Oleh: Rinto Taib, M.Si
(Tim Perumus Sejarah Lahirnya Kota Ternate)
Ada hal menarik dan istimewa dari perayaan hari lahirnya kota Ternate (Hajat) ke-771 tepatnya tanggal 29 Desember2021 lalu. Hal menarik tersebut adalah Launching City Branding kota Ternate yaitu “Kota Rempah”. Acara launching tersebut dilaksanakan di benteng Oranje Ternate dalam rangkaian acara Pesta Komunitas Ternate yang diinisiasi oleh Dinas Pariwisata Kota Ternate bersama Jaringan Komunitas Ternate (Jarkot). Pesta komunitas sendiri dilaksanakan sejak tanggal 27-29 Desember yang melibatkan berbagai pihak baik dari unsur pemerintah, komunitas dan para pelaku UMKM, dengan suguhan berbagai item acara, antara lain: Expo UMKM, Fort Camp, Ternate Bouldering, pentas musik, tarian hingga pemutaran film karya para sineas lokal, workshop hingga talkshow serta berbagai acara menariklainnya.

Wali Kota Ternate yang hadir dalam Launching City Branding tersebut menyampaikan dalam sambutannya bahwa kalau dahulu benteng oranje dijadikan sebagai pusat kolonial maka sekarang kitajadikan benteng Oranje sebagai creative hub atau pusat komunitas kreatif. Hal yang menjadikan alasan dijadikannya benteng Oranje sebagai creative hub adalah karena adanya tiga hal penting, yaitu: Ide, Ruang dan Komunitas. Selanjutnya menurut Wali Kota Ternate, Dr. M. Tauhid Soleman bahwa dari ketiga hal tersebut selanjutnya menjadi sebuah ekosistem yang melahirkan tiga hal berikut yaitu: Pertama: Melahirkan UMKM, termasuk melalui acara melakukan pameran UMKM. Kedua, memperkuat ekonomi kreatif dimana terdapat 14 sub sektor didalamnya, Ketiga, Pariwisata. Lebih lanjut menurut Wali Kota bahwa City Branding Ternate sebagai Kota Rempah alasannya karena kota ini memiliki sejarah panjang kejayaan dimasa lalu sebagai pusat rempah dunia yang menyebabkan kedatangan bangsa-bangsa asing.

Dari pemaparan sambutan Wali Kota tersebut dapat kita maknai berbagai hal penting yang tersirat di dalamnya, antara lain:
Pertama adalah soal “Nilai”. Dalam perspektif ini, nilai yang dimaksud adalah Ide berupa sejumlah gagasan cemerlang yang dipandang ideal bagi keberlangsungan masa depan yang lebih baik. Selain ide,“Ruang” spasial juga menjadi penentu keberlangsungan dan keberlanjutan bagi aktivitas-aktivitas kreatif. Dan hal terpenting lainnya adalah para pelaku atau aktor untuk mewujudkan semua harapan yang diidealkan tersebut untuk berdampak bagi kelangsungan hidup warga kota.
Kedua, Visi. Pada koteks ini dapat kita pahami bahwa untuk mewujudkan Ternate sebagai kota rempah diperlukan sebuah visi bersama secara kolaboratif pada tataran ide konseptual untuk diwujudkan secara bersama-sama melalui ruang-ruang ekspresif yang berbasis pada peran komunitas-komunitas kreatif itu sendiri. Ini berarti bahwa gagasan-gagasan kreatif tak akan bisa terwujud dengan baik tanpa ada tindaklanjut secara kolektif melalui peran-peran partisipatif komunitas yang secara kolaboratif dan berkelanjutan berkomitmen untuk terus berkarya. Didalamnya dapat kita temukan kohesi sosial diantara para komunitas yang terlibat dan saling terkait tersebut, adanya pertumbuhan ekonomi sebagai dampak dari kerja-kerja komunitas kreatif, inklusivitas peran dalam ruang-ruang kekuasaan dan interaksi sosial, serta adanya upaya perlindungan dan pengamanan secara sosial dan ekonomi yang dirasakan manfaatnya secara bersama.
Ketiga, Berjejaring. Bisa dikatakan bahwa aspek penting dalam sebuah komunitas adalah jejaring. Jejaring dapat pula dipandang sebagai darah kehidupan sebuah komunitas kreatif. Menerjemahkan keragaman aspirasi yang bersumber dari ragam sudut pandang untuk diwujudkan menjadi sebuah tindakan kolektif tentu memerlukan pemahaman yang lebih tentang kelembagaan organisasional dan interaksisosial diantara masing-masing komunitas. Hubungan interaksi dan komunikasi yang terbangun diantara komunitas kreatif tersebut menjadi hal fundamental sekaligus menjadi modal sosial yang bersifat membangun jika dikelola dengan baik. Di dalamnya terpaut erat rasa saling respek diantara personal maupun antar komunitas, kompetensi dan integritas serta kerja kolaboratif lintas jejaring komunitas tersebut.
Keempat, proses belajar dan pembelajaran. Bisa dipastikan bahwa konstruksi ide tak akan terjadi tanpa diawali dari sebuah proses belajar. Ini bermakna pula bahwa berproses bersama dalam peran diantara para komunitas akan menciptakan sebuah ruang belajar dan pengalaman menarik yang akan diraih secara personal maupun kolektif diantara komunitas tersebut. Komunitas dapat dipandang sebagai institusi pendidikan atau sekolah yang memberikan banyak pelajaran serta pengalaman berarti. Disana akan kita jumpai saling transfer ide dan pengetahuan baik secara personal maupun kolektif melalui diskusi, cerita maupun berbagi pengalaman diantara mereka para anggota atau sesama komunitas tersebut.
Kelima, Kepemimpinan. Hal penting lainnya dari pertautan ide, ruang dan komunitas adalah kepemimpinan. Hal ini merupakan dampak atau efek langsung dari aktivitas sosial dari sebuah komunitas. Disana pula akan kita jumpai hubungan-hubungan sosial layaknya lingkup kecils ebuah sekolah ataupun institusi keluarga yang membutuhkan kemampuan lebih untuk menginisiasi ataupun kemampuan negosiasi seorang pemimpin, dan lain sebagainya. Kepemimpinan dalam mengelola segala sumberdaya maupun manajemen konflik yang bisa saja terjadi dan berdampak pada keberlangsungan komunitas bersangkutan.
Keenam, inovasi dan kreasi. Hal tak kalah menarik lainnya adalah kemampuan inovatif dan kreatif yang diperlukan bagi warga kota tak hanya komunitas sosial seperti kelompok pemuda kreatif, para pelaku UMKM semata melainkan juga para Aparatur Sipil Negara dalam pemerintahan daerah. Dituntut para ASN sebagai penyelenggara negara yang memiliki kompetensi dan kapasitas lebih serta integritas yang dapat diandalkan untuk mewujudkan rangkaian ide dan imajinasi kreatif di ruang publik sekaligus mampuh menjadi motivator dan mediator yang baik antara komunitas dengan pemerintah. Hal ini dirasakan penting karena dalam kasus tertentu, keterbatasan SDM dan pengalaman para aparatur penyelenggara negara justru menjadi faktor penghambat kemajuan itu sendiri. Terlebih di era trasformasi digital saat ini dimana diperlukan kemampuan literasi digital serta digital leadership oriented dan juga manajerial yang lebih dari sekedar identitas struktural seorang aparatur.

Kerja kreatif yang dimaksud sebagaimana ditunjukkan oleh kolaborasi yang sukses antara Dinas Pariwisata Kota Ternate dalam menginisiasi city branding Ternate. Plt. Kepala Dinas Pariwisata Kota Ternate Dr. Rizal Marsaoly mengungkapkan, tujuan ditetapkannya Logo City Branding Kota Ternate ini adalah sebagai acuan dalam pembentukan dan pengembangan Kota Ternate sebagai “Kota Rempah Dunia”, sebagai identitas daerah atas potensi lokal yang dimiliki dan menjadi sarana dalam mempromosikan seluruh potensi daerah baik didalam negeri maupun diluar negeri agar lebih dikenal oleh target pasar, khususnya terhadap daya tarik investasi daerah, kepariwisataan dan potensi pengembangan daerah di sektor lainnya. Juga sebagai bentuk dukungan bagi pengembangan kreativitas masyarakat dan komunitas dalam membangun ruang kreatif publik, sehingga melahirkan kekuatan ekonomi kreatif, baik creative bussines, startup local atau potensi kreatif lainnya, serta sebagai sarana untuk membantu sosialisasi program kegiatan pemerintah kota Ternate kepada seluruh stake holder di tingkat lokal, nasional maupun internasional.
Pada akhirnya, antara Ide, ruang dan komunitas, ketiganya merupakan sebuah integrasi konsep yang tak dapat dipisahkan antara satu dan lainnya. Di dalamnya pula terkandung sebuah pemaknaan yang holistik serta memerlukan kolaborasi lintas sektor, lintas aktor dan lintas pelaku pembangunan. Jika keseluruhan dari apa yang diuraikan tersebut diatas adalah telah melekat pada setiap kelembagaan dan orientasi nilai di setiap komunitas maka kita patut belajar banyak dari mereka tentang bagaimana semangat kerjasama, melahirkan ide kemudian mengaktualisasikannya sehingga berdampak bagi masyarakat banyak Mereka layak diapresiasi dan menjadi atensi kita bersama. Bravo Jaringan Komunitas Ternate, bersama kita wujudkan Ternate Kota Rempah yang Mandiri dan Berkeadilan.
Sumber foto: RM dan Nur Imaniar Naraya