Skip to content Skip to footer

Pengelolaan Desa Adat: Mengintip Hahoe Folk Village di Andong, Korea Selatan

Desa-desa adat di Republik Korea memiliki beragam bentuk, di mana sekitar 80 persen di antaranya merupakan desa klan. Bentuk permukiman ini bermula pada akhir masa Dinasti Goryeo (918–1392) dan menjadi ciri khas permukiman Korea pada akhir masa Dinasti Joseon (1392–1910). Namun, seiring dengan pesatnya arus urbanisasi dan industrialisasi, keberadaan desa-desa tradisional ini kian menyusut.

Salah satu contoh representatif desa klan Korea yang paling utuh adalah Desa Hahoe yang terletak di Andong. Pemilihan lokasi, perencanaan tata ruang, dan tradisi pembangunan Desa Hahoe memberikan bukti luar biasa atas pengaruh ajaran Kong Hu Cu yang memengaruhi tata ruang serta nilai-nilai warisan budaya selama lima abad.

Desa Hahoe menyimpan berbagai kompleks bangunan berusia ratusan tahun—mulai dari Hanok (rumah tradisional), tempat pemujaan, balai studi, akademi Kong Hu Cu, hingga paviliun bangsawan—yang mencerminkan arsitektur tertua dan paling istimewa di Korea. Desa ini ditetapkan sebagai Properti Rakyat Penting (Important Folk Property) pada tahun 1984. Pada tahun 2010, Desa Hahoe resmi ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Foto: media.architecturaldigest
Tata Ruang, Ekologi, dan Tradisi Spiritual

Prinsip Pungsu dan Tata Letak: Desa Hahoe menerapkan prinsip pungsu (feng shui tradisional Korea) dalam penataan lingkungannya. Sungai Nakdonggang mengalir meliuk mengelilingi desa membentuk lengkungan tapal kuda, menciptakan bentang alam yang diibaratkan sebagai sekuntum bunga teratai yang mengapung di atas air.. Rumah-rumah beratap genteng dan beratap jerami berkumpul membentuk pemandangan yang begitu magis dan seolah bukan berasal dari zaman ini. Tata ruang desa terbagi secara harmonis dalam tiga area utama yang masih berfungsi hingga kini: area aktivitas produktif, kawasan hunian, dan pusat kehidupan spiritual.

Foto: getyourguide

Hierarki Sosial dalam Arsitektur: Secara sosial, tata letak permukiman terbagi menjadi kawasan hunian kaum yangban (para cendekiawan/bangsawan dengan rumah beratap genteng) dan kawasan rumah rakyat jelata (beratap jerami). Rumah-rumah beratap genteng dan beratap jerami itu berdiri berdampingan, memperlihatkan bagaimana hierarki pada masa Dinasti Joseon hidup berdampingan dalam satu desa.

Pusat Spiritual (Samsindang): Di jantung desa tumbuh pohon zelkova berusia 600 tahun yang dinamakan Samsindang. Pohon ini dipuja sebagai tempat bersemayamnya roh pelindung desa (Samsin). Setiap hari ke-15 bulan pertama penanggalan lunar, warga menggelar ritual khusus untuk memohon kedamaian dan keharmonisan desa.

Foto: tiketcom
Warisan Budaya Takbenda dan Revitalisasi Sosial

127 rumah berdiri mengelilingi pohon zelkova, di sepanjang gang-gangnya, berjejer rumah-rumah Hanok yang berstatus sebagai cagar budaya, seperti rumah Yangjindang dan rumah Chunghyodang. Desa Hahoe bukanlah desa wisata biasa seperti ratusan desa lainnya di Korea, Hahoe adalah sebuah warisan budaya yang hidup (living heritage). Penduduknya menjalankan kehidupan sehari-hari dengan kegiatan seperti di masa lalu:

Foto: gofarther.blog

Tari Topeng Hahoe (Hahoe Byeolsingut Tallori): Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda tingkat nasional pada tahun 1980. Tarian yang secara tradisional dipentaskan oleh kalangan pelayan ini direvitalisasi pada tahun 1980-an sebagai simbol gerakan anti-kemapanan, yang menarik perhatian luas dari para aktivis dan mahasiswa serta meningkatkan profil desa di tingkat nasional. Pertunjukan ini menggunakan topeng untuk menyindir kesombongan kaum yangban dan menampilkan kepedihan rakyat menjadi komedi. Dalam pertunjukan yang berlangsung sekitar satu jam ini, para penampil yang juga bernyanyi saling berinteraksi dengan penonton, dan diakhiri dengan menari bersama.

Foto: Wikimedia

Tradisi Kuliner Gangodeungeo (makarel asin) adalah olahan ikan asin khas Andong yang dikembangkan oleh kota pedalaman ini; rasanya yang asin namun sangat cocok disantap dengan nasi putih hangat. Andong jimdak (ayam rebus bumbu kecap khas Andong) terdiri dari rebusan ayam dengan bihun dan sayuran dalam saus berbahan dasar kecap yang dikenal dengan cita rasa manis dan asin. Kimjang: praktik pembuatan kimchi secara gotong royong yang difermentasikan dalam kendi tanah liat merupakan warisan budaya takbenda yang mempererat keharmonisan dan ikatan sosial antarwarga.  Andong sikhye adalah minuman manis tradisional berbasis beras.

Pewarisan Keterampilan Kerajinan: Keterampilan tradisional seperti kerajinan ukiran kayu, pembuatan genteng, hingga pemasangan atap jerami terus diwariskan antargenerasi dan didemonstrasikan langsung kepada para pengunjung.

Foto: dreamstime
Tantangan, Dinamika Sosiologis, dan Penataan Wisata

Meskipun kaya akan sejarah, Desa Hahoe sempat mengalami kemerosotan akibat penuaan populasi dan migrasi kaum muda ke kota-kota besar. Ketika arus pariwisata mulai berkembang pesat pada awal 1990-an, muncul ancaman komodifikasi warisan lokal yang berisiko merusak integritas dan keaslian desa.

Namun, status Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2010 menjadi titik balik. Melalui pendekatan pariwisata yang bertanggung jawab (responsible tourism), pertumbuhan PDB lokal dan peluang ekonomi berhasil melunakkan hierarki kelas tradisional menuju tatanan yang lebih setara. Dampaknya, arus migrasi keluar kaum muda dapat dibendung, dan kesejahteraan generasi tua meningkat.

Foto: UNESCO
Tata Kelola dan Model Pendanaan Multipihak

Keberhasilan Desa Hahoe tidak terlepas dari tata kelola terpadu dan dukungan finansial yang berkelanjutan:

Pemerintahan Partisipatif (Dewan Pelestarian Desa Adat): Dibentuk pada Januari 2010 sebagai organisasi semi-publik. Dewan ini melibatkan perwakilan pemerintah pusat, provinsi, daerah, serta para ahli dan warga lokal untuk menjamin partisipasi masyarakat dalam setiap pengambilan keputusan.

Dukungan Finansial dan Distribusi Pendapatan:

Pemerintah menginvestasikan sekitar US$40,1 juta untuk pembangunan infrastruktur akses, area parkir, dan pusat perbelanjaan tradisional di luar kawasan cagar budaya.

Pemerintah daerah mensubsidi 40 persen dari pendapatan tiket masuk (yang mencapai sekitar US$3 juta per tahun) untuk dikelola langsung oleh Dewan Pelestarian Desa Adat.

Pengelolaan biaya parkir dan sewa toko di kompleks pertokoan luar desa diserahkan oleh Pemerintah Kota Andong kepada Dewan Pelestarian Desa Adat.

Pemerintah pusat memberi subsidi langsung kepada keluarga yang tinggal dan merawat rumah-rumah kuno tersebut.

Foto: UNESCO
Pengelolaan Pergerakan Pengunjung:

Area Parkir Terpisah: Parkir kendaraan ditempatkan jauh di luar kawasan inti untuk menjaga ketenangan dan suasana asli desa.

Jalur Wisata Budaya (Heritage Walks): Pembangunan Jalur Desa Hahoe senilai US$5,4 juta menghubungkan desa dengan situs sekitar (seperti Akademi Kong Hu Cu Byeongsanseowon dan Kuil Bongjeongsa) guna mengatur alur pengunjung dan meminimalkan gangguan terhadap kehidupan warga lokal.

Penegakan Hukum Ketat: Tindakan tegas diberlakukan terhadap setiap pembangunan atau pendudukan lahan secara ilegal.

Pemanfaatan Kembali Secara Adaptif (Adaptive Reuse): Rumah-rumah tradisional dimanfaatkan sebagai penginapan bed and breakfast tanpa mengubah struktur asli bangunan.

Foto: UNESCO
Pelajaran Penting untuk Pengelolaan Desa Adat

Pengalaman Desa Hahoe memberikan sejumlah pelajaran penting bagi pengembangan dan pelestarian desa adat di tempat lain:

Pelibatan Aktif Masyarakat Lokal: Pelestarian yang bersifat top-down berisiko meminggirkan nilai-nilai lokal dan menurunkan kesadaran warga. Kepemimpinan aktif dari penduduk asli adalah kunci utama dalam menjaga karakter dan keaslian desa.

Pencegahan Komodifikasi Berlebihan: Infrastruktur pendukung pariwisata (area parkir, komersial, komoditas belanja) harus ditempatkan di luar kawasan cagar budaya agar integritas dan kelestarian lanskap utama tidak terganggu.

Keseimbangan Konservasi Fisik dan Non-Fisik: Pelestarian bangunan fisik (tangible) harus berjalan seiring dengan revitalisasi tradisi, seni, kuliner, dan pengetahuan lokal (intangible).

Manfaat Ekonomi Kembali ke Warga: Pembagian hasil pendapatan pariwisata yang adil serta dukungan subsidi perumahan memastikan bahwa konservasi membawa kesejahteraan nyata bagi warga, yang pada akhirnya mendorong generasi muda untuk bertahan dan melestarikan desanya.

   

Kimchi adalah hidangan sayuran yang dibuat dengan membumbui berbagai jenis sayuran buah, daging, ikan, atau makanan laut hasil fermentasi menggunakan rempah-rempah. Proses fermentasi berlangsung di dalam kendi-kendi tanah liat. Praktik pembuatan kimchi di Korea, yang dikenal sebagai kimjang, telah tercantum dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Kegiatan kuliner ini mendorong semangat kerja sama di antara keluarga, desa, dan masyarakat. Setiap desa adat memiliki tradisi kulinernya sendiri yang mungkin menghilang akibat dampak sosial ekonomi. Varian-varian kuliner perlu dikaji dan dipetakan secara sistematis demi upaya revitalisasi.

Sumber:

Sade yang Terbakar, Warisan Budaya yang Hilang Sebelum Waktunya
UNESCO: George Town and Melaka, Developing effective governance
UNESCO: Rancangan Pengelolaan dan Konservasi Hahoe dan Yangdong,
Tourism Impacts Continuity of World Heritage List Inscription and Sustainable Management of Hahoe Village,
Andong Hahoe Folk Village: The Perfect Rural Weekend Getaway in Korea,
Top 6 Things to do in Hahoe Folk Village – UNESCO Heritage
A Guide To Hahoe: Korea’s Most Charming Folk Village
Andong Hahoe Village Trip
Google Arts & Culture: The Beauty of  Traditional Korean Architecture.

Leave a Comment