Skip to content Skip to footer

Biennale Venesia 2026. Refleksi Rasa dan Waktu dalam Nada-Nada Minor.

Biennale Venesia (La Biennale di Venezia) sering dijuluki sebagai “Olimpiade Dunia Seni”. Acara ini bukan sekadar pameran, melainkan sebuah barometer yang mengukur detak jantung seni rupa kontemporer dunia. Di tahun 2026 ini, perhelatan akbar tersebut kembali digelar dan membawa nuansa yang sangat reflektif di tengah hiruk-pikuk dunia modern. Pada hari pertama, 9 Mei 2026, dikunjungi sekitar 10.000 orang, meningkat 10% dibanding pada hari pertama Biennale 2024.

Foto: arttravel.co.nz
Dalam Nada-Nada Minor

Edisi ke-61 ini berlangsung dari 9 Mei hingga 22 November 2026 di lokasi ikonik Venesia: Giardini dan Arsenale serta 20 lokasi lain yang tersebar di seluruh kota.

Mengusung tema In Minor Keys, pameran tahun ini mengajak audiens untuk menjauh dari tontonan yang serba cepat dan megah, menuju cara menikmati seni yang lebih lamban, penuh perhatian, dan berakar pada empati. Sesuai dengan istilah musik yang dipinjamnya, pameran ini menonjolkan respons sensorik, emosional, dan menempatkan seni sebagai ruang pemulihan (healing) dan refleksi. Nada-Nada Minor bukan tentang kesedihan, melainkan tentang nuansa, tentang emosi yang tidak perlu dikeraskan untuk menjadi kuat. Nada-Nada Minor di sini adalah tentang mendengarkan tidak hanya seni tetapi juga dunia di sekitar kita. Nada-Nada Minor sebagai metafora untuk pulau-pulau kecil, pengalaman yang sulit dipahami, dan oase kepedulian.

Edisi ini juga dibuka dalam sebuah gerakan global yang kompleks dan secara alami telah menghasilkan percakapan tentang partisipasi, representasi, dan peran lembaga budaya global. Berbagai perspektif dari 99 negara peserta mencerminkan betapa penting dan sensitifnya platform budaya internasional saat ini. Pada saat yang sama, kepemimpinan Bienalle menegaskan komitmennya untuk tetap membuka ruang bagi dialog. Bianale menjadi benar-benar relevan karena bukan hanya tempat untuk melihat seni. Ini adalah tempat untuk merenung, untuk mengamati bagaimana budaya merespons dunia yang berubah, tetapi bukan dengan menyederhanakannya, melainkan menciptakan ruang untuk kesadaran. Alih-alih mengusung komentar keras dan didaktik tentang krisis global, visi kurator mendorong audiens untuk memperlambat dan mendengarkan frekuensi yang lebih rendah—seni yang menyehatkan, menyembuhkan, dan memupuk komunitas.

Foto: Veniceevents.com

In Minor Keys memiliki nilai emosional yang mendalam karena dikuratori oleh mendiang Koyo Kouoh, seorang kurator asal Kamerun yang juga merupakan perempuan Afrika pertama yang memimpin pameran ini. Ia meninggal dunia sebelum pameran dibuka, sehingga edisi 2026 ini merupakan pameran “anumerta,” proyek seorang kurator yang suaranya terus berlanjut melalui karya orang lain. Sebuah upaya kolektif untuk menghormati visi yang dibangun di atas perhatian, kepedulian, dan hubungan antar manusia.

Peran saya sebagai perempuan Afrika pertama yang menjadi kurator biennale ini bukanlah tentang personal legacy. Meski saya sadari pentingnya menjadi perempuan Afrika pertama, saya berharap penunjukan saya bisa menjadi preseden, bukan sesuatu yang luarbiasa. Visi saya di masa depan milestones seperti ini tidak lagi luarbiasa, karena akan begitu banyak orang lain mengikuti jejaknya. Ukuran kemajuan yang sebenarnya bukanlah menjadi yang pertama, tetapi memastikan pintu tetap terbuka lebar bagi orang-orang berikutnya. ~ Koyo Kouoh 

Kehadiran Indonesia
Foto: Scuola Internazionale di Grafica

Indonesia turut memberikan warna yang kuat. Melalui kurasi Paviliun Indonesia oleh Aminudin TH Siregar, seniman-seniman senior Agus Suwage dan Mariam Sofrina dipertemukan dan berkolaborasi dengan seniman-seniman muda daerah—dari Aceh hingga Nusa Tenggara Timur. Mereka menghadirkan ruang dialog visual dan “negosiasi antargenerasi” yang tulus dan berani di kancah internasional.

Paviliun Indonesia bertempat di Scuola Internazionale di Grafica. Dipresentasikan dengan tema “Printing the Unprinted (Mencetak yang Tak Tercetak),” proyek ini menyatukan tujuh seniman, produksi karya seni, pameran, lokakarya, dan simposium.
Karya-karya yang dipamerkan di Paviliun Indonesia dibuat di laboratorium cetak Scuola selama masa residensi seniman.

Sebuah Pameran yang Diproduksi di Venesia

Para seniman yang diundang menciptakan karya mereka selama masa residensi di Scuola Internazionale di Grafica, menggunakan laboratorium cetaknya dan berkolaborasi dengan staf teknis Scuola. Karena itu, pameran ini bukan hanya dipamerkan di Venesia, tetapi juga diproduksi di Venesia dalam sebuah lokakarya seni yang aktif. Proses ini menciptakan dialog antara penelitian artistik kontemporer dan tradisi Venesia dalam seni cetak halus.

Printing the Unprinted 

Manuskrip rekaan berjudul ‘Mentjap jang Tiada Bertjap: Plajeran Agoeng‘ menjadi titik tolak narasi dalam karya-karya yang ditampilkan. Walau berangkat dari sebuah rekaan, Aminudin TH Siregar menyatakan bahwa narasi yang dipercakapkan sama sekali tak melarikan diri dari sejarah dan dikembangkan melalui tiga inti tematik utama:

Materials and Metaphors of Disappearance. Karya-karya yang merefleksikan proses erosi, penghapusan, dan transformasi.
Suppressed Narratives and Unheard Voices. Kisah-kisah yang terpinggirkan atau disensor yang diungkapkan melalui praktik artistik.
The Reversal of Discovery Pembacaan ulang sejarah global yang mengusulkan perspektif baru tentang narasi penemuan.

“Fiksi dihadirkan sebagai serangkaian pertanyaan tentang bagaimana sejarah mengkonstruksikan dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan tersebut meminta kita untuk kembali menyadari siapa yang memiliki kuasa untuk menarasikan dunia dan kemudian mencatatkan pengetahuan tersebut sebagai arsip serta siapa-siapa yang pengalamannya terus terkubur tanpa catatan,” ujarnya.
Tujuh seniman -Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agusyina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin- menyiapkan langsung seluruh karya kolaborasi mereka di Venesia.

Foto: Liputan6

Paviliun di dalam Scuola Internazionale di Grafica

Tema Biennale, Dalam Nada-Nada Minor, juga membangkitkan refleksi tentang tempat-tempat pembelajaran dan transmisi pengetahuan.
Di Venesia, kata “scuola” secara historis merujuk pada komunitas praktik: ruang di mana pengetahuan dan keterampilan beredar melalui kolaborasi dan pengalaman bersama. Scuola Internazionale di Grafica melanjutkan tradisi ini sebagai lingkungan kerja di mana seniman, siswa, dan guru bertemu dan bertukar teknik dan ide. Menempatkan Paviliun Indonesia dalam konteks ini menciptakan dialog alami antara perhatian Biennale pada narasi yang lebih tenang dan praktik sehari-hari dalam pembelajaran dan produksi artistik.

Seni Cetak Berkelanjutan
Produksi karya untuk Paviliun Indonesia dilakukan menggunakan teknik seni cetak berkelanjutan yang dikembangkan dan dipraktikkan di laboratorium Scuola Internazionale di Grafica. Karya-karya tersebut dibuat dengan teknik etsa atau drypoint pada pelat tembaga, menggunakan tinta next-generation yang berbasis kedelai, dapat dicuci dengan air dan sabun serta dirancang untuk mengurangi penggunaan pelarut konvensional. Praktik-praktik ini merupakan bagian dari pendekatan seni cetak yang menggabungkan kualitas teknis, perhatian terhadap material, dan keberlanjutan—pendekatan yang telah dipromosikan oleh Scuola selama bertahun-tahun melalui program residensi, lokakarya, dan kegiatan pengajaran yang ditujukan kepada mahasiswa dan seniman dari seluruh dunia.

Foto: Liputan6

Sambutan Menteri Kebudayaan

Dalam sambutan pengantar sebelum membuka pameran, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebutkan bahwa partisipasi Indonesia dalam Venice Biennale ke-61 merupakan bukti komitmen negara untuk memastikan budaya dapat berdiri di pusat pembangunan, diplomasi, ekonomi dan menjadi kontribusi bagi peradaban dunia.

Menbud juga mengaitkan tema Paviliun Indonesia dengan dua narasi penting tentang Indonesia sebagai negara maritim yang memiliki Mega Diversitas dengan 17.000 pulau, 1.340 kelompok etnis, dan 718 bahasa daerah. “Kedalaman sejarah ini memberi kami keharusan untuk bertanggung jawab dan inspirasi untuk melanjutkan narasi peradaban kami bagi dunia,” katanya.

Terkait tema ‘Printing the Unprinted: The Reversal of World Discovery’, Fadli Zon mengajak seluruh pengunjung pameran untuk menyambut tema tersebut sebagai upaya untuk terus mengambil bagian dalam percakapan global tentang sejarah, ingatan, imajinasi dan masa depan budaya. Pameran “Printing the Unprinted” Paviliun Indonesia di Venice Biennale akan berlangsung hingga 22 November 2026 mendatang.

Biennale Venesia dari masa ke masa

Didirikan pada tahun 1895, Venezia Biennale diakui sebagai perhelatan dwitahunan tertua dan paling bergengsi di dunia seni visual.

Awalnya diciptakan oleh pemerintah kota Venesia untuk merayakan hari pernikahan perak Raja Umberto I dan Margherita dari Savoy, pameran ini dengan cepat berekspansi dari sekadar etalase seni Eropa menjadi panggung internasional yang sesungguhnya. Format pamerannya unik: mengombinasikan pameran sentral yang diarahkan oleh satu kurator utama, serta paviliun-paviliun nasional mandiri yang mewakili berbagai negara.

Seiring berjalannya waktu, Biennale melahirkan berbagai festival turunan yang tak kalah prestisiusnya, seperti Biennale Arsitektur (yang diadakan bergantian setiap tahun dengan seni rupa), serta festival film, teater, musik, dan tari. Melalui dua Perang Dunia, Perang Dingin, hingga krisis modern, Venezia Biennale terus bertahan, merekam jejak peradaban manusia dari masa ke masa. Sepanjang usianya yang lebih dari satu abad, Venezia Biennale telah menjadi saksi bisu sekaligus panggung utama bagi perubahan-perubahan radikal dalam sejarah seni dan peradaban.

1895 – Setelah dua tahun perencanaan oleh Walikota Riccardo Selvatico dari Venesia, kota ini merayakan ulang tahun pernikahan perak Raja Umberto dan Ratu Margherita dengan Pameran Seni Internasional Kota Venesia ke-1, yang dibuka pada 30 April 1895. Pameran ini menggunakan taman umum kota, Giardini di Castello, yang dibuat oleh Napoleon. Dirancang sebagai ajang pameran seniman internasional baru dan terkini, menurut arsip Biennale Venesia pameran ini menarik lebih dari 200.000 pengunjung, .

1907 – Hingga tahun 1907, hanya ada satu paviliun pusat yang menampilkan karya seni dari berbagai negara Eropa. Belgia membangun paviliun nasional independen pertama, untuk memamerkan karya negaranya. Setelah itu, Paviliun Inggris, Hongaria, dan Bavaria, untuk Jerman, dibangun pada tahun 1909; Prancis dan Belanda pada tahun 1912; dan Rusia pada tahun 1914. Paviliun lainnya akan dibangun kemudian.

1910 – Filippo Tommaso Marinetti, penulis Manifesto Futurisme tahun 1909, dan sekelompok seniman yang berpikiran sama, menjatuhkan manifesto dari puncak Campanile ke Piazza San Marco. Selebaran itu mengecam cara-cara lama kota, mengusulkan pembakaran semua gondola dan penghancuran istana-istana yang runtuh. Ini adalah cara para seniman untuk menyerukan penerimaan modernitas dan avant-garde radikal.

Aksi tersebut terjadi tepat sebelum pameran karya seni Futurisme di Biennale, jelas Debora Rossi, kepala arsip organisasi tersebut, dan dirancang untuk menghasilkan publisitas untuk pameran karya Umberto Boccioni. “Sebagian dari gagasan gerakan itu adalah untuk memprovokasi,” katanya. “Itu adalah sebuah pertunjukan.” Dilihat dari sudut pandang itu, ini adalah karya seni pertunjukan politik pertama yang pernah dipamerkan di Biennale.

1930-an – Saat Benito Mussolini menjabat sebagai perdana menteri Italia, Biennale Venesia menjadi “alat politik bagi pemerintah fasis” dan “instrumen propaganda,” kata Cecilia Alemani, salah satu kurator Biennale Venesia 2020.
Alemani menjelaskan bahwa, atas perintah pemerintah fasis, aula pameran dipenuhi dengan seni klasik yang disetujui dan seni yang secara eksplisit “tentang kekuatan militer.” Sekitar setahun setelah menjadi kanselir Jerman, Hitler bertemu Mussolini untuk pertama kalinya pada Juni 1934, sebelum mengunjungi Biennale Venesia 1934. Mereka melakukan perjalanan bersama ke Giardini di Grand Canal dengan perahu, disambut sorak sorai kerumunan di jembatan dan tepian sungai. Hitler difoto bersama para pemimpin Italia lainnya di aula Paviliun Jerman.

1948 – Setelah Biennale Seni dibatalkan mulai tahun 1943 karena perang, pameran besar pascaperang pertama menekankan kebebasan berekspresi bagi para seniman. Pablo Picasso memamerkan karyanya di Biennale untuk pertama kalinya. Kolektor seni Amerika Peggy Guggenheim diundang untuk menggunakan paviliun Yunani (ditutup saat negara itu dilanda perang saudara) untuk memamerkan koleksi Kubisme, Futurisme, abstraksi, dan Surealisme — bentuk-bentuk seni yang dicap “degeneratif” oleh Nazi, dibuang atau dibakar, sementara para seniman dianiaya.

Guggenheim juga memperkenalkan bentuk seni baru dari kancah New York, termasuk Robert Motherwell, Alexander Calder, Mark Rothko, dan Jackson Pollock di awal kariernya. Ini adalah momen pertama seni avant-garde Amerika menginjakkan kaki di panggung Eropa..

1964 – Sebelum tahun 1964, paviliun Amerika tidak dikelola oleh pemerintah AS, tetapi oleh koperasi seniman, dan kemudian oleh Museum Seni Modern New York. Pada puncak Perang Dingin, para pejabat Departemen Luar Negeri mulai memandang Biennale dengan cara baru, dan Badan Informasi Amerika Serikat, sebuah badan diplomatik pemerintah, mengambil alih kendali. Amei Wallach, sutradara “Taking Venice,” sebuah film dokumenter tentang Biennale ke-32 itu, menjelaskan bahwa para pejabat melihat acara tersebut sebagai platform potensial untuk melancarkan “cultural Cold War” dengan Uni Soviet.

Delegasi seniman Pop Amerika, termasuk Roy Lichtenstein, Jasper Johns, dan Robert Rauschenberg, menggemparkan Biennale, dengan dukungan tim yang dipimpin oleh orang dalam Washington, Alice Denney, kurator Alan Solomon, dan pedagang seni Leo Castelli. Karena menemukan paviliun Amerika terlalu kecil untuk pameran mereka, tim tersebut mengubah Konsulat AS yang tidak terpakai di Venesia menjadi galeri.

Seniman Amerika, Robert Rauschenberg, memenangkan penghargaan tertinggi Golden Lion untuk karya “kombinasinya” yang menggabungkan sablon sutra yang menampilkan simbol-simbol Amerika tahun 1960-an — pertama kalinya seorang Amerika memenangkan hadiah tersebut. Kemenangan ini memicu kemarahan para kritikus Eropa yang menuduh bahwa penghargaan tersebut adalah hasil dari “imperialisme budaya” Amerika. Edisi ini menjadi simbol pengakuan global terhadap gerakan Pop Art yang mendobrak batas antara high art (seni tinggi) dan budaya pop/komersial.

1968 – Tahun 1968 adalah tahun revolusi sosial dan protes mahasiswa di seluruh Eropa (terutama di Prancis dan Italia), dan Biennale tidak luput dari gejolak ini. Sambil membawa tanda bertuliskan, “Biennale Mati,” para pengunjuk rasa berhasil menduduki beberapa paviliun nasional dan memutar karya seni menghadap tembok. Beberapa seniman menarik karya mereka untuk mendukung protes tersebut. Bentrokan tersebut memaksa institusi Biennale untuk mereformasi dirinya dan mulai lebih peka terhadap dinamika sosial politik kelas pekerja dan masyarakat luas, termasuk revisi tahun 1973 terhadap statuta dasar Biennale yang tidak berubah sejak era Mussolini.

1974 – Presiden baru Biennale, Carlo Ripa di Meana, seorang sosialis, membuka apa yang disebut “Biennale Baru,” yang dirancang untuk menekankan politik demokratis dan perubahan sosial. Ia menutup paviliun dan mendedikasikan platform pameran di ruang publik untuk satu pameran “antifasis” sebagai tanggapan terhadap kudeta militer oleh Augusto Pinochet di Chili. Berjudul “Libertà al Cile” acara ini mencakup konser, pertunjukan teater, dan mural jalanan yang dilukis di tempat.

1977 – “Biennale of Dissent (Biennale Pembangkangan)” menyoroti seniman dari Uni Soviet dan negara-negara blok Komunis lainnya, seperti Cekoslowakia, yang menampilkan seni, teater, dan film Soviet yang dibuat oleh para pembangkang di dalam dan luar negeri. Pameran seni, “New Art From the Soviet Union. an Unofficial Perspective (Seni Baru dari Uni Soviet: Sebuah Perspektif Tidak Resmi),” menampilkan sekitar 300 karya oleh 70 seniman Soviet yang tidak disetujui oleh negara, yang membuat marah otoritas Soviet, yang kemudian menarik diri dari Biennale selama beberapa tahun.

1993 – Edisi ini berlangsung tak lama setelah runtuhnya Tembok Berlin dan berakhirnya Perang Dingin, sehingga atmosfernya sangat bermuatan politis. Kurator Achille Bonito Oliva memperkenalkan pameran internasional yang mendobrak batas-batas paviliun nasional. Namun, momen paling ikonik yang menarik perhatian dunia adalah karya seniman Hans Haacke di Paviliun Jerman. Ia secara harfiah menghancurkan lantai marmer paviliun tersebut (yang dulunya dibangun ulang pada era Nazi/Hitler) dan membiarkan pengunjung berjalan di atas puing-puingnya. Karya berjudul Germania ini menjadi salah satu karya instalasi paling kuat tentang trauma sejarah dan memenangkan Golden Lion.

1997 – Di tengah perang di Yugoslavia, seniman Serbia Marina Abramovic mempersembahkan “Balkan Baroque,” ​​sebuah instalasi di mana ia duduk di tumpukan tulang hewan dengan gaun putih, menangis dan menyanyikan lagu-lagu rakyat Balkan sambil mencoba membersihkan tulang-tulang tersebut, sementara darah menodai gaunnya. Karena saat itu musim panas di Venesia, karya tersebut memiliki bau yang menyengat, meninggalkan kesan mendalam pada para pengunjung.

2015 – Dikuratori oleh Okwui Enwezor (mendiang kurator legendaris asal Nigeria), ini adalah pertama kalinya Venezia Biennale dikuratori oleh seorang kurator kelahiran Afrika. Edisi ini dipuji karena secara frontal menantang narasi seni Barat. Pameran ini sangat politis, gelap, dan mengkritik kapitalisme global, ketidaksetaraan, dan krisis lingkungan. Salah satu performa sentralnya adalah pembacaan buku Das Kapital karya Karl Marx secara terus-menerus setiap hari selama pameran berlangsung.

2020 – Pandemi Covid-19 menunda Biennale Arsitektur 2020 selama setahun. Meskipun semua paviliun nasional di Giardini ditutup pada tahun 2020, paviliun pusat dikhususkan untuk satu pameran: “Le muses inquiete. When La Biennale di Venezia Meets History” yang dikuratori bersama oleh Alemani, menggunakan dokumen arsip dan karya seni.

2022 – Edisi Biennale 2021 juga ditunda dan dilaksanakan pada tahun 2022. Alemani, direktur artistik wanita Italia pertama, mengkurasi pameran “The Milk of Dreams.” Lebih dari 80 persen karya berasal dari seniman wanita dan non-biner. Acara itu juga menandai jenis keterbukaan lain. Kamerun, Namibia, Nepal, Oman, dan Uganda berpartisipasi untuk pertama kalinya. Edisi pertama pasca-pandemi ini mencatatkan rekor jumlah pengunjung sepanjang sejarah Biennale, lebih dari 800.000 pengunjung.

2024 – Karena perang di Ukraina, paviliun Rusia kosong untuk kedua kalinya, sementara paviliun Ukraina dikhususkan untuk karya seni kolaboratif yang disebut “Net Making.”
Sebagai tanggapan terhadap perang Israel-Hamas, sebuah organisasi aktivis mengumpulkan lebih dari 23.000 tanda tangan pada petisi untuk melarang Israel dalam edisi tahun ini. Dalam sebuah pernyataan pada bulan Februari, Menteri Kebudayaan Italia, Gennaro Sangiuliano, menyebut petisi itu memalukan dan mengkonfirmasi partisipasi Israel dalam acara tersebut. Namun, pada hari Selasa, ketika paviliun dibuka untuk pratinjau media, paviliun Israel tetap terkunci. Seniman dan kurator yang mewakili Israel mengatakan mereka tidak akan membuka pameran sampai “kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera tercapai.”

Sumber: Liputan6, La Biennale di Venezia, Venezia da Vivere, New York Times,

Leave a Comment