Overtourism adalah istilah baru, berkembang dari kata overcrowded (terlalu ramai) dan tourism. Overtourism terjadi ketika terlalu banyak pengunjung berdatangan ke suatu destinasi, melebihi kemampuan destinasi tersebut untuk mengelolanya secara berkelanjutan dan menyebabkan dampak negatif, seperti kepadatan penduduk, degradasi lingkungan, infrastruktur yang terbebani, penurunan kualitas hidup penduduk dan kualitas pengalaman pengunjung, bahkan mengancam kualitas dan keberlangsungan warisan budaya baik bendawi mau pun takbenda.

Dubrovnik, juga dikenal dengan nama Ragusa, dijuluki sebagai Queen of the Adriatic, masyhur dengan kota tuanya yang dikelilingi tembok benteng besar sepanjang dua kilometer. Bangunan-bangunannya terpelihara dengan baik, dari gereja St. Blaise bergaya Barok, istana Sponza bergaya Renaisans, istana Rektor bergaya Gotik, hingga jalan Stradun yang dilapisi limestone dan dipenuhi toko, kafe dan restoran. Dubrovnik juga dikenal dengan pantai dan budayanya yang semarak, meliputi berbagai festival dan acara sepanjang tahun.
Kota pusaka ini, yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1979, menjadi lokasi pembuatan serial HBO Game of Thrones sebagai ibukota King’s Landing. Serial yang ditayangkan di 170 negara sepanjang tahun 2011 hingga 2019 ini memperoleh popularitas luarbiasa, The Guardian menyebutnya sebagai serial “terbesar dan paling banyak dibicarakan di dunia” pada tahun 2014. Dampaknya bagi Drubovnik pun luarbiasa: popularitasnya melonjak dari sebuah kota benteng indah yang hanya dikenal di kawasan Eropa menjadi salah satu destinasi utama warga Amerika, Kanada hingga Australia. Pasar-pasar yang sangat sulit ditembus oleh kota-kota Eropa kini berduyun-duyun mengunjungi kota kecil berpenduduk 40 ribuan ini. Pada puncak musim wisata, disinggahi hingga delapan kapal pesiar dalam sehari masing-masing dengan ribuan penumpangnya.

2017 merupakan tahun wisata paling spektakuler bagi Dubrovnik dengan kunjungan 22 juta wisatawan, menjadi destinasi terpopuler ketiga di Eropa setelah Paris dan Venesia. Namun bagi Dubrovnik popularitas ini menjadi ancaman tersendiri, statistik menunjukkan bahwa seorang warga Dubrovnik menghadapi hingga 27 pengunjung. UNESCO pun menyampaikan peringatan bahwa status pusaka dunia Dubrovnik terancam dicabut.
Walikota Dubrovnik yang baru terpilih pada bulan Juni, Mato Franković (terpilih lagi pada pilkada 2021), merespons dengan terobosan-terobosan yang beresiko. Ia menyatakan bahwa rancangan dua tahunnya pasti akan merugikan ekonomi lokal dalam jangka pendek, tetapi akan menawarkan perlindungan jangka panjang bagi Dubrovnik dan daerah sekitarnya. Ia membatasi jumlah pengunjung yang naik ke tembok benteng hanya 4.000 orang per hari, setengah dari jumlah yang disarankan oleh UNESCO, menindak para pedagang kaki lima, membatasi jumlah meja restoran di luar ruang yang memenuhi lorong-lorong bersejarah dan berupaya untuk lebih mengontrol kapal pesiar yang mengirim ribuan penumpang membanjiri kota tua.

Melalui kombinasi tata kelola strategis, perangkat digital, dan keterlibatan masyarakat, Dubrovnik meluncurkan program “Respect the City” dan menyusun Management Plan for the UNESCO World Heritage Site Old City of Dubrovnik dalam mendorong keberlanjutan jangka panjang.
Sembilan tahun berjalan, Dubrovnik pun memperoleh anugerah sebagai European Capital and Green Pioneer of Smart Tourism in 2026 (Ibukota Eropa dan Pelopor Pariwisata Cerdas Hijau), sedangkan Global Sustainable Tourism Council (GSTC) memberi nilai keberlanjutan 86,04%, naik 16% dibandingkan tahun 2019 (70%). Sebuah studi oleh Universitas Dubrovnik menunjukkan pola kedatangan harian, mingguan, dan bulanan yang seimbang. Indeks kerentanan, yang mengukur kerentanan terhadap kepadatan pengunjung – telah berkurang setengahnya antara tahun 2017 dan 2022, sebuah peningkatan signifikan dalam ketahanan lingkungan kota pusaka.
Respect the City diluncurkan pada 2017 untuk mengurangi dampak negatif overtourism bekerja sama erat dengan warga setempat untuk menerapkan solusi praktis. Proyek ini kemudian berkembang menjadi program pembangunan jangka panjang, Respect the City Program Action Plan until 2025 diakui sebagai contoh praktik terbaik dalam pariwisata berkelanjutan dan dipresentasikan di banyak konferensi dan pameran internasional, diakui sebagai contoh praktik terbaik dalam kerja sistemik untuk memecahkan masalah, meskipun program ini masih dalam tahap awal dan terhenti oleh munculnya pandemi COVID-19.
Inovasi Dubrovnik Pass dan solusi transportasi cerdas telah secara dramatis mengurangi kemacetan, meningkatkan keselamatan pengunjung, dan selaras dengan European Green Deal (Kesepakatan Hijau Eropa). Dubrovnik Pass, adalah sistem tiket digital terpadu untuk museum, galeri, dan tembok benteng kota. Platform ini ditingkatkan dengan prediksi keramaian secara real-time dan pemantauan kapasitas di 11 acara budaya penting. Sistem ini juga menggunakan sensor masuk-keluar untuk melacak hunian dan menyediakan data langsung melalui situs web Dubrovnik Pass dan situs agenda acara. Agensi wisata diwajibkan memesan slot waktu mereka, yang dibatasi hingga 50% dari kapasitas tampung guna mengurangi risiko melebihi batas aman pengunjung.

Bus Web Shop, platform reservasi wajib untuk operator wisata harian, mengontrol waktu kedatangan dan keberangkatan di kota tua. Layanan parkir pintar lebih lanjut mengurangi lalu lintas yang tidak perlu di area sensitif. Salah satu intervensi paling berdampak di Dubrovnik, yang diperkenalkan pada Juni 2025, adalah Zona Pengaturan Lalu Lintas Khusus yang mengelilingi kota tua.
Dengan pengurangan lalu lintas kendaraan yang mengesankan dan inisiatif mobilitas berkelanjutan, Dubrovnik menunjukkan bagaimana teknologi cerdas dapat memfasilitasi kebijakan yang berpusat pada masyarakat dan menciptakan manfaat pariwisata yang lebih adil. Kemacetan lalu lintas jelas terlihat berkurang. Layanan darurat melaporkan tak ada gangguan pada akses menuju kota tua, yang berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup dan penyampaian layanan yang lebih efisien bagi penduduk dan pengunjung. Balai Kota akan memperkuat Zona tersebut pada tahun 2026 ini dengan otomatisasi sistem pemantauan, menggantikan model campuran kontrol digital dan pengawasan fisik yang saat ini digunakan.
Bekerjasama dengan Cruise Lines International Association (CLIA ), Dubrovnik mengubah kontrak-kontrak lima tahunan, mengatur waktu singgah kapal pesiar, membatasi jumlah kapal pesiar besar yang singgah dalam waktu bersamaan, dan memperpanjang waktu singgah hingga 8 jam agar para penumpang memiliki waktu yang cukup untuk menikmati kunjungannya. Pada pagi hari hanya dua kapal yang dapat berlabuh, kapal ketiga setelah tengah hari. Batas harian pengunjung yang diizinkan turun ke darat dibatasi hingga 4.000 orang.

Untuk memastikan mobilitas inklusif jangka panjang, Dubrovnik membangun sistem Park‘n’ Ride skala besar, dengan 572 tempat parkir yang terhubung dengan bus listrik menuju kota tua, direncanakan selesai pada 2028. Luas Park‘n’ Ride hampir 27.000 meter persegi mencakup area lanskap, sistem pengelolaan air hujan, dan sistem penerangan bertenaga surya. Tenaga surya menyediakan penerangan, menggunakan lampu LED suhu rendah. Pepohonan berkanopi lebar ditanam, sistem drainase mengumpulkan dan memurnikan air limpasan memisahkan dari minyak dan oli, air olahan digunakan untuk irigasi. Saat sistem Park‘n’ Ride berfungsi penuh, semua tempat parkir dengan sistem pembayaran per jam akan menjadi tempat parkir bagi warga setempat yang memiliki izin parkir khusus.
Operator transportasi publik Libertas Dubrovnik memodernisasi armadanya dengan 71 bus baru selama delapan tahun terakhir, kini menambahkan 14 bus listrik lantai rendah senilai €11,7 juta. Dengan fasilitas transportasi umum gratis, sistem ini secara langsung mendukung inklusi sosial.
Transformasi Dubrovnik menunjukkan bagaimana teknologi cerdas dapat melayani pembuatan kebijakan yang berpusat pada masyarakat. Pandemi COVID-19 telah menggeser sebagian besar konsultasi ke platform digital. Transformasi digital ini secara keseluruhan merupakan perkembangan positif dan menyebabkan peningkatan partisipasi lokal dalam proses konsultasi untuk berbagai proyek. Transparansi, perencanaan berbasis bukti, dan keterlibatan warga telah menjadi kunci keberhasilan agenda keberlanjutan kota tua. Yang terpenting, inisiatif ini telah menghasilkan dampak yang terukur: pengurangan kemacetan, peningkatan akses darurat, distribusi pengunjung yang lebih adil, dan peningkatan kualitas hidup bagi penduduk.

Hal ini juga memberi pelajaran bagi kota-kota pusaka dan destinasi wisata lain yang berupaya menyeimbangkan pertumbuhan dengan kualitas hidup:
Pertama, perlunya memprioritaskan perencanaan warisan dan mobilitas terintegrasi, yang didukung oleh sistem data waktu nyata untuk memantau arus, mengelola kapasitas, dan memandu pengambilan keputusan.
Kedua, tata kelola harus berpusat pada warga, dengan memperlakukan kepuasan warga sebagai prasyarat untuk pertumbuhan berkelanjutan. Investasi dalam mobilitas publik yang inklusif, khususnya pilihan transportasi yang bersih dan mudah diakses, dapat meningkatkan kualitas hidup dan kualitas lingkungan.
Dan ketiga, para pembuat kebijakan harus bekerja sama dengan rekan-rekan mereka secara nasional dan internasional untuk berbagi pengetahuan dan praktik terbaik.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, kota-kota pusaka dapat memperkuat ketahanan, melindungi identitas budaya, dan memastikan bahwa manfaat pariwisata dan pembangunan perkotaan dibagi secara lebih adil di antara semua penduduk.
Pariwisata adalah ekonomi utama kami dan kami harus terus mengupayakan serta mengembangkannya, tetapi selalu dengan tujuan bahwa Dubrovnik harus menjadi tempat tinggal yang menyenangkan bagi warganya. ~ Walikota Kota Dubrovnik, Mato Franković.
Sumber: The Dubrovnik Times, New York Times, The Telegraph, The Guardian, BBC, Responsible Travel, Nacional, Croatia Week, Transition Pathways Europe, Cogito, Global Suistanable Tourism Council
Bacaan:
Sustainable Tourism – KemenParekraf 2022
Overtourism – World Tourism Organization 2018
Sustainable Tourism Assessment of Pacific World Heritage Sites – UNESCO 2025
Urban Solutions: Culture-driven Sustainable Urban Tourism – UNESCO 2025
UNESCO World Heritage Sustainable Tourism Toolkit