar bisa disemprotkan, pelukis era Paleolitikum ini kemungkinan besar menggunakan air sebagai bahan pengikatnya.
3. Pelukis menempelkan satu tangan pada dinding, salah satu tabung digigit, tangan lainnya memegang cangkang kerang dan tabung kedua yang dicelupkan ke dalam cat. Tindakan meniup melalui satu tabung ke arah ujung tabung lainnya menciptakan semburan warna berbentuk awan pada dinding.
4. Saat seniman menjauhkan tangannya dari dinding, terbentuklah siluet dengan warna di sekelilingnya. Warna tambahan ditambahkan menggunakan kuas, atau garis tepi bisa digambar menggunakan arang di sekeliling bentuk tangan tersebut. Permukaan dinding yang tidak rata dapat membantu menciptakan efek tiga dimensi.

Status Cagar Budaya Nasional dan UNESCO
Di antara sekian banyak situs, Leang Metanduno di Pulau Muna menjadi salah satu yang paling potensial untuk dikembangkan, karena lokasinya yang lebih mudah diakses oleh wisatawan. Di dalam gua penuh dengan lukisan purba berwarna cokelat tua yang kabarnya dibuat dari tanah liat, darah hewan buruan, dan getah kayu. Mengagumkan bahwa lukisan-lukisan itu masih tercetak jelas hingga puluhan ribu tahun kemudian.
Aksesibilitas ini membawa tantangan tersendiri bagi kelestarian situs. Adhi memaparkan bahwa paparan uap udara dan suhu panas dari tubuh pengunjung berisiko mempercepat kerusakan serta pengelupasan dinding gua yang menjadi media lukisan purba tersebut. Diperlukan regulasi ketat terkait pembatasan kuota pengunjung. Guna menjembatani kebutuhan edukasi wisata dan konservasi, BRIN mengoptimalkan teknologi digital lewat kolaborasi dengan platform Google Arts & Culture. Melalui inovasi ini, masyarakat luas dapat menikmati ilustrasi hingga mengikuti tur virtual ke puluhan situs gambar cadas Nusantara tanpa harus mengancam kelestarian fisik situs aslinya.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Muna, Hadi Wahyudi, menyampaikan apresiasi atas hasil riset tersebut yang dinilai membawa kebanggaan bagi masyarakat setempat.
“Pemerintah Daerah Kabupaten Muna sangat berbangga dengan hasil penelitian ini, karena memberikan kebanggaan bagi kami sebagai masyarakat Suku Muna. Ini adalah warisan leluhur yang tentu akan terus kita jaga,” ujarnya. Hadi menjelaskan bahwa lokasi temuan berada di kawasan gua yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat provinsi. Ia berharap, ke depan status kawasan tersebut dapat meningkat menjadi cagar budaya nasional, bahkan diusulkan sebagai warisan dunia UNESCO.
“Kawasan ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat provinsi. Harapannya, ke depan, statusnya dapat meningkat menjadi cagar budaya nasional, bahkan warisan dunia UNESCO,” katanya.
Google Arts & Culture: Kanvas Purbakala
Guinness World Records, Kompas, IDN Times, CNN, Knowledge Encyclopedia – History, Book of Incredible History
