Program “Sharing Cities” dengan gagasan utama Aglomerasi Wisata Budaya merupakan salah satu pemikiran strategis yang disampaikan oleh Hasto Wardoyo, Ketua Presedium Jaringan Kota Pusaka Indonesia sekaligus Wali Kota Yogyakarta, dalam Rapat Pengurus JKPI pada 3 Februari 2026 di Balaikota Yogyakarta. Konsep ini lahir dari kesadaran bahwa kota-kota pusaka di Indonesia tidak berdiri sendiri, melainkan saling terhubung oleh jejak sejarah, pertukaran budaya, dan identitas ke-Nusantaraan yang telah terbentuk selama berabad-abad.
Latar Belakang Pemikiran
Selama ini, pola kunjungan wisata budaya di Indonesia masih cenderung terfragmentasi. Wisatawan datang ke satu kota, menikmati destinasi utama, lalu kembali pulang tanpa melanjutkan perjalanan ke kota pusaka lain yang sebenarnya memiliki keterkaitan historis maupun tematik. Akibatnya, durasi tinggal wisatawan relatif pendek dan manfaat ekonomi pariwisata belum terdistribusi secara merata.
Padahal, jika dilihat dari perspektif sejarah, kota-kota pusaka di Indonesia tumbuh dalam jaringan yang saling terhubung—baik melalui jalur perdagangan maritim, penyebaran agama dan budaya, maupun sistem pemerintahan tradisional dan kolonial. Keterhubungan ini sesungguhnya merupakan modal besar untuk membangun pendekatan lintas wilayah dalam pengelolaan pariwisata budaya.
Dari sinilah muncul gagasan Aglomerasi Wisata Budaya sebagai roh dari Program “Sharing Cities”.

Pengertian Aglomerasi Wisata Budaya
Aglomerasi wisata budaya adalah upaya strategis untuk menghubungkan kota-kota pusaka dalam satu ekosistem perjalanan wisata berbasis sejarah, budaya, dan identitas Nusantara. Konsep ini tidak sekadar menggabungkan destinasi, tetapi membangun narasi bersama yang menjelaskan bagaimana satu kota berkaitan dengan kota lainnya dalam satu jalinan sejarah dan kebudayaan.
Dengan pendekatan ini, perjalanan wisata tidak lagi dipahami sebagai kunjungan tunggal ke satu lokasi, melainkan sebagai pengalaman berlapis yang mengikuti jejak peradaban Nusantara dari satu kota ke kota lainnya.
Tujuan Utama Program Sharing Cities
Program Sharing Cities melalui pendekatan aglomerasi wisata budaya memiliki tiga tujuan utama.
Pertama, memperpanjang lama tinggal wisatawan. Ketika kota-kota pusaka dipaketkan dalam satu narasi perjalanan, wisatawan terdorong untuk melanjutkan kunjungan dari satu kota ke kota lain. Misalnya, wisata sejarah maritim dapat menghubungkan kota pelabuhan tua di Jawa, Sumatra, hingga Maluku dalam satu jalur tematik.
Kedua, mendorong pemerataan manfaat ekonomi. Selama ini, kota besar atau destinasi yang sudah terkenal cenderung menyerap sebagian besar kunjungan wisata. Dengan sistem aglomerasi, kota-kota pusaka yang lebih kecil tetapi memiliki nilai sejarah penting dapat ikut masuk dalam arus perjalanan wisata, sehingga dampak ekonomi menyebar lebih luas.
Ketiga, memperkuat identitas kota pusaka sebagai bagian dari identitas Nusantara. Melalui jejaring ini, setiap kota tidak hanya menonjolkan keunikannya, tetapi juga perannya dalam mozaik sejarah bangsa. Identitas lokal justru menjadi lebih kuat ketika ditempatkan dalam konteks yang lebih luas.

Pendekatan Lintas Wilayah
Kunci dari aglomerasi wisata budaya adalah pendekatan lintas wilayah. Ini berarti perencanaan pariwisata tidak lagi berbasis batas administratif semata, tetapi berbasis keterkaitan sejarah dan budaya.
Pendekatan ini mencakup penyusunan jalur wisata tematik antar kota, integrasi kalender event budaya, kerja sama promosi bersama, serta pengembangan sistem informasi yang memudahkan wisatawan merencanakan perjalanan lintas kota. Kota-kota pusaka berbagi cerita, berbagi panggung, dan berbagi manfaat.
Dalam konteks inilah istilah “Sharing Cities” menemukan maknanya: kota-kota tidak bersaing satu sama lain, tetapi saling berbagi narasi, arus kunjungan, dan peluang ekonomi.
Dampak Sosial dan Budaya
Aglomerasi wisata budaya juga membawa dampak sosial dan budaya yang penting. Interaksi antarkota akan mendorong pertukaran pengetahuan pengelolaan warisan budaya, penguatan komunitas lokal, serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap nilai sejarah kotanya.
Masyarakat tidak lagi melihat kotanya sebagai entitas terpisah, tetapi sebagai bagian dari jaringan kota pusaka Nusantara. Kesadaran kolektif ini berpotensi memperkuat rasa memiliki terhadap warisan budaya dan mendorong partisipasi warga dalam pelestarian.

Menuju Ekosistem Perjalanan Nusantara
Pada akhirnya, Program Sharing Cities dengan pendekatan aglomerasi wisata budaya adalah langkah menuju pembentukan ekosistem perjalanan Nusantara. Wisata budaya tidak lagi bersifat titik-titik terpisah, melainkan menjadi jaringan pengalaman yang saling terhubung.
Gagasan yang disampaikan oleh Dr. (HC) dr. H. Hasto Wardoyo ini menegaskan bahwa masa depan pariwisata kota pusaka Indonesia terletak pada kolaborasi, bukan kompetisi. Dengan membangun jejaring perjalanan lintas kota, Indonesia tidak hanya menawarkan destinasi, tetapi sebuah kisah besar tentang peradaban Nusantara yang dapat dijelajahi dari satu kota pusaka ke kota pusaka lainnya.
Konsep ini inklusif karena memberi ruang bagi semua kota pusaka—besar maupun kecil—untuk menjadi bagian dari cerita bersama. Dan dari sanalah, pariwisata budaya dapat tumbuh lebih berkelanjutan, berkeadilan, dan bermakna.