Di atas semenanjung berbatu Pulau Lopud yang tenang di lepas pantai Dubrovnik, Kroasia, berdiri sebuah struktur batu kuno yang memadukan pertahanan benteng perkasa dengan ketenangan spiritual biara. Didirikan pada tahun 1483—sebagaimana terukir abadi pada batu fasadnya—kompleks Lopud 1483 kini berdiri sebagai salah satu proyek restorasi arsitektur paling luar biasa dan puitis di Mediterania.
Jejak Sejarah: Dari Benteng Pertahanan Hingga Reruntuhan yang Terlupakan
Pada masa kejayaan Renaisans abad ke-15, Pulau Lopud merupakan pusat pelayaran dan perkapalan yang kaya di bawah naungan Republik Ragusa (Dubrovnik). Biara Fransiskan Our Lady of the Cave yang dibangun di pulau ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat keagamaan, melainkan juga sebagai sekolah, apotek herbal, dan benteng pertahanan utama warga pulau dari ancaman bajak laut serta serangan armada Ottoman.
Namun, seiring berjalannya waktu dan berulangnya konflik politik serta gempa bumi dahsyat di wilayah Adriatik, biara ini akhirnya ditinggalkan. Selama berdekade, dinding-dinding batunya lapuk diterjang angin laut, atapnya runtuh, dan vegetasi liar mengambil alih setiap sudut ruang yang dahulu dipenuhi doa dan aktivitas medis para biarawan.

Misi Penyelamatan Francesca von Habsburg: Restorasi 20 Tahun
Kisah kebangkitan Lopud 1483 bermula pada tahun 1992 di tengah kecamuk Perang Kemerdekaan Kroasia. Baroness Francesca Thyssen-Bornemisza—seorang kolektor seni kenamaan dari keluarga Thyssen-Bornemisza—berkunjung ke Kroasia dalam misi menyelamatkan artefak dan warisan budaya yang terancam hancur.
Ketika melangkah ke reruntuhan biara di Lopud yang dipenuhi semak belukar, ia melihat keindahan tersembunyi yang tak ternilai. Arsitek kenamaan Frank Gehry (1929-2025), terkenal dengan gaya dekonstruktivismenya yang dinamis dan inovatif, memberi saran krusial yang kelak menjadi fondasi restorasi:
“Restorasilah tempat ini, tetapi lakukanlah secara perlahan dan penuh kehati-hatian.”
Tim arsitek dari Studio Arhitektri di Zagreb menghadapi tantangan besar: bagaimana menghadirkan elemen kontemporer ke dalam bangunan abad ke-15 tanpa menghilangkan esensi karakter aslinya.
Solusi mereka adalah menghadirkan tambahan modern dengan cara yang sehalus dan setenang mungkin, serta menuangkan kreativitas melalui kecermatan detail, kejutan spasial, serta permainan warna dan cahaya yang menciptakan suasana khas.
“Prinsip utama pelestarian menyatakan bahwa jika ditemukan bukti keberadaan suatu elemen, maka prinsip dan/atau material yang sama harus digunakan untuk membangunnya kembali. Jika sebuah ruangan tidak memiliki lantai namun di bagian-bagian tertentu terdapat sisa-sisa pelapis lantai aslinya, maka seluruh lantai tersebut harus dibangun ulang menggunakan material dan teknik yang sama.”
— Francesca Thyssen-Bornemisza
Restorasi ini akhirnya memakan waktu hingga dua dekade (20 tahun) dengan penghormatan penuh terhadap integritas sejarah:
Plester Asli Abad ke-16: Pertukangan batu kuno dan plesteran dinding abad ke-16 dipertahankan sebisa mungkin, termasuk grafiti dan ukiran sejarah kuno yang menempel di dinding.
Transformasi Sel Biarawan: Sebanyak 13 sel biarawan yang sempit diubah secara halus menjadi 5 suite mewah yang lapang, menyerap cahaya alami tanpa merusak struktur utama batu.
Sinergi Kuno dan Modern: Material alami seperti kayu lokal dan batu kapur dipadukan dengan furnitur kontemporer buatan perancang Italia Paola Lenti serta fasilitas modern abad ke-21.

Galeri Seni Hidup: Perpaduan Koleksi Klasik dan Kontemporer
Kini, biara tersebut menawarkan perpaduan apik antara elemen sejarah dan kenyamanan modern. Kamar mandi bergaya Italia kontemporer terletak tak jauh dari ruangan yang memamerkan koleksi pusaka keluarga yang tak ternilai, termasuk wadah relikui abad ke-14 dan permadani Flemish. Lukisan cat minyak era Renaisans bersanding dengan sofa beludru abad ke-21, sementara meja-meja dihiasi karya seni modern, koleksi buku pilihan, dan rangkaian bunga eksotis.
Di kamar tidur utama, grafiti bertuliskan “IL DUCE”—yang ditinggalkan oleh tentara pendudukan Italia selama Perang Dunia II—menjadi bagian dari dekor ruangan.
“Saya mempertahankannya karena sejarah itu penting,” ujar Francesca Thyssen-Bornemisza.
Setiap intervensi baru dirancang untuk mencerminkan kepedulian dan pemikiran inovatif tanpa mengaburkan struktur bangunan yang bersejarah. Desain furniturnya, yang merupakan hasil kolaborasi dengan Paola Lenti, desainer sekaligus merek furnitur mewah ternama di Meda, Italia, juga mengusung filosofi serupa: bentuk-bentuk sederhana yang dirancang dengan kecermatan pada detail menciptakan elemen-elemen yang mengundang kenyamanan serta memperkuat suasana tenang

Lopud 1483 bukan sekadar tempat menginap eksklusif atau situs bersejarah; tempat ini adalah galeri seni privat tempat karya master klasik berdiri berdampingan secara alami dengan seni kontemporer dari koleksi keluarga Thyssen-Bornemisza dan yayasan TBA21 (Thyssen-Bornemisza Art Contemporary):
Ruang Masuk (Angel’s Hall): Dua patung malaikat bergaya Baroque abad ke-18 karya Michael Klahr menyambut pengunjung di dinding asli yang masih menyimpan inskripsi kuno.
Refektorium (Ruang Makan): Dihiasi meja kayu walnut buatan Firenze tahun 1550, karpet Medallion Ushak abad ke-16, dan lukisan master malam hari karya Mattia Preti, “The Liberation of Saint Peter” (1645).
Koleksi Kontemporer: Dinding biara juga dihiasi karya seni kontemporer internasional, seperti lukisan dan karya fotografi dari Gerhard Richter, Chris Ofili, hingga Rineke Dijkstra.
Anda datang ke Lopud bukanlah untuk sibuk melakukan sesuatu, namun untuk sekadar ‘ada’—untuk berhenti memproyeksikan diri dan membiarkan diri Anda terinspirasi.”
— Francesca Thyssen-Bornemisza

Sacred Garden: Menghidupkan Kembali Tradisi Apotek Fransiskan
Salah satu pencapaian paling unik dari restorasi ini adalah penghidupan kembali tradisi pengobatan herbal Ordo Fransiskan. Dirancang bekerja sama dengan tabib dan shaman asal Swedia, Åsa Andersson, Sacred Garden dirancang sebagai “mandala hidup” yang memadukan spiritualitas, arsitektur, dan penyembuhan:
Rejuvenating Lavender Spiral: Jalur spiral lavender berlawanan arah jarum jam yang mengajak pengunjung melakukan latihan napas dalam untuk pemulihan energi.
Passiflora Flower Shower: Ruang yang dikelilingi bunga markisa dan elemen tembaga untuk meredakan ketegangan mental dan kecemasan.
Station for Survivors: Dipusatkan pada pohon zaitun berusia 300 tahun yang batangnya membentuk huruf “V”, melambangkan ketahanan dan kemenangan atas cobaan hidup.
The Lemon Corner: Dikelilingi pohon lemon yang memancarkan energi hangat, diciptakan khusus untuk refleksi penerimaan diri dan kasih sayang.
Berbagai titik di taman ini menghubungkan pengunjung dengan warisan pengobatan biara tersebut, termasuk Elixir of Long Life yang termasyhur—sebuah tonik pemulih kesehatan yang memadukan bahan-bahan eksotis melalui proses peracikan rumit selama 18 hari. Eliksir istimewa ini—yang mengandung bahan-bahan seperti lidah buaya Socotra, safron berkualitas tinggi, kunyit putih, dan akar gentian—menunjukkan luasnya jaringan perdagangan global serta pengetahuan botani yang dimiliki kaum Fransiskan.

Menikmati Keheningan Adriatik
Kini, Lopud 1483 disewakan secara privat untuk grup kecil hingga 10 tamu. Di atap benteng pertahanan kuno, para tamu dapat menikmati pemandangan matahari terbenam panorama 360 derajat ke arah Kepulauan Elaphiti dan Taman Nasional Mljet. Kombinasi antara angin laut yang kaya mineral, aroma rosemary dan sage dari taman obat, serta keheningan pulau bebas kendaraan ini menciptakan suaka yang menenangkan jiwa.
Lopud 1483 menetapkan standar baru dalam restorasi bangunan bersejarah: bukti nyata bahwa situs kuno tidak harus dibekukan menjadi museum yang kaku, melainkan dapat dihembuskan napas kehidupan baru tempat sejarah, seni, dan jiwa manusia kembali menyatu.

Wawancara myprivatevillas dengan Francesca Thyssen-Bornemisza
Owner and Creative Director of Lopud 1483
Apa saja tantangan dalam memugar biara yang berasal dari tahun 1483 tersebut, dan bagaimana Anda menentukan bagian mana yang harus dipertahankan?
Tantangan terbesarnya bukan sekadar masalah waktu atau kerumitan teknis, melainkan upaya mempertahankan “jiwa” bangunan itu sendiri. Proposal teknis awal—yang telah disetujui oleh lembaga pelestarian setempat—mengusulkan pembongkaran cloister kuno (selasar/serambi) biara tersebut demi membangun struktur beton yang dirancang untuk melindungi bangunan dari potensi gempa.
Saya menentang rencana ini dengan sekuat tenaga. Dua tahun saya terus menentangnya, tidak rela jiwa Lopud 1483 hilang begitu saja atas nama pelestarian.

Pada akhirnya, saya menemukan mitra yang visioner dalam diri Profesor Fritz Wenzel, seorang insinyur struktur brilian yang rekam jejak karyanya mencakup penguatan struktur Hagia Sophia di Istanbul, sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO. Berkat kecerdasannya, kami menerapkan solusi seismik tak kasatmata yang mampu mempertahankan keutuhan area aslinya. Intervensi yang halus, tak mencolok, namun sangat efektif ini menjadi salah satu pencapaian rekayasa terbesarnya.
Saya mengerahkan segala upaya demi menjaga integritas dan keaslian Lopud 1483. Kini, area tersebut tetap utuh dan terus menjadi jantung spiritual serta arsitektural biara ini. Setiap langkah dalam proses pemugaran tidak hanya berpedoman pada prinsip-prinsip konservasi, tetapi juga didorong oleh keyakinan emosional yang mendalam. Seperti nasihat Frank Gehry saat berkunjung pada tahun 1995: “Luangkanlah waktu untuk memugar tempat yang magis ini. Biarkan batu-batu itu berbicara kepadamu dan biarkan bangunan itu sendiri yang memberi tahu apa yang ia inginkan.”
Menurut saya, pujian terbaik yang kami terima adalah bahwa fitur-fitur baru ini terasa seolah-olah sudah ada sejak dulu! Niat kami adalah membuat arsitektur baru tersebut melengkapi yang lama tanpa merusak tatanan aslinya.”
— Francesca Thyssen-Bornemisza

Apa saran paling mengejutkan atau tidak lazim dari tim restorasi?
Salah satu rekomendasi yang tak terduga adalah mempertahankan grafiti asli di biara tersebut. Awalnya, sempat ada perdebatan mengenai apakah tanda-tanda itu perlu dilestarikan, namun kami menyadari nilai sejarahnya dan memutuskan untuk mempertahankannya sebagai jejak autentik masa lalu biara.
Proses restorasi memakan waktu 20 tahun—jika bisa kembali ke masa lalu, apa yang akan Anda lakukan secara berbeda?
Menilik kembali proses restorasi tersebut, saya tidak akan mengubah durasi pengerjaannya. Jangka waktu yang panjang memungkinkan kami memberikan perhatian cermat terhadap detail dan memastikan bahwa kami menghormati sejarah biara di setiap tahapannya. Ini adalah sebuah karya yang lahir dari kecintaan mendalam serta menuntut kesabaran dan dedikasi.
Elixir of Long Life (Ramuan Panjang Umur) merupakan tonik asli buatan biarawan Fransiskan—apakah Anda pernah mempertimbangkan untuk menghadirkan kembali ramuan tersebut bagi para tamu saat ini?
Tentu saja. Apotek kami—yang telah dipugar dengan indah dan masih menyimpan peralatan serta wadah aslinya—menjadi wujud penghormatan terhadap pengetahuan mendalam para biarawan di bidang pengobatan. Demi melestarikan warisan tersebut, kami membuat kebun tanaman obat yang mencakup lebih dari 60 jenis tanaman dan herbal, yang banyak di antaranya secara tradisional digunakan oleh kaum Fransiskan. Dari kebun ini, kami meracik sendiri seduhan herbal organik, yang tidak hanya menawarkan pengalaman kebugaran bagi para tamu, tetapi juga sebuah perjalanan multisensori untuk menyelami tradisi perawatan dan kontemplasi biara yang telah berusia berabad-abad.

Apa manfaat tak terduga dari lokasi Lopud 1483?
Lingkungan Pulau Lopud yang bebas kendaraan menawarkan suasana ketenangan yang langka. Ketiadaan kendaraan memungkinkan para tamu untuk benar-benar menikmati keindahan alam dan ketenangan di sekitarnya, sehingga menciptakan rasa relaksasi yang mendalam serta ikatan yang erat dengan alam.
Adakah fitur khas dari Lopud 1483 yang memiliki makna istimewa bagi Anda?
Ya—tentu saja, Sacred Garden. Dirancang oleh Åsa Andersson, orang pintar dan tabib luar biasa asal Swedia, taman ini lebih dari sekadar sebuah ruang; taman ini merupakan mandala kedamaian dan transformasi yang hidup dan bernapas. Berlandaskan geometri suci, tata letaknya mengikuti prinsip-prinsip harmoni kuno yang selaras dengan tubuh dan jiwa. Dari sembilan titik meditasi setiap titiknya berhubungan dengan frekuensi energi tertentu, yang selaras dengan cakra serta geometri alam.
Visi Åsa adalah menciptakan tempat perlindungan di mana para tamu dapat merasakan ketenangan mendalam dan pemulihan hubungan batin—sesuatu yang ia sebut sebagai “mendengarkan kembali suara hati.”
Taman ini mengusung semangat awal biara tersebut sebagai tempat perenungan yang hening, mengubah warisan itu menjadi sebuah perjalanan ziarah jiwa yang kontemporer. Dikelilingi oleh tanaman obat dan embusan lembut angin laut, tempat ini menawarkan ruang sakral untuk beristirahat, merenung, dan menyelaraskan diri kembali dengan sesuatu yang abadi.
Para tamu melintasi jembatan dari biara menuju ‘surga sakral’ di area taman. “Rasanya seperti dalam novel karya Tolkien,” ujar Asa, yang merancang pengalaman ini dengan cermat untuk menghadirkan perjalanan melintasi berbagai ruang dan pengalaman sensorik. Bangku melengkung tersebut dirancang oleh Asa dan arsitek Rujana Bergam Marković. Foto: Dario Odak
Bisakah Anda berbagi momen berkesan saat selebritas menginap di Lopud 1483?
Kami sangat beruntung dapat menjamu tamu-tamu yang sungguh istimewa selama bertahun-tahun. Salah satu pengalaman yang sangat menghangatkan hati adalah saat menyambut David Beckham beserta keluarganya. Mereka datang kembali selama tiga tahun berturut-turut, karena terpikat oleh privasi dan suasana tenang layaknya tempat perlindungan diri di Lopud 1483, serta akses langsung ke laut melalui pantai pribadi kami.
Mereka sangat menyukai Mali Andro—perahu nelayan tradisional kami yang telah direstorasi dengan indah—yang menjadi pilihan favorit untuk menikmati perjalanan santai mengelilingi pulau.

Bisakah Anda berbagi ulasan atau tanggapan paling berkesan yang pernah Anda terima dari tamu?
Seorang tamu menggambarkan pengalaman menginap mereka sebagai sesuatu yang membawa perubahan batin; mereka mengungkapkan bahwa perpaduan antara sejarah, seni, dan alam memberikan rasa damai serta inspirasi yang mendalam. Tanggapan seperti ini mengukuhkan misi kami untuk menciptakan tempat yang benar-benar menyejukkan jiwa.
Sumber: lopud1483, myprivatevillas, outthere.travel, luxurycroatianvillas
