Skip to content Skip to footer

CASTLE, CHAPEL & CHAPITOL (Refleksi Hari Purbakala ke-108)

By. Rinto Taib, M.Si
(Kepala Museum Rempah & Dosen IAIN Ternate)

Banyak referensi asing yang menuliskan tentang sejarah dan kejayaan Spanyol dimasa lalu termasuk dalam berbagai periodesasi (historiografi) sejarah di Nusantara, namun sangatlah terbatas yang menyebutkan tentang Ibu Kota Spanyol diluar kerajaan Spanyol itu sendiri (koloni), sementara diakui adanya sumber yang menyebutkan secara jelas keberadaan sebuah benteng dengan kawasan sekitarnya yakni benteng Kastela sebagai ibukota Spanyol di Maluku. Karena itu, anggaplah tulisan ini sebagai salah satu dari sekian pengantar yang turut mengawali ulasan tentang hal tersebut. Tentu sebagai sebuah pengantar maka banyak hal yang perlu didalami melalui riset akademis yang lebih serius. Kastela, sebagai pusat Ibukota, tentu diperhitungkan dalam jalur perdagangan rempah dimasa itu. Memiliki berbagai sarana dan prasarana pendukung yang terbilang moderen pada masanya. Kastela Ternate seolah representasi peradaban mini Spanyol diluar kerajaan sang ratu Isabela ketika itu. Kastela Ternate dimasa itu dalam perkembangannya telah memiliki sekolah Theologia yang dapat kita sebut sebagai sekolah modern pertama di Nusantara ketika itu, Gereja dan Chapel hingga rumah sakit adalah bagian yang tak terpisahkan sebagai kesatuannya. Sebuah representasi Ibukota modern pada masanya,

Sebagai Ibukota Spanyol dimasa lalu maka Kastela Ternate saat ini menyimpan sejuta misteri tentang berbagai hal terutama yang berkaitan dengan bagaimana kehidupan para pemukim di dalam benteng ketika itu maupun situasi relasional (politik, budaya, agama, sosial kemasyarakatan) hingga transaksional secara ekonomis yang memberi keuntungan bagi Spanyol maupun bagi masyarakat sekitar benteng tersebut. Lantas bagaimana mekanisme atau prosedur pembagian tugas diantara puluhan bahkan ratusan prajurit yang siaga dalam benteng? Bagaimana struktur (khirarkhi) militer dan pelapisan sosial yang terbangun saat itu? Fasilitas apa saja yang tersedia serta tata kelola rumah tangga benteng tersebut untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan yang berbeda antara lapisan militer dan publik sebagai sebuah kota? Bagaimana pemanfaatan setiap ruang spasial seperti gedung utama (great hall), ruang para pelayan, gudang senjata, gudang rempah, gudang bahan bakar, gudang makanan, sekolah, rumah sakit, apotik atau gudang obat, dapur, tempat pemakaman (makam), meriam, penjara, toko, gerbang utama, dan juga Gereja / Chapel?

Yang disebutkan terakhir akan semakin menarik jika dikaitkan dengan upaya Portugis juga Spanyol menjadikan Ternate sebagai kerajaan Katolik pertama yang menjadi bagian dari vatsal Portugis & Spanyol di Nusantara. Jauh sebelum Larantuka sebagaimana kita saksikan dimasa kini yang kental dengan warisan Portugis dalam tradisi beragama maupun budayanya, Ternate telah terlebih dahulu ditetapkan sebagai episentrum syiar agama yang masuk dan dibawa oleh Portugis dan Spanyol. Toleransi penduduk lokal dengan kesultanan Islam yang egaliter tentu menyuburkan misi suci menyebarkan pesan-pesan langit. Sebagaimana dicatat dalam lembaran sejarah, Tak tanggung-tanggung Sultan kemudian mengangkat diantara mereka sebagai penasehat pribadi dalam roda kepemimpinannya yang tak lain sebagai mitra strategis meskipun pada situasi lain kemudian berubah menjadi mitra upeti.

Dubes Spanyol & Portugal bersama rombongan di benteng Kastela

Menjawab berbagai pertanyaan tersebut ditengah realitas Kastela dimasa kekinian adalah sebuah pekerjaan besar dengan segala konsekuensinya. Selain waktu dan pendanaan yang tidak sedikit juga melibatkan peran dari berbagai pihak tentunya. Baik masyarakat, arkeolog (eskavasi), sejarawan (studi literatur) hingga kalangan birokrasi dalam memproduksi regulasi kebijakan yang mungkin saja mengorbankan masyarakat tempatan dimana sebagian besar kemungkinannya berada dalam kawasan situs, tak hanya Kastela namun juga melebar hingga ke Rua (Sampalo). Semuanya akan mengerucut pada satu pertanyaan, apakah kita pasrah atas semua kesulitan tersebut?.

Hal yang dapat kita lakukan adalah mengawali dengan membangun asumsi dan hipotesa awal sebagai jalan menyiapkan data yang diperlukan suatu saat kelak. Karena itulah tulisan ini diperlukan meskipun disadari bahwa minimnya data baik dalam bentuk dokumentasi foto dan gambar (visual & audio), tulisan atau keterangan hingga jejak fisik bangunan yang nyaris hilang meninggalkan jejak puing bangunan juga tembok benteng dan tumpukan batu material dinding. Situasi seperti ini mengingatkan kita kepada nasib serupa dari beberapa kota kuno yang saat ini hanyalah tinggal nama disertai beberapa reruntuhan dari masa lalu. Sebut saja kota Laodikia yang dibangun oleh raja Antjiocus II keturunan Seleucus, salah satu jendral Alexander Agung.

Sebuah kota koloni Yunani yang didedikasikan bagi Zeus dan diberi nama Diospolis. Dahulunya menjadi kota yang sangat maju dan berkembang karena kekayaannya. Maju karena berada di jalur perdagangan Asia Minor yang strategis serta maju dalam dunia perdagangan dan bisnis serta medis yang terletak sekitar 1,5 kmdari kota Denizli, Turki.. Kota ini terakhir dihuni pada masa pemerintahan Kaisar Phocas (602-610). Kini jejak kota ini hanyalah dapat kita temuai melalui reruntuhan bekas Gereja, teater pertunjukan berkapasitas 12.000 orang, kuil dan reruntuhan bangunan basilica yang megah. Hal yang sama dialami oleh kota kuno lainnya seperti Sardis, ibukota kerajaan Lydia yang berjaya jauh sebelum imperium Romawi maupun kesultanan Ottoman. Kerajaan Lydia kemudian pudar setelah ditaklukkan oleh Persia dan jatuh ketangan bangsa Mongol di abad ke-15 hingga akhirnya ditinggalkan hingga sekarang, yang nampak hanyalah puing-puing bangunan indah yang dibangun sejak abad ke-3 M.

Kunjungan di benteng Kastela

Puing-puing dan reruntuhan bangunan yang sesungguhnya tidak jauh beda kita saksikan di benteng Kastela Ternate. Dahulunya kawasan ini merupakan sebuah kota pelabuhan yang ramai hingga dijuluki sebagai Ibukota Spanyol di Maluku (baca Marco Romerini dalam En el archipielago de la Especieria). Bahkan jauh sebelum kehadiran Spanyol, Portugis telah terlebih dahulu menjadikannya sebagai kota koloni pertama Portugis di Nusantara dengan sebutan Sao Joao Baptista yang dibangun oleh Gubernur Jendral Antonio de Britto pada tahun 1521, satu abad sebelum adanya VOC. Setelah dikuasai Spanyol maka kemudian diubah namanya menjadi Ciudad del Rosario atau Nostra senhora del Rosario meskipun akhirnya dihancurkan sendiri oleh Spanyol karena tak ingin kota dan bentengnya dikuasai oleh pihak VOC pada tahun 1663.

Ibukota ini kemudian ditinggalkan dan kini seolah tenggelam seiring berjalannya waktu yang memakan usia dan menyisahkan puing-puing jejak masa lalu yang sulit kita kenali kembali bentuk maupun fungsinya dimasa lalu. Sebuah bekas bangunan bagian tengah menimbulkan sejuta tanya dibenak apa sebenarnya bekas bangunan tersebut? apakah merupakan sebuah Chapel, Tower, Dapur atau bahkan kamar mandi dan ruang ganti?. Berbagai asumsi dikembangkan kala menyaksikan secara lebih detil setiap jengkalnya. Sulit memang untuk memastikannya. Selain minimnya perhatian pemerintah bagi kepentingan riset keilmuan (sejarah, arkeologi, dll) juga disebabkan oleh faktor usia zaman.

Dari sinilah kita tidak sekedar dapat memahami tentang Kastela sebatas sebuah benteng dan pertahanan, strategi perang, taktik dan syiar agama (Katolik) hingga urusan perdagangan, selain itu menarik pula ikhwal politik ekonomi dan kebebasan beragama, dll. Pertanyaannya kemudian adalah apa yang dilakukan kaum agamawan ditengah hegemoni politik dan perdagangan ketika itu?, bagaimana jika yang dilakukan bangsa asing ketika itu adalah sebatas syiar agama tanpa politik dagang?, atau sebaliknya politik dagang (Gospel & Glory) dilaksanakan tanpa misi suci agama? Disinilah syiar agama (chapel) dijalankan dibarengi dengan agenda politik dan dagang (chapitol & castle). Masih banyak hal tentunya yang dapat kita kaji secara lebih serius dan mendalam terkait jejak Ibukota Spanyol di Ternate tersebut.

Penulis bersama Dubes Spanyol untuk Indonesia dan Pj Walikota Ternate di benteng Kastela

Secara arsitektural, bangunan benteng yang dilengkapi dengan berbagai sarana penunjang untuk memenuhi kebutuhan pada masa itu tentu memiliki seni yang luar biasa sehingga bangunan inipula menjadi model untuk dibngunnya kota Batavia (Jakarta) dikemudian oleh Belanda. Kesemuanya dapat kita amati dengan jelas dari luar bangunan benteng itu sendiri seperti bagaimana nilai strategis dari kawasan seperti berada tidak jauh dari tepi laut, adanya aktivitas berlabuhnya kapal, memiliki jalan dari dan menuju ke laut, bentangan alam. dinding kastil, jalan masuk, pintu keluar masuk, tangga batu, kanal, menara tower, dan lain sebagainya. Demikian pula pada bagian dalam bangunan dan kawasan benteng tersebut seperti Jamban, ruang penjaga, gudang penyimpanan, lubang senjata (celah pertahanan), halaman, bekas lantai, sumur, dapur dan perapian, balok atap, bentuk dan jumlah serta ukuran jendela atau pintu, lebar dan tinggi (pintu, jendela, fondasi, dinding), dan lain sebagainya. Semuanya hingga kini belum dapat kita kaji secara ilmiah (aktual dan faktual). Diperlukan kajian mendalam dengan dukungan segala sumber daya tentunya, semoga dapat kita wujudkan. Selamat merayakan Hari Purbakala ke-108.

Leave a Comment