Skip to content Skip to footer

Bioskop di Bukittinggi: Ruang Sinema, Memori Kolektif, dan Relevansi Urban Heritage

“Sinema dalam urban heritage bukan sekadar ruang hiburan  tetapi stratigrafi    modernitas yang membentuk memori, imajinasi, dan identitas urban.”

Kota Bukittinggi adalah salah satu kota yang paling menarik dalam sejarah urban Indonesia karena ia merupakan titik temu antara tradisi, modernitas, pendidikan, wacana intelektual, turisme, dan perdagangan. Kota ini tidak hanya dikenal karena ikon Jam Gadang, pasar tradisi yang kuat, atau lanskap kolonial yang mendominasi ruang-ruang bersejarahnya, tetapi juga karena jejak budaya sinema yang tumbuh sejak awal abad ke-20. Bioskop-bioskop di Bukittinggi pernah menjadi episentrum gaya hidup modern kota; ruang dimana film bukan hanya tontonan hiburan tetapi juga arena negosiasi identitas, kelas sosial, ruang publik, dan transformasi modernitas di Sumatra Barat.

FOTO: Bioskop Sovya 1976, Facebook 

Ketika literatur Urban Archaeology (Carandini, 2001; Leone, 2019) berbicara tentang lapisan memori kota, bioskop sebenarnya adalah lapisan memori modern yang jarang diangkat secara serius sebagai warisan kota (urban heritage). Padahal, Bukittinggi memiliki jejak bioskop yang sangat kuat: Bioskop Rex yang kemudian berubah menjadi Eri, Bioskop Savoy yang kemudian berganti menjadi Sovia, Capitol yang kemudian menjadi Hotel Gloria, dan Globe yang pernah menjadi pusat tontonan film Asia dan nasional. Selain itu, terdapat pula satu bioskop lama lain yang sudah tidak ada secara fisik namun masih hidup sebagai memori kolektif masyarakat. Keempat bioskop ini, beserta satu Lost Cinema* tersebut, merupakan penanda penting bagi sejarah budaya populer Indonesia.

FOTO: Bioskop ERI, Wikimedia

 

Bioskop sebagai Medium Modernitas dan Representasi Ruang Kota

Sejak masa kolonial akhir, bioskop di Bukittinggi tumbuh di sumbu komersial utama kota, terutama di area koridor Jam Gadang – Pasar Ateh – Stasiun Kereta – Lapangan Kantin. Ini bukan kebetulan. Dalam kajian geografi budaya kota kolonial, ruang hiburan selalu mengikuti alur transportasi, perdagangan, dan kawasan wisata (Nas, 2003; Kusno, 2012). Bioskop adalah bagian dari “komodifikasi leisure” modern perkotaan.

Bioskop-bioskop di Bukittinggi tidak berdiri terpisah sebagai bangunan individual, tetapi selalu melekat pada jaringan kota. Jalan-jalan di sekitar Jam Gadang adalah ruang berjalan kaki yang sangat hidup. Kehidupan malam kota memiliki kelas sosial yang sangat plural. Pelajar, pedagang, pegawai, perantau, wisatawan, hingga para penjual poster film seringkali berbaur di area sekitar bioskop. Maka bioskop memiliki fungsi sosiologis: ia adalah ruang perjumpaan sosial lintas kelas dan lintas etnis.

 

Jejak Arsitektur dan Ruang

Banyak dari bioskop-bioskop tersebut memiliki karakter arsitektur art deco atau art deco-late modern simplifikasi ala Hindia Belanda. Kanopi teater, neon signage, fasad dengan permainan garis vertikal, serta struktur auditorium tunggal (single screen dengan slope) adalah ciri umum teater awal abad 20 (Handinoto, 2010). Walaupun banyak dari bangunan sudah berubah fungsi pada dekade 1990–2000an, elemen-elemen ini masih bisa dilacak melalui foto arsip, oral history warga, iklan film lama, dan jejak fasad.

 

FOTO: Bioskop ERI, Wikimedia

Bioskop Capitol yang kini menjadi Hotel Gloria misalnya, memiliki jejak perencanaan ruang yang masih bisa dikenali secara volumetrik. Rex yang berganti nama menjadi bioskop Eri masih menyimpan memori signage dan posisi fasad tertentu. Ini merupakan “urban archaeological evidence” yang penting untuk rekonstruksi sejarah ruang modern Bukittinggi.

 

Peran Sinema terhadap Ekosistem Talenta

Tidak mengherankan bahwa Sumatra Barat melahirkan banyak insan film nasional. Jejak kota seperti Bukittinggi, Agam, Payakumbuh, dan Padang Panjang memiliki akar pendidikan yang kuat serta tradisi sastra dan pertunjukan (Randai, Pidato Adat, Sandiwara) yang sangat dekat dengan seni narasi. Ketika bioskop hadir di Bukittinggi, ia menjadi medium visual modern yang menyambungkan imajinasi kolektif Minangkabau dengan dunia global seperti film India, film Hongkong, film nasional 1950–1970an, film perang Jepang, hingga sinema era Orde Baru.

 

FOTO: Kolase tokoh perfilman nasional dari Sumatera Barat

 

Sinema bukan sekedar hiburan pasif. Ia adalah proses produksi identitas melalui konsumsi budaya (Habermas, 1989; Storey, 2001). Maka bioskop menjadi sekolah representasi: dari cara bicara, cara berpakaian, cara memaknai dunia modern. Banyak anak muda Minangkabau saat itu menyerap nilai sinema dan kemudian membawanya ke Jakarta dan pusat film nasional.

Degradasi Fisik dan Hilangnya Storyline Sinema Kota

Sayangnya, sebagian besar bioskop klasik Bukittinggi telah tutup atau berubah fungsi. Modernisasi sistem hiburan, munculnya televisi, VCD/DVD, kemudian internet dan OTT platform mengubah cara masyarakat menikmati film. Multiplex di mal mengambil posisi dominan, sementara bioskop tunggal ditinggalkan. Tidak ada kerangka kebijakan yang secara khusus melindungi bioskop sebagai elemen heritage modern (urban modern heritage). Padahal, UNESCO melalui HUL (Historic Urban Landscape, 2011) menegaskan bahwa warisan kota bukan hanya warisan pra-modern, kolonial, klasik, tetapi juga memori modern masyarakat urban (Bandarin & Van Oers, 2012).

Sebuah pertanyaan muncul, seberapa pentingkah ditangani sekarang? Tentu beragam jawaban akan muncul, tetapi kita mesti ingat bahwa bioskop merupakan artefak transisi modrenitas ditengah lingkaran anak muda yang mulai kehilangan hubungan genealogis dengan ruang film di perkotaan, karena apa? Karena generasi muda hanya meliat bahwa gedung kolonial dan rumah adat hanya sebagai artekfak simbolik yang tidak punya nilai dan makna (semoga penulis salah). Pendekatan Charles Landry didalam bukunya The Creative City yang menyatakan tentang bagaimana kota dapat memanfaatkan potensi kreatif untuk pembangunan kota  Bioskop lama bisa menjadi basis ekonomi kreatif baru  film  kurasi film  fastival  dan museum sinema.

Dengan masuknya kajian bioskop lama sebagai elemen warisan kota, Bukittinggi dapat menjadi pionir Urban Heritage Modern di Indonesia  sama seperti Penang menyematkan “modern vernacular cinema heritage” dalam kurasi ruangnya (Logan, 2002; King, 2008).

 

Belajar ke George Town

Warisan sinema vernakular modern di Penang terutama merujuk pada bangunan-bangunan bioskop tua ikonik yang dibangun pada abad ke-20, seperti Rex Cinema, Majestic Theatre, Odeon, dan Cathay. Bangunan-bangunan ini dianggap sebagai warisan karena memiliki signifikansi historis dan arsitektural dalam konteks perkembangan budaya dan sosial lokal di Penang.

FOTO: Bioskop REX di Georgetown, Penang, Malaysia – Facebook

 

Saat ini, banyak dari bangunan bersejarah ini telah ditutup sebagai bioskop dan dialihfungsikan atau berisiko dikembangkan kembali, seperti Rex Cinema yang menghadapi rencana pembongkaran untuk pembangunan kondominium di masa lalu. Upaya pelestarian warisan ini sering kali menjadi topik diskusi dalam konteks menjaga identitas sejarah George Town, yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO.

 

Jadi…………………..

Di tengah maraknya perhatian pada bangunan kolonial klasik, bioskop-bioskop Bukittinggi adalah warisan yang terlupakan namun memiliki nilai sangat kuat dalam memori kultural modern Indonesia. Membaca kembali bioskop-bioskop ini adalah membaca lapisan sejarah modern kota, membaca transformasi sosial masa lalu, dan membaca masa depan peluang ekonomi kreatif.

Narasi sinema harus kembali menjadi bagian dari storyline ruang Bukittinggi. Karena sejarah film tidak bisa hanya disimpan sebagai nostalgia, tetapi harus menjadi modal untuk membentuk identitas dan masa depan kota.

 

* Bioskop apakah itu? silahkan diisi dikolom komentar

 

Daftar Pustaka

Bandarin, F., & Van Oers, R. (2012). The Historic Urban Landscape: Managing Heritage in an Urban Century. Wiley-Blackwell.

Carandini, A. (2001). Archaeology and Memory. University of Chicago Press.

Habermas, J. (1989). The Structural Transformation of the Public Sphere. MIT Press.

Handinoto. (2010). Perkembangan Arsitektur Art Deco di Indonesia. UGM Press.

King, R. (2008). The Architectural Heritage of Penang. Areca Books.

Kusno, A. (2012). After the New Order: Space, Politics and Jakarta. University of Hawai’i Press.

Leone, M. (2019). The Archaeology of Urban America. University of California Press.

Logan, W. S. (2002). The Disappearing Asian City: Protecting Asia’s Urban Heritage in a Globalizing World. Oxford University Press.

Nas, P. (2003). Urban Symbolism. Brill.

Storey, J. (2001). Cultural Theory and Popular Culture. Pearson.

Leave a Comment