Skip to content Skip to footer

Menghidupkan Ingatan, Menciptakan Masa Depan: Kota Tua dan Ekonomi Kreatif dalam Perspektif Charles Landry

Penulis: Asfarinal

(Mahasiswa Doktoral Arkeologi UI)

 

Bayangkan berjalan menyusuri jalanan tua di Jakarta. Deretan bangunan kolonial berdiri diam, seolah menyimpan cerita masa lalu. Tapi kini, cerita itu tak hanya disimpan, ia dihidupkan kembali. Kafe, galeri seni, butik batik, hingga festival budaya bermekaran di tengah reruntuhan sejarah. Ini bukan kebetulan. Inilah wajah baru kota tua di Indonesia yang perlahan menjelma jadi pusat kreativitas dan inovasi. Dalam artikel ini, kita akan melihat bagaimana semangat kota kreatif ala Charles Landry diterapkan dalam menghidupkan ruang-ruang bersejarah di Indonesia.

Foto: meanwhileasean

Sebelum lebih lanjut membahas artikel ini lebih dalam, baiknya kita mengenal siapa Charles Landry serta pemikiran-pemikirannya. Charles Landry adalah seorang pemikir urban kontemporer asal Inggris yang dikenal luas sebagai penggagas konsep “The Creative City” sebuah ide yang merevolusi cara pandang terhadap pembangunan kota dengan menempatkan kreativitas manusia sebagai sumber daya utama dalam transformasi perkotaan.

Landry dikenal bukan sebagai perencana kota teknokratis, melainkan sebagai pemikir lintas disiplin yang memadukan sosiologi, kebijakan publik, ekonomi kreatif, dan humaniora dalam satu kerangka besar tentang “kota masa depan”. Dalam bukunya The Creative City: A Toolkit for Urban Innovators (2000), Landry menekankan bahwa:

“Kota yang sukses di masa depan bukanlah kota yang paling kaya secara sumber daya alam, tetapi yang paling kaya dalam imajinasi.”

Studi Inspiratifnya, penerapan konsep di London, Landry mencontohkan London sebagai kota yang berhasil memanfaatkan bangunan-bangunan tua untuk menciptakan ruang ekonomi dan sosial baru. Kawasan seperti Shoreditch dan Hackney sebelumnya adalah distrik industri yang kemudian disulap menjadi kawasan kreatif, dipenuhi studio, galeri, dan ruang komunitas. Prinsip reuse (penggunaan ulang) menjadi kunci: bangunan tua tidak dihancurkan, melainkan dimaknai ulang. Kota menyediakan soft infrastructure seperti jaringan kreatif, ruang kolaboratif, serta kebijakan yang mendukung inisiatif warga. Namun, Landry juga mengingatkan akan bahaya gentrifikasi: ketika kawasan kreatif terlalu sukses, komunitas asli bisa tergeser.

 

Foto: pexels

Kota Tua Jakarta – Potensi besar yang perlu disusun ulang, Jakarta memiliki kawasan Kota Tua yang kaya warisan Sejarah, dari Museum Fatahillah hingga deretan bangunan kolonial di sepanjang Kali Besar. Revitalisasi sudah dimulai sejak awal 2000-an, tetapi masih cenderung kosmetik dan belum sepenuhnya membangun ekosistem kreatif yang inklusif. Untuk menjadikannya “creative city” dalam arti Landry, perlu pendekatan baru yang lebih strategis, partisipatif, dan lintas sektor.

Langkah-Langkah Strategis Menuju Kota Kreatif;

  1. Pemetaan Aset Kreatif dan Sosial

Bangunan tua, ruang publik, cerita sejarah, serta komunitas warga adalah aset utama. Pemerintah bersama komunitas harus memetakan aset-aset ini, termasuk siapa saja pelaku kreatif yang sudah aktif di kawasan tersebut.

  1. Pengaktifan Ulang Ruang Warisan

Seperti London, bangunan kolonial di Kota Tua bisa diubah menjadi studio seni, kafe komunitas, museum interaktif, atau co-working space. Bukan hanya fungsi ekonomi, tetapi juga fungsi sosial dan budaya.

  1. Membangun Ekosistem Kolaboratif

Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan kemitraan antara akademisi, pelaku industri kreatif, komunitas heritage, dan warga sekitar. Model co-management dan forum konsultasi publik dapat diterapkan secara berkala.

  1. Infrastruktur dan Kebijakan Pendukung

bukan hanya soal fisik (lampu, drainase, internet), tetapi juga kebijakan: insentif pajak        pelaku kreatif, kemudahan perizinan usaha kecil, dan pelatihan literasi digital serta sejarah kota.

  1. Kurikulum Kota: Pendidikan dan Kesadaran Sejarah

Generasi muda Jakarta perlu terhubung dengan sejarah kotanya. Program “Belajar dari Kota Tua” bisa menjadi bagian kurikulum sekolah lokal dan nasional. Sejarah tidak hanya dipelajari di buku, tetapi dijalani secara langsung melalui interaksi ruang.

Menghindari Gentrifikasi dan Komersialisasi Berlebihan Landry mewanti-wanti bahwa kota kreatif bisa menjadi pedang bermata dua. Jika tidak hati-hati, kawasan kota tua justru menjadi terlalu mahal, eksklusif, dan kehilangan ruh komunitas aslinya. Maka dari itu, kebijakan seperti pembatasan harga sewa, perlindungan warga lama, dan alokasi ruang untuk komunitas non-komersial sangat penting.

Kota yang Mengingat, Kota yang Mencipta Kota tua bukanlah beban sejarah, melainkan modal masa depan. Dengan pemikiran Charles Landry, kita diajak melihat bahwa kreativitas kota bukan terletak pada seberapa modern gedungnya, tetapi seberapa hidup warganya dalam menciptakan makna baru dari ruang lama. Kota Tua Jakarta memiliki peluang besar untuk menjadi pusat ekonomi kreatif yang otentik, berkelanjutan, dan inklusif, asal dikelola dengan visi, keberanian, dan cinta terhadap sejarah.

Foto: charleslandry.com

Dalam buku The Creative City: A Toolkit for Urban Innovators (2000) karya Charles Landry ini merupakan tonggak penting dalam teori pembangunan kota modern. Buku ini memperkenalkan paradigma baru bahwa kreativitas manusia adalah sumber daya utama bagi masa depan kota, sejajar bahkan melebihi pentingnya sumber daya alam atau modal finansial.

Landry menulis buku ini sebagai reaksi terhadap krisis identitas kota-kota modern. Banyak kota kehilangan karakter lokalnya akibat pembangunan yang seragam dan birokrasi yang kaku. Buku ini mengajak pembaca untuk melihat kota sebagai ruang eksperimental yang hidup, tempat ide, budaya, dan inovasi bisa tumbuh.

Tujuannya adalah memberi “toolkit” atau seperangkat panduan praktis bagi pemerintah kota, perencana, dan komunitas agar mampu menumbuhkan ekosistem kreatif yang berkelanjutan. Landry mendefinisikan kota kreatif sebagai:

“A place where people can think, plan and act with imagination to solve problems and create opportunities.” (Landry, 2000:14)

“Tempat di mana orang dapat berpikir, merencanakan, dan bertindak dengan imajinasi untuk memecahkan masalah dan menciptakan peluang.”

 

Foto: instagram miaibrahim

Kreativitas di sini bukan semata tentang seni atau budaya, melainkan kemampuan kolektif masyarakat untuk berinovasi dan beradaptasi. Ia menekankan bahwa keberhasilan kota bergantung pada sejauh mana kota mampu:

  • Mendorong ide baru dan kolaborasi,
  • Menghargai keragaman,
  • Mengubah tantangan menjadi peluang.

 

Elemen Kunci Kota Kreatif, Landry menguraikan sejumlah elemen yang harus ada dalam sebuah kota kreatif:

Elemen Deskripsi
Leadership visioner Pemimpin yang menginspirasi, terbuka terhadap ide baru, dan mampu menciptakan kepercayaan publik.
Kelembagaan lentur (creative bureaucracy) Pemerintahan yang tidak kaku, berani bereksperimen, dan mendukung kolaborasi lintas sektor.
Infrastruktur sosial Ruang publik, pusat seni, dan komunitas yang menjadi wadah pertukaran gagasan.
Sense of place Identitas lokal dan sejarah yang menjadi sumber inspirasi, bukan hambatan.
Partisipasi masyarakat Warga dianggap sebagai co-creator, bukan hanya penerima kebijakan.

 

Landry menolak homogenisasi budaya global. Ia percaya bahwa identitas lokal adalah sumber daya kreatif yang unik. Setiap kota harus menggali “DNA kulturalnya”  sejarah, mitos, bahasa, dan ruang sosial sebagai dasar pembentukan urban narrative. Dengan demikian, kreativitas kota bukan hasil impor, tetapi berakar dari memori kolektif masyarakatnya.

 

Foto: thecityateyelevel.com

Berikut beberapa cara bagaimana Kota Tua Jakarta telah mulai mengadopsi pemikiran‑pemikiran dari Charles Landry tentang “kota kreatif”, lengkap dengan contoh spesifik dan juga sisi yang masih perlu diperkuat.

  1. Reuse dan adaptasi bangunan tua

Pemerintah DKI Jakarta menyatakan akan melakukan revitalisasi bangunan‑lama di Kawasan Kota Tua seiring dengan pembangunan orientasi transit (TOD) yang melibatkan bangunan heritage. (Antara News)

Contohnya: bangunan­bangunan kolonial di kawasan ini telah mulai digunakan kembali sebagai museum, kafe, galeri suatu bentuk pemanfaatan aset warisan sebagai ruang kreatif baru. (Misalnya, informasi bahwa 16 bangunan sudah direstorasi sebagai bagian dari revitalisasi kawasan kota tua). (Wikipedia)

Ini sangat sejalan dengan Landry yang menekankan bahwa “old buildings can be resources” bukan beban.

 

  1. Pengembangan ekonomi kreatif berbasis heritage

Menurut keterangan dari pemerintah / kementerian, revitalisasi Kota Tua diarahkan agar kawasan ini menjadi “hub ekonomi kreatif” bagi para pelaku ekonomi kreatif (ekraf) untuk mengembangkan ide, jaringan, dan bisnis di kawasan warisan sejarah. (Warta Ekonomi)

Kolaborasi antar pihak (pemerintah pusat, daerah, swasta) akan dilaksanakan melalui satgas revitalisasi kota tua. (Detik. News)

Konsep ekonomi kreatif berbasis heritage ini juga selaras dengan Landry: kota kreatif bukan hanya seni/galeri, tapi bagaimana warisan lokal + ruang kota bisa menjadi fondasi untuk inovasi ekonomi.

 

  1. Penciptaan ruang publik, interaksi komunitas, dan MIXING fungsi kota

Pemerintah menyebut bahwa dalam forum TOD di Kota Tua, tema yang diangkat termasuk “Preserving Heritage, Shaping Urbanity” artinya, pelestarian sejarah + pembentukan tata ruang yang lebih dinamis dan interaktif. (Antara News)

Wacana relokasi institution‑kesenian ke Kota Tua (misalnya rencana memindah Institut Kesenian Jakarta ke kawasan ini) untuk menghidupkan kreativitas di lokasi heritage. (Detik.news)

Semua ini menunjukkan bahwa Kota Tua mulai diarahkan agar tidak hanya menjadi kawasan pasif warisan sejarah, tetapi ruang yang aktif untuk komunitas kreatif, persis dengan gagasan Landry bahwa kota kreatif adalah kota yang “living”.

 

  1. Identitas lokal dan tempat sebagai aset kreatif

Kawasan Kota Tua Jakarta memiliki identitas kuat sebagai bekas Batavia, arsitektur kolonial, kanal‑kanal, kawasan pelabuhan lama. Pemanfaatan elemen‑elemen identitas tersebut sebagai daya tarik kreativitas dan pariwisata. (Wikipedia)

Hal ini sesuai dengan Landry yang menekankan local distinctiveness identitas lokal sebagai modal kreativitas kota.

 

Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa Kota Tua Jakarta mulai mengadopsi banyak prinsip dari pendekatan Charles Landry: reuse heritage, ekonomi kreatif, ruang publik dinamis, identitas lokal. Namun untuk menjadi “kota kreatif yang matang” dalam arti Landry, perlu lebih banyak fokus pada inklusi komunitas, pengembangan ekosistem kreatif yang holistik, dan tata kelola yang mendukung keberlanjutan sosial dan ekonomi.

 

 

1 Comment

  • adjofe
    Posted 25/10/2025 at 10:22 WIB

    mantap

    Reply

Leave a Comment