Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

REMPAH & GEMA GAMALAMA

(Catatan dari Layar Tancap di Fort Oranje Ternate)

Oleh: Rinto Taib

(Kepala Museum Rempah Kota Ternate)

Sabtu, (2/7) kemarin saya diundang menyampaikan prakata sekaligus mengomentari beberapa film tematik tentang rempah yang dikemas dalam Layar Tancap Spesial Aroma Rempah di Creative Space Z, benteng Oranje Ternate. Sungguh sebuah kehormatan selaku Kepala Museum Rempah yang didaulat memberi prakata dalam pemutaran film karya belasan komunitas kreatif untuk sebuah produksi film bertajuk Gema Gamalama yang di selenggarakan atas kolaborasi komunitas LX Second, Momat dan Caffe Sua. Selain berbagai unsur komunitas yang hadir, juga Bpk. Tulus (manajer BI Ternate) yang membawahi program UMKM dan pembayaran digital, Kadispora Kota Ternate, juga kalangan jurnalis dan mahasiswa.

Dalam berbagai referensi disebutkan bahwa tanaman rempah-rempah telah ditemukan dan dokonsumsi berabad-abad lamanya dimasa lalu. Sumber tertua menyebutkan bahwa rempah-rempah telah dikenal manusia sejak 2000 tahun sebelum masehi. Sementara sumber dari Tiongkok menyebutkan bahwa rempah-rempah telah digunakan dan dikonsumsi manusia sejak 300 tahun lalu sebelum masehi.

Eksistensi rempah-rempah khususnya Pala dan Cengkeh telah turut memberi ruang sekaligus mengubah peran kesultanan Ternate dari yang sekedar institusi adat dengan pewarisan nilai menjadi berubah pada peran politik yang hegemonik di antara kerajaan-kerajaan Nusantara lainnya. Ekspansi dan penaaklukan guna memperoleh legitimasi atas eksistensi sebagai pihak yang memiliki otoritas penuh dalam dinamika ruang kekuasaan lokal dan pengaruhnya pada politik ekonomi global khususnya dalam urusan perdagangan rempah-rempah kala itu hingga dapat menguasai puluhan  pulau yang tersebar di berbagai penjuru (baca Babullah) adalah sebuah konsekuensi dari interaksi politik dan ekonomi dengan dunia luar yang dilatari oleh perebutan dan penguasaan atas rempah-rempah khususnya Pala dan Cengkeh kala itu.

Bpk. Tulus (manajer UMKM BI Cabang Ternate) saat memberi sambutan pada acara layar tancap di Benteng Oranje Ternate

Dapat kita bayangkan, bagaimana Ternate yang tak lain hanyalah sebuah pulau kecil di Indonesia Timur bahkan sulit kita temukan dalam gambar peta dunia dapat melakukan ekspansi politik dan memiliki pengaruh dalam perdagangan dunia, dan disaat yang bersamaan tanpa embel-embel memiliki sumber daya militer layaknya yang dimiliki bangsa kolonial dimasa itu namun faktanya dapat menguasai beberapa kerajaan atau menjadikan wilayahnya sebagai fatsal dari kerajaan Ternate” Pertanyaan sederhana ini menjadi topik menarik saya bersama Bpk. Tulus, seorang jurnalis media nasional dan beberapa teman lainnya di sela acara hiburan seusai pemutaran film. Berbagai alasan dapat kami kemukakan, setidaknya untuk menjawab pertanyaan tersebut diatas, antara lain:

Pertama: adalah faktor kepemimpinan yang kharismatik. Sebagaimana diketahui bahwa para Sultan sejak dahulu hingga kini secara geneologis memiliki kemampuan, kecakapan, kebijaksanaan dan keberanian yang berbeda-beda. Karena kemampuan yang dimiliki tersebutlah mereka mampuh menyemangati serta mempengaruhi rakyatnya untuk patuh dan mengikuti setiap keputusan yang diambil, terlebih dengan kharismanya yang mampuh pemimpin serta mempengaruhi massa rakyat (bala kusu se kamo-kano) untuk menjalankan setiap pilihan keputusannya.

Kepemimpinan yang agung (great leadership) seperti ini juga dapat kita jumpai pada kerajaan-kerajaan lainnya baik di Asia maupun Eropa, bahkan lebih jauh ke belakang jika kita membaca kembali sejarah kenabian terlebih pada kisah Nabi Sulaiman. Bahkan dimasa kini dalam praktek kepemimpinan negara modern, tak jarang kita temui beberapa diantara para pemimpin kharismatik dunia mampuh mempengaruhi serta mengubah dunia dengan kepemimpinannya.

Para penonton layar tancap di Benteng Oranje Ternate

Salah satu dari sekian banyak contoh dalam pengalaman praktek kekuasaan kesultanan Ternate adalah kepemimpinan Sultan Baabullah dalam mewujudkan kejayaan Ternate di masa lalu ataupun kisah Jogugu Hidayat dalam upaya meredam pemberontakan Ambon ketika ingin melepaskan diri dari pengaruh kekuasaan Ternate dimasa lalu. Ataupun juga cerita keberhasilan Jogugu Chairudin Esa Tomagola ketika hadir sebagai representasi kesultanan Ternate dalam mempertahankan eksistensi Banggai sebagai bagian dari teritori dan kesejarahan kesultanan Ternate dimasa lalu.

Kedua, adalah mistisisme agama dalam praktek kekuasaan. Pada konteks ini, seorang raja atau sultan ataupun tokoh tertentu memiliki kesaktian yang mampuh mempengaruhi dan menciptakan sebuah tatanan ideal sebagaimana yang diharapkan. Sebut saja misalnya, adanya ritual tertentu yang dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian sebuah penaklukan. Meskipun sulit dipercaya secara logis namun faktanya dapat kita temukan pada peninggalan artefak sejarah masa lalu serta ritus yang masih dipertahankan sebagai upaya merawat tradisi dimasa kini serta penuturan secara lisan kalangan tertentu yang secara geneologis adalah pewaris tradisi itu sendiri.

Para penonton layar tancap di Benteng Oranje Ternate

Sebuah pembenaran akan hal ini adalah berdasarkan hasil riset penulis dalam melusuri jejak ekspansi kesultanan Ternate di kepulauan Sula. Dari penuturan seorang Sangadji menetap di sekitar kawasan Air Santosa dan juga keberadaannyamerupakan satu-satunya bukti sejarah yang memperkuat argumentasi ini. Sebagaimana keberadaan Air Santosa yang terletak di halaman depan keraton Sultan Ternate. Negeri Sula atau Sanana juga memiliki Air Santosa yang memiliki bukan saja kesamaan nama malainkan pula sejarah keberadaan adalah berasal dari air Santosa di Ternate. Sebagaimana penuturan Bpk. Abdurrahman Sangadji, juru kunci Air Santosa yang saya temui pada hari Jumat, tanggal 1 Juli 2017 lalu di kediamannya yang berada tak jauh dari Air Santosa, Desa Fukweu Kabupaten Kepulauan Sula.

Sejarah awal ketika Air Santosa yang dibawa dari Ternate tersebut diletakkan dalam wadah bambu yang ditutupi dengan sejenis dedaunan. Atas izin Tuhan yang Maha Kuasa, sepotong bambu berisikan air tersebut kemudian ditancapkan ke dalam tanah dan menjadi sumber air yang seolah ditanam sehingga keberadaan air tersebut masih dapat kita temui bahkan digunaakan oleh masyarakat tempatan hingga kini.

Cerita menarik lainnya bahwa selain para prajurit, orang-orang yang berpergian bersama Sultan dimasa lalu adalah mereka yang memiliki kemampuan ilmu dan kesaktian sehingga jarak tempuh yang jauh antar pulau hanya dijangkau dalam waktu yang singkat. Konon, dengan tiga kali gayun, sembari mengucap do’a tertentu, mereka sampai di tempat tujuan. Mistisisme agama seolah menjadi sebuah jawaban dibalik kesuksesan, termasuk dalam urusan ekspansi kekuasaan politik dan kejayaannya yang tertulis dalam tinta emas peradaban negeri rempah di masa lalu. Ternate sebuah kerajaan dengan luas wilayah pulaunya yang relatif kecil mampuh mengukir sejarah besar dan gemilang dimasa lalu hingga kini. Gema Gamalama bukan sekedar sebuah judul film melainkan harapan yang terus hidup tentunya.

Entah kebetulan ataukah benar-benar mengandung kesaktian dari para pendahulu kita, cerita tentang Air Santosa yang dibawa oeh Sangadji Manuru dari Ternate ke tanah Sula pada masa kepemimpinan Sultan Ternate Said Barakati yang berkuasa sejak tahun 1606-1610. seolah menjadi petunjuk bagi kita untuk menemukan sebuah kebenaran sejarah di masa kini sekaligus menguak alasan keberhasilan penguasaan politik dan jejak ekspansi bumi rempah yang menjadi penting untuk terus digali, termasuk lewat karya kreatif dilayar tancap tentunya.

Leave a Comment