Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon menerima kunjungan Dr. Werner Weiglein pada Selasa (24/2/26) dan mengapresiasi buku karya Werner bertajuk Expeditionen durch Indonesien. Buku yang ditulisnya bersama Herwig Zahorka ini, menyuguhkan kekayaan budaya dan keragaman sosial Indonesia. Werner memadukan dokumentasi dengan narasi yang komprehensif.
Selain kiprahnya di bidang kebudayaan, Weiglein juga dikenal sebagai pemegang rekor pendakian ke Puncak Carstensz di Pegunungan Jayawijaya sebanyak 36 kali. Dedikasi tersebut mencerminkan kedekatan Weiglein yang tidak hanya dari aspek budaya, tetapi juga lanskap alam Nusantara.

Melalui pertemuan ini, Kementerian Kebudayaan menegaskan dukungan untuk terus memperkuat jejaring diplomasi budaya dengan berbagai mitra internasional. Upaya pelestarian, dokumentasi, dan promosi budaya Indonesia di luar negeri ini merupakan bagian penting dari strategi pemajuan kebudayaan sebagai soft power bangsa di tingkat global.
“Kita juga menghargai orang-orang asing yang mempunyai minat dan bahkan mempromosikan Indonesia, budaya Indonesia, ke dunia, ke Jerman, dan juga ke wilayah Eropa lainnya,” ucap Fadli.
Sementara itu, Weiglein menegaskan komitmennya dalam mempromosikan kekayaan budaya Nusantara melalui museum dan karya tulis yang disusunnya secara mandiri.
“Kita bisa melakukan lebih dari ini dan semua foto dalam buku ini adalah foto sendiri,” pungkas Werner.
Dr. Werner Weiglein, adalah pengusaha yang juga antropolog serta peneliti Jerman memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap Indonesia, khususnya Papua. Jerman dan Papua memiliki sejarah khusus di mana dua orang Jerman, yaitu Ottow dan Geissler adalah orang yang membawa keluar Papua dari zaman primitif ke peradaban baru.
Kecintaan Weiglein pada budaya Papua, berawal ketika dirinya kerap melakukan penjelajahan ke Indonesia di tahun 1972. Ia pertama kali menginjakkan kaki di Papua pada tahun 1978, dan langsung jatuh hati dengan wilayah tersebut. Pada tahun 1997, Weiglein mendirikan Baliem Valley Resort di Papua Pegunungan, yang hingga kini resort tersebut menjadi “basecamp” dan tempat transit bagi para pendaki dari seluruh dunia yang ingin berpetualang ke Carstensz Pyramid.
Selama melakukan pembelajaran dan bolak-balik berkunjung Indonesia-Jerman, Weiglein selalu mendapat cendera mata berupa peralatan tradisional dan sejenisnya yang dibawakan oleh warga lokal. Dengan pengalaman sejak tahun 1979 dan lebih dari 200 ekspedisi ke Papua, Weiglein yang sangat fasih berbahasa Indonesia, memiliki koleksi benda-benda budaya khas Papua seperti patung, peralatan tradisional hingga aksesoris.

Semua koleksi itu disusun dan ditata dalam bangunan yang dinamakan sebagai Papua Museum yang dibuka pada tahun 2015 dan diresmikan oleh Anies Baswedan selaku Menteri Kebudayaan Indonesia kala itu. Dalam kompleks Museum Papua tersebut juga terdapat Hotel am Palais dengan dekorasi ornamen Indonesia.
Hingga saat ini, setidaknya ada lebih dari 1700 artefak budaya Papua yang tersimpan dalam museum tersebut. Museum Papua itu sendiri dibangun dengan nuansa ornamen khas Indonesia khususnya Papua, sehingga merepresentasikan keindahan dan kultur Indonesia dalam bangunan. Untuk menambah koleksi museum yang ada, Weiglein jelas tetap melibatkan pemerintah Indonesia baik pusat atau daerah Papua sendiri sebagai bentuk penghormatan. Sesuai kesepakatan dan penilaian, sejumlah koleksi yang dibawa ke Jerman diperoleh langsung secara resmi. Mengutip keterangan di laman Kemendikbudristek, koleksi yang ada di Museum Papua Jerman terdiri dari berbagai alat tradisional masyarakat Papua, mulai dari artefak, patung, jimat, topeng, dan berbagai benda lainnya. Koleksi yang telah sekian lama dikumpulkan dan dibawa ke Jerman tersebut.

Dengan adanya Museum Papua di kota Gelnhausen, Jerman ini, banyak pihak dari Indonesia maupun Jerman yang kemudian mengadakan acara kesenian di tempat tersebut. Selain itu, Dr. Weiglein juga membantu memberikan informasi kepada wisatawan atau peneliti dari Jerman yang memiliki ketertarikan untuk menikmati pesona Papua dengan mengunjunginya secara langsung. Setiap kunjungan akan mencakup tur berpemandu selama satu jam, yang memperkaya pengalaman dan pemahaman pengunjung tentang koleksi yang dipamerkan.
Sumber: detiknews, kumparan, Papua Museum
