Pekan Budaya Hilisimaetanö 14 – 21 Juni 2026
Hilisimaetano, desa adat di Nias Selatan yang kaya akan tradisi dan kearifan ekonomi lokal mengajak pengunjung menyelami kekayaan budayanya melalui Maniamolo Fest 2026. Pekan perayaan ini menghadirkan beragam praktik adat yang terus dipertahankan, mulai dari famadaya harimao yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2024 hingga tarian perang kolosal dan tradisi lompat batu. Festival ini menawarkan pengalaman budaya imersif dengan melibatkan interaksi langsung antara pengunjung dan masyarakat desa adat.

Secara administratif, Hilisimaetano terletak di Kecamatan Maniamolo, Kabupaten Nias Selatan, Propinsi Sumatera Utara. Ia juga merupakan Pusat Pemerintahan Kecamatan Maniamölö.
Seiring dengan pelaksanaan Otonomi Daerah, Hilisimaetanö kemudian dimekarkan menjadi: Desa Induk Hilisimaetanö (Boto mbanua), Idala Jaya Hilisimaetano, Samadaya Hilisimaetano, Soto’ö Hilisimaetano, Hiliaurifa Hilisimaetano, Ndraso Hilisimaetano, Faomasi Hilisimaetano, Eho Hilisimaetano, Pekan Hilisimaetano, dan Bonia Hilisimaetano.
Jumlah Penduduk Hilisimaetanö tahun 2021 adalah 1.932 jiwa, dengan jumlah Kepala Keluarga 576 KK, dan masyarakat mayoritas bermata pencaharian sebagai petani (sawah, Kebun Karet, Kebun Kelapa, dll). Hilisimaetanö juga merupakan salah satu lumbung padi terbesar yang ada di kepulauan Nias.
Pemukiman Tradisional Desa Hilisimaetanö (Boto mbanua) merupakan kampung yang terpanjang di seluruh Kepulauan Nias, terbentang sepanjang + 500 meter.
Hiliamaigila adalah asal dari Hilisimaetanö. Dari kampung tua ini kemudian mereka menyebar ke beberapa kampung lain, seperti Bawögosali dan Hilimaenamölö.
Dari masa ke masa hingga sekarang, pusat öri (negeri) Maniamölö adalah Hilisimaetanö. Ia juga merupakan salah satu Desa Adat tertua di Kepulauan Nias. Sampai saat ini Desa Hilisimaetanö masih teguh menjaga nilai adat, dimana para Si’ulu (Bangsawan) masih berfungsi sebagai pemangku kepemimpinan adat. Si’ila (Cendekiawan) menjadi tetua adat sebagai pemberi pertimbangan kepada bangsawan dan Sato/Fa’abanuasa (masyarakat umum) masih bekerjasama untuk menjaga Lakhömi mbanua (marwah desa).
Dari desa tua Hiliamaigila, sampai ke Hilisimaetanö sistem adat dan budaya ini masih tetap terpelihara dan dijalankan sampai saat ini.
Sumber: Katalog KEN 2026