Skip to content Skip to footer

Tusukan Kecil, Dampak Besar: Belajar dari Curitiba untuk Menghidupkan Sungai Banjarmasin

oleh: Dr. (Cand) Asfarinal, M.Si.

Arsitektur (UGM), Kajian Perkotaan (UI), Arkeologi (studi, UI)

 

Kota Banjarmasin pernah dijuluki sebagai “Kota Seribu Sungai”. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, julukan itu lebih menjadi kenangan daripada kenyataan. Sungai-sungai yang dulunya menjadi jalur kehidupan, kini banyak yang berubah menjadi saluran limbah, terlupakan di balik bangunan beton dan jalan yang padat. Bahkan, dalam program 100 hari Walikota terpilih, permasalahan sampah menyita waktu dan pikirannya, karena permasalahan persampahan menjadi permasalahan utama kota Banjarmasin. Di saat yang sama, sebuah kota di belahan lain dunia Curitiba, Brasil berhasil membuktikan bahwa dengan sentuhan kecil namun tepat sasaran, wajah kota bisa berubah total. Inilah konsep yang disebut urban acupuncture.

 

Curitiba dan Tusukan Revolusioner Jaime Lerner

Jaime Lerner, wali kota Curitiba di tahun 1970-an, memperkenalkan pendekatan radikal dalam kesederhanaannya. Ia percaya bahwa kota tidak harus diubah melalui megaproyek miliaran dolar, melainkan melalui intervensi kecil yang cerdas, cepat, dan berdampak luas. Dengan prinsip ini, Curitiba mengembangkan sistem Bus Rapid Transit (BRT ) pertama di dunia, membangun taman-taman multifungsi untuk mengendalikan banjir, serta menciptakan program revolusioner bernama Green Exchange.

Dalam program ini, warga miskin yang tinggal di kawasan sulit dijangkau truk sampah, dapat menukar sampah yang mereka kumpulkan dengan makanan, tiket bus, atau perlengkapan sekolah. Ini bukan sekadar program kebersihan, tapi skema keadilan sosial yang menyentuh masalah lingkungan, pangan, dan mobilitas sekaligus.

Hasilnya? Curitiba menjadi salah satu kota paling berkelanjutan di dunia, tanpa mengandalkan utang besar atau ketergantungan pada lembaga internasional. Semua dimulai dari keyakinan bahwa satu “tusukan” kecil bisa mengalirkan energi positif ke seluruh tubuh kota.

 

Banjarmasin: Sungai, Sampah, dan Harapan

Bandingkan dengan Banjarmasin. Sungai masih ada. Perahu masih melintas. Tapi fungsi sosial, ekonomi, dan ekologisnya perlahan menghilang. Sampah rumah tangga mengalir bebas. Dermaga-dermaga lama terbengkalai. Kampung-kampung air kehilangan koneksi dengan sungainya.

Masalahnya bukan pada ketiadaan dana, melainkan pada pendekatan. Kota ini masih melihat pembangunan sebagai urusan besar: bangunan besar, jalan besar, proyek besar. Padahal, perubahan bisa dimulai dari satu dermaga tua yang dihidupkan kembali sebagai taman komunitas, dari satu halte apung yang melayani perahu-perahu warga, atau dari satu sistem tukar sampah yang memberi insentif langsung bagi ibu-ibu rumah tangga.

 

Membayangkan Urban Acupuncture di Banjarmasin

Apa yang terjadi jika Banjarmasin mengadopsi strategi Curitiba?

Taman Komunitas Sungai: Dermaga lama disulap menjadi taman bambu sederhana, dengan bangku, panggung kecil, dan lampu tenaga surya. Tempat ini jadi titik pertemuan warga, tempat anak-anak bermain, dan ruang bagi seni dan budaya kampung.

Halte Apung dan Transportasi Air: Dibangun halte kecil di titik strategis, memungkinkan perahu warga beroperasi secara reguler. Banjarmasin kembali ke jati dirinya sebagai kota sungai, bukan hanya kota kendaraan bermotor.

Tukar Sampah, Dapat Pulsa: Model Green Exchange dimodifikasi: warga yang membawa sampah anorganik ke titik kumpul bisa menukarnya dengan pulsa, sembako, atau tiket perahu. Sampah dikumpulkan oleh koperasi lokal, didaur ulang, dan menjadi sumber ekonomi baru.

Revitalisasi Warisan Sungai: Kampung air seperti Kuin, Pasar Lama, dan Kampung Hijau tidak lagi dianggap kawasan tertinggal, tetapi sebagai aset budaya. Arsitektur dermaga, pola ruang terapung, hingga narasi warga bisa menjadi bagian dari ekowisata dan edukasi kota.

 

Dari Replikasi ke Kolaborasi

Untuk mewujudkan itu semua, perlu perubahan cara pikir. Pemerintah kota harus menjadi fasilitator, bukan operator tunggal. Komunitas, akademisi, dan swasta harus diajak sebagai kolaborator. Universitas lokal seperti ULM bisa menjadi laboratorium desain urban mikro. Komunitas kampung bisa terlibat dalam pengawasan, perawatan, dan ide desain.

Pendekatan ini murah. Cepat. Dan bisa dimulai besok. Kita tak perlu menunggu perubahan sistem nasional atau bantuan luar negeri. Cukup dengan satu titik intervensi yang berhasil, resonansi perubahan akan menyebar.

 

Membangun Kota dari Tepi Sungai

Jaime Lerner pernah berkata, ” To begin a city transformation, you just need a little acupuncture to make the city feel again.” Kita bisa memulai dari satu sudut Banjarmasin. Satu taman. Satu halte. Satu dermaga.

Tusukan kecil ini bisa membangunkan kembali memori kolektif kita tentang sungai. Bisa menyambung kembali relasi warga dengan kotanya. Dan bisa menjadi titik balik bagi Banjarmasin untuk menjadi bukan hanya kota sungai, tapi kota masa depan yang berakar pada warisannya.

 

Catatan Penutup:

Artikel ini didasarkan pada studi kasus Curitiba dan analisis kondisi Kota Banjarmasin tahun 2020–2025. Ditulis sebagai upaya membangun narasi baru dalam pembangunan perkotaan yang partisipatif, ekologis, dan inklusif.

Leave a Comment