Skip to content Skip to footer

Renovasi Besar Benteng di Kota Erbil, Kurdistan, Mendapat Tambahan Dukungan Dana 10 Juta Dollar AS

Foto: Kurdish Globe

Salah satu pemukiman tertua di dunia yang masih terus dihuni manusia, kembali bercahaya—baik secara harfiah maupun sebagai kiasan adanya tanda-tanda kehidupan baru. Sepanjang Mei 2025 dilakukan langkah besar untuk memasang sistem pencahayaan di benteng yang luasnya 110.000 meter persegi ini. Situs warisan dunia UNESCO yang terdaftar pada 2014 ini sudah mulai bersinar hangat di malam hari, menunjukkan betapa jauhnya restorasi telah berjalan.

Tempat yang dulunya sunyi dan kosong perlahan-lahan menjadi lingkungan yang hidup kembali. Pencahayaan bukan sekadar dekorasi—melainkan tanda bahwa benteng tersebut sedang bangkit. Falah Hassan, yang mengepalai tim restorasi benteng, mengatakan bahwa pekerjaan ini lebih dari sekadar memperbaiki batu-batu tua. “Kami sedang menghidupkan kembali memori dan identitas,” ujarnya.

Selanjutnya dikatakan bahwa keluarga-keluarga Kurdi yang beberapa tahun lalu direlokasi akan segera kembali ke rumah-rumah lama mereka di dalam benteng. Beberapa keluarga bahkan akan mulai pindah tahun ini. Tim restorasi akan memilih keluarga-keluarga yang memiliki ikatan erat dengan sejarah benteng untuk kembali terlebih dahulu. Meskipun rumah mereka akan tetap mempertahankan tampilan tradisionalnya, rumah-rumah tersebut akan diperbarui agar sesuai dengan kehidupan modern.

Foto: gov.krd

Erbil bersesuaian dengan Arbela, sebuah pusat politik dan agama Asyur. Erbil Citadel adalah benteng permukiman yang bertengger di atas gundukan yang dikenal sebagai tell—bukit buatan yang terbentuk selama ribuan tahun terbangun dari lapisan-lapisan hunian manusia. Dalam arkeologi, tell terbentuk ketika masyarakat terus-menerus membangun kembali di atas reruntuhan bangunan sebelumnya. Proses ini berlangsung selama lebih 6.000 tahun, tumpang tindih permukiman dari peradaban Sumeria kuno, Asyur, Babilonia, Sassaniyah, Medes, Romawi, Abbasiyah, hingga Ottoman… dan mencapai ketinggian 30 meter. 

Foto: LaChica Flickr

Benteng Erbil menyimpan sejarah lebih dari 6.000 tahun. Selama berabad-abad, struktur perkotaannya telah berubah secara signifikan, dengan banyak rumah dan bangunan publik hancur. Banyak bangunan dan dindingnya sangat membutuhkan perbaikan dan restorasi. Beberapa rumah kekurangan infrastruktur dasar yang memadai, termasuk drainase, listrik, dan sanitasi. Selama abad ke-20, jalan-jalan modern ditambahkan di atas tell untuk mengakomodasi lalu lintas mobil—perubahan yang semakin merusak situs kuno ini.

Namun dalam banyak hal, Benteng ini masih terus berkembang. Seperti semua gundukan tell, hunian yang berkelanjutan berkontribusi pada ukuran, usia, dan nilai arkeologisnya.

Pada tahun 2007, dibentuk Komisi Tinggi untuk Revitalisasi Benteng Erbil (High Commission for the Erbil Citadel’s Restoration – HCECR) untuk mengawasi pelestarian situs tersebut. Pada tahun yang sama, 840 keluarga direlokasi dengan kompensasi finansial untuk memberi akses bagi proyek restorasi besar untuk benteng dan 560 bangunan. Hanya satu keluarga yang tinggal untuk menjaga kriteria status sebagai “pemukiman tertua di dunia yang masih terus dihuni manusia.”

Sejak saat itu, tim arkeologi internasional berkolaborasi dengan para ahli lokal untuk melakukan penelitian dan pekerjaan konservasi. Pada tahun 2010, Irak mendaftarkan Benteng untuk penunjukan Warisan Dunia UNESCO, yang didukung oleh dana publik lebih dari $13 juta. UNESCO dan mitra internasional lainnya pun bekerja sama dengan HCECR menyusun rencana pelestarian dan rehabilitasi yang komprehensif.

Restorasi tempat-tempat penting seperti Masjid Agung, pemandian umum era Ottoman, dan pondok-pondok Sufi diutamakan. Para perajin lokal yang terampil dengan cermat menghidupkan kembali tempat-tempat ini. Rencana ini juga mencakup pembangunan tempat-tempat baru seperti kedai teh, guest house, dan restoran, agar semakin nyaman bagi pengunjung dan penduduk lokal. Jalan-jalan sempit dan rumah-rumah akan kembali dipenuhi kehidupan dan komunitas.

Dukungan dari pemerintah telah membantu mempercepat proyek ini. Pemindahan tim restorasi di bawah pengawasan langsung Perdana Menteri Wilayah Kurdistan membawa perubahan besar, membantu pendanaan dan koordinasi. 

Foto: basnews.com

Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay pada Oktober 2025 meluncurkan program baru untuk melestarikan warisan budaya Irak. Proyek “Reviving the World Heritage Site of Erbil Citadel”, yang didanai oleh KAR New Ventures Limited (KAR) sebesar US$ 10 juta.

“Inisiatif baru ini menggambarkan penguatan kerja sama kami dengan Kurdistan Irak dan secara umum dengan Irak dalam pelestarian warisan budayanya yang kaya. Di jantung Benteng Erbil, kami akan melindungi sebuah landmark penting dalam sejarah kawasan ini, sekaligus menegaskan kembali peran sentralnya dalam pembangunan budaya, sosial, dan ekonomi kontemporer,” tegas Audrey Azoulay.

Kolaborasi baru yang diluncurkan dengan upacara penandatanganan di Paris ini, mencakup struktur warisan utama di dalam Benteng, termasuk bangunan bersejarah, dipugar untuk meningkatkan aksesibilitas, meningkatkan pengalaman pengunjung, dan mempromosikan keterlibatan budaya. Proyek ini juga bertujuan untuk mendorong pembangunan ekonomi di Benteng Erbil dengan melibatkan bisnis dan wirausahawan lokal serta mendukung kegiatan komersial di butik, kafe, dan tempat-tempat budaya. Pelatihan dan pengembangan keterampilan akan menjadi komponen penting lainnya dari proyek ini, memastikan para perajin dan teknisi lokal memiliki bekal yang memadai dalam pengelolaan warisan. 

Kemitraan ini diimplementasikan selama empat tahun ke depan, UNESCO akan memimpin pelaksanaan proyek untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang Benteng Erbil sebagai pusat budaya, sosial, dan ekonomi, yang berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang lebih luas, termasuk kota inklusif, pekerjaan layak, dan pariwisata berkelanjutan.

UNESCO, yang menobatkan benteng tersebut sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 2014, baru-baru ini memeriksa pekerjaan restorasi. Mereka menyatakan bahwa proyek tersebut berjalan dengan baik dan mengikuti aturan internasional, meskipun tim dengan hati-hati menambahkan utilitas modern seperti listrik dan pipa ledeng tanpa merusak bangunan tua.

Foto: Kurdistan24

Yang membuat restorasi ini istimewa adalah bahwa restorasi ini lebih dari sekadar menyelamatkan batu-batu tua. Restorasi ini tentang mengembalikan hati dan jiwa tempat yang penuh kenangan, budaya, dan komunitas.
Malam hari saat citadel bersinar terang di atas bukit, bagi warga Erbil ini bukan sekadar monumen kuno. Ini adalah rumah yang kembali hidup menyala.

Sumber: UNESCO, World Monument Fund, gov.krd, basnews, kurdishglobe.krd, Kurdistan24, jcfk.org,

 

Untuk terjemahan narasi ke teks bahasa Indonesia: klik ikon roda gigi di pojok kanan bawah, pilih [Subtitle/CC], pilih [Auto translate] dan terakhir pilih [Indonesian] di daftar nama yang muncul.

 

Leave a Comment