Skip to content Skip to footer

Gema Takbir di Kota Warisan: Menyesap Syahdunya Idulfitri di Jantung Georgetown

Jalan Lebuh Acheh, Georgetown Foto: walkingabout.com

Cahaya fajar menyapa deretan ruko tua berarsitektur kolonial di Lebuh Acheh, namun kesibukan telah dimulai jauh sebelum matahari benar-benar naik. Tunku Syed Hussain al-Aidid, seorang saudagar Aceh pada 1808 mendirikan Masjid Melayu Lebuh Acheh dengan menara tunggal bergaya arsitektur Moorish. Hari itu, 21 Maret 2026, gema takbir dari masjid ini menandai datangnya Hari Raya Aidilfitri 1447 H di tengah situs warisan dunia UNESCO yang ikonik.

Masjid Kapitan Keling. Foto: mypenang.gov
Suara Syukur dari Masjid Bersejarah

Sejak pukul 07.30 waktu setempat, arus umat Muslim mulai memadati kawasan Masjid Kapitan Keling. Pakaian Melayu yang berwarna-warni kontras dengan dinding putih masjid yang kokoh sejak abad ke-19. Bagi banyak warga, sholat Id di sini bukan sekadar ritual, melainkan penghormatan pada sejarah panjang Islam di pulau ini.
Tak jauh dari sana, suasana hangat juga menyelimuti Wisma Indonesia (Kediaman Resmi Konjen RI). Ratusan WNI yang menetap di Penang berkumpul untuk melaksanakan sholat berjamaah, menciptakan potongan kecil tanah air di negeri jiran. Gema takbir yang bersahutan menciptakan atmosfer haru bagi mereka yang belum bisa pulang ke kampung halaman.

Suasana Salat Id di Wisma Indonesia. Foto: instagram KJRI
Tradisi “Rumah Terbuka” yang Melintasi Sekat

Memasuki siang hari, tradisi “Open House” atau Rumah Terbuka mulai terasa. Meski pemerintah negara bagian Pulau Pinang tahun ini memilih menyelenggarakannya secara sederhana sebagai langkah penghematan, semangat kebersamaan tetap tidak luntur.

Di kawasan pemukiman warga Melayu hingga ke pinggiran kota, pintu-pintu rumah terbuka lebar. Aroma Rendang, Ketupat, dan Lemang menyeruak, menggoda siapa pun yang lewat untuk mampir. Di sinilah jati diri Georgetown sebagai melting pot terlihat nyata; warga etnis Tionghoa dan India terlihat santai berkunjung ke rumah tetangga Muslim mereka, mengenakan baju kurung atau batik, serta saling bertukar sapa “Maaf Zahir dan Batin”.

Duit Raya dan Keceriaan di Sudut Kota

Di sudut-sudut jalan yang biasanya dipenuhi wisatawan, kini dipenuhi anak-anak yang berlarian dengan amplop kecil di tangan. Tradisi “Duit Raya” tetap menjadi yang paling dinantikan. Keceriaan ini melengkapi estetika kota tua yang dipenuhi instalasi lampu hias dan replika ketupat raksasa di pusat-pusat perbelanjaan seperti Gurney Plaza.

Bagi pengunjung, lebaran di Georgetown memberikan pengalaman berbeda. Kota ini membuktikan bahwa modernitas dan tradisi bisa berjalan beriringan. Di satu sisi, ada denyut pariwisata yang tetap hidup di Blue Mansion atau Cheong Fatt Tze, namun di sisi lain, nilai-nilai spiritual dan kekeluargaan tetap menjadi fondasi utama kehidupan masyarakatnya.
Perayaan Idulfitri 2026 di Georgetown bukan sekadar tentang berakhirnya bulan Ramadan, melainkan perayaan atas kerukunan yang tetap terjaga di salah satu kota paling bersejarah di Asia Tenggara ini.

Leave a Comment