Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kota Seribu Sungai

Kota Seribu Sungai, hampir seluruh wilayah kota Banjarmasin dihiasi kelak-kelok ratusan sungai. Keelokan luar biasa ini adalah maha karya leluhur orang Banjar yang memiliki kemampuan pengelolaan sungai luar biasa. Hanya dengan sundak, semacam sekop terbuat dari kayu ulin persegi panjang pipih, mereka menghubungkan wilayah-wilayah yang tak terjangkau dengan membuat kanal-kanal. Selain sebagai jalur transportasi hasil bumi, kanal juga berfungsi sebagai irigasi dan mitigasi pasang surut.

Foto: banjarmasinkota.go.id

Tidak kurang dari seratus tujuh puluh empat sungai, besar dan kecil, bercabang-cabang bagaikan pembuluh darah menghidupi kota Banjarmasin sehingga ada yang menjuluki Banjarmasin sebagai Venesia Dunia Timur.
Sungai untuk aktivitas sehari-hari seperti mandi, cuci, perikanan, pertanian. Sungai juga sebagai jalur transportasi, jukung (perahu) merupakan kendaraan pribadi dan dagang, ada jukung tiung yang panjangnya mencapai 23 meter, sebagai pengangkut barang. Sepantasnyalah jika banyak warga Banjarmasin selain sebagai ahli pembuat kanal multifungsi juga pembuat perahu tingkat master, terutama orang Negara dan Bakumpai.

Jukung tempo dulu:  tanpa atap untuk mengangkut hasil bumi, 
jukung beratap untuk mengangkut penumpang (foto: KITLV Leiden)

Dengan jukungnya, Urang Banjar saling berinteraksi. Rumah-rumah dibangun di atas susunan batang kayu yang terapung di sungai, yang disebut rumah lanting, sedangkan di darat berdiri rumah-rumah panggung. Saudagar sayur, pedagang ikan, dengan jukung dipenuhi bahan kebutuhan sehari-hari menghampiri warga menggunakan jukung. Atau sebaliknya, warga berbelanja mengendarai jukung ke pasar terapung, lokasi yang dipenuhi jukung-jukung bermuatan berbagai macam dagangan.

Di sungai-sungai wilayah Pekapuran, Kelayan, Pekauman sehari-hari kita bisa menyaksikan anak-anak dengan gelak tawa riang meloncat ke sungai dari jembatan dan sambil memeluk ban karet berhanyut-hanyut mengikuti arus. Pengantin baru juga diarak di atas perahu mewah yang dihiasi patung kepala Naga Padudusan dan dekorasi tradisional.

Foto: Youtube (Zhari Azhari)

Sungai adalah denyut nadi kehidupan Urang Banjar mengalir hingga ke pedalaman, menumbuhkan budaya yang tiada duanya, peradaban sungai yang nyaris tergerus oleh modernisasi. Peradaban sungai memposisikan sungai sebagai halaman depan, waterfront, sebagaimana kota-kota pantai menghadap ke laut.
Wisata sungai tentunya menjadi pengalaman yang eksotis bagi pengunjung kota Banjarmasin. Sensasi susur sungai memberi panorama Kota Banjarmasin yang berbeda dibanding pemandangan dari daratan, eksotika pola pemukiman yang linier di sepanjang garis sungai dan kali (kanal), kehidupan di tepian sungai, hilir mudik perahu, aktivitas pemuatan batu bara ke tongkang, atau menyaksikan budi daya ikan menggunakan keramba jaring apung.
Sayangnya sebagian sungai mengalami pendangkalan, bahkan ada sungai atau kanal yang hilang tertimbun. Pada tahun 2011 terdata 102 sungai di Banjarmasin, pemerintah kota melakukan normalisasi sungai dan mengeruk yang tertimbun, dan pada 2019 jumlah sungai naik menjadi 174. Pasca musibah banjir yang menggenangi kota sepanjang Januari-Februari 2021, pemerintah kota menargetkan pemulihan sungai hinga 200 sungai.

Seni Budaya

Salah satun budaya populer yang hanya ada di Banjarmasin adalah Madihin, seni tutur puisi rakyat berbahasa Banjar. Dituturkan di depan publik tanpa membaca teks oleh 1, 2 atau 4 orang seniman Madihin. Tradisi ini diperkirakan sudah ada sejak masuknya agama Islam ke wilayah Kerajaan Banjar pada tahun 1526. Madihin dituturkan sebagai hiburan rakyat untuk memeriahkan Bakarasmin (malam hiburan rakyat) di berbagai perayaan dan perhelatan.

Foto: goodnewsfromindonesia.id

Pantun selain sebagai hiburan rakyat, pada masa kejayaan Kerajaan Banjar (1526-1860), juga merupakan sarana retorika yang sangat dikuasai oleh para pejabat dan tokoh masyarakat, piawai dalam mengolah kosa-kata dan dalam penyampaiannya. Selain itu di setiap desa harus ada orang-orang yang secara khusus menekuni karir sebagai Pamantunan (pengolah dan pembaca pantun). Uji publik kemampuan seorang Pamantunan dilakukan langsung di depan khalayak ramai dalam ajang adu pantun atau saling bertukar pantun yang dalam bahasa Banjar disebut Baturai Pantun. Para Pamantunan tidak boleh tampil sembarangan, karena yang dipertaruhkan dalam ajang Baturai Pantun tidak hanya kehormatan pribadinya semata, tetapi juga kehormatan warga desa yang diwakilinya.

Panting adalah seni musik paduan berbagai alat musik seperti Babun, Panting, Biola, Gong, yang menghasilkan irama khas, mengiringi nyanyian tradisional Banjar, atau mengiringi tarian tradisional. Istilah panting diambil dari alat musik utamanya Panting, alat musik petik mirip dengan gitar gambus berukuran kecil. Dari seni musik, Ampar Ampar Pisang.merupakan salah satu lagu yang paling populer. 

Tari Baksa Kembang (sumber: https://takterlihat.com)

Ada sekitar 76 jenis tari tradisional diantaranya tari Baksa Kambang, Baksa Lilin, Kula Gepang, Maiwak. Biasanya diiringi alat musik tradisional seperti: babun, gambang, aron, salantang, kedernong, gong, suling, rehab dan dan lain-lain.

Kain Sasirangan adalah salah satu mahar dari patih Lumbung Mangkurat di era kerajaan Negara Dipa (abad ke 12-14) saat melamar Putri Junjung Buih. Kain tersebut dibuat dalam sehari, dikerjakan oleh 40 perawan, dan dikenakan saat upacara pernikahan. Kini kain Sasaringan yang dahulu hanya boleh dikenakan oleh kalangan istana telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak benda khas Indonesia. Setiap motif pada kerajinan tradisional ini memiliki makna tersendiri yang didesain berdasarkan alam sekitar seperti Daun Jaruju (bermakna menghindari bencanan), Ombak Sinapur Karang (ujian kehidupan), atau Mayang Maurai (bunga kelapa, motif sakral untu pernikahan). Tercatat ada 27 motif kain Sasirangan ini.

Foto: https://pranala.co

Kerajinan lainnya di Banjarmasin antara lain air guci (jenis sulaman khas Banjar), perabotan dari bahan rotan, perhiasan batu-batuan permata, berbagai ramuan tradisional berbahan dari pedalaman, seperti pasak bumi yang sudah terkenal di manca negara.

Destinasi wisata

Pasar Terapung, pasar tradisional di atas sungai ini menjadi destinasi wisata andalan di Banjarmasin. Aneka sayur, buah beserta kebutuhan pokok lainnya dijajakan di atas perahu oleh para pedagang wanita yang disebut dukuh, atau panyambangan jika ia menjual dagangan yang dibeli dari dukuh. Ada sistem barter antar pedagang yang disebut bapanduk. Pasar terapung umumnya beroperasi dari subuh hingga pukul tujuh pagi.

Pasar Terapung Lok Baintan (Instagram @pasarterapunglokbaintan)

Pasar Terapung Muara Kuin (indonesia-tourism.com)

Pasar Terapung Siring Sungai Martapura (https://www.tripadvisor.co.id)

Menara Pandang Banjarmasin
Ikon Kota Banjarmasin ini berada di tepi Sungai Martapura, salah satu anak Sungai Barito. Dari ketinggian sekitar 30 m, menara ini menawarkan pemandangan kota yang spektakuler. Di timur terlihat Pegunungan Meratus, di barat terlihat kesibukan kawasan belanja, di selatan tampak sungai Martapura yang begitu mempesona dilihat dari ketinggian.

Foto: https://travel.kompas.com

Patung Bekantan

Patung Bekantan raksasa ini juga menjadi ikon kota Banjarmasin, diresmikan pada 10 Oktober 2015. Traveler bisa melihatnya di tepi Sungai Martapura. Di kanan kiri patung memang terbentang area yang luas, seperti area untuk duduk-duduk, berfoto, jalan kaki santai atau jogging.

Foto: https://diskominfomc.kalselprov.go.id

 

Wisata Susur Sungai

Wisata susur sungai yang menyusuri sungai Martapura dan sungai Barito dengan mengendarai klotok (perahu bermesin) sangat digemari warga Banjarmasin terutama di senja hari atau malam hari untuk menyaksikan gemerlapnya Kota Banjarmasin, juga melihat aktivitas malam hari di sungai, seperti orang menjala, memancing, atau aktivitas rumah tangga. Melalui wisata susur sungai bisa dicapai berbagai pilihan destinasi wisata yang beragam dan eksotis baik wisata kota, wisata alam mau pun wisata kuliner. Dari puluhan masakan lezat khas Banjar, yang paling populer diantaranya Soto Banjar, Ketupat Kandangan, Nasi Itik Gambut.

Foto: https://jejakrekam.com

Susur sungai Martapura menampilkan keindahan Jembatan Merdeka, Mesjid Sabilal Muchtadin, taman bekantan, kampung ketupat, mitra plaza, muara kelayan, taman perkotaan, pasar terapung Lok Baintan dan lainnya. Menyusuri sungai Barito menuju desa wisata Muara Kanoco (taman buah, taman mangrove, pulau Curiak, pasar ikan terapung), taman wisata alam pulau Baut (habitat belantan).

Banjarmasin memiliki puluhan destinasi wisata yang menarik dan unik, bahkan ada yang memiliki nama menggoda seperti Pulau Kaget, Rumah Jomblo atau Pantai Jodoh.

Leave a Comment

https://indonesiaheritage-cities.org/