Skip to content Skip to footer

Asian Culture and Sustainable Heritage Engagement Program

Universitas Brawijaya (UB) bersama Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Konan Women’s University Jepang, dan Meijo University Jepang menyelenggarakan program pengabdian masyarakat internasional bertajuk Asian Culture and Sustainable Heritage Engagement Program: Collaborative Community Outreach between Indonesia, Malaysia, and Japan. Kegiatan tersebut berlangsung pada 2–8 September 2026 di Johor, Malaysia.

Program ini menjadi wadah kolaborasi akademik lintas negara yang menggabungkan pengabdian kepada masyarakat, pertukaran budaya, pendidikan internasional, serta pengembangan wawasan kewirausahaan berbasis warisan budaya (cultural heritage).

Foto: prasetyaonline

Sebanyak 26 mahasiswa internasional terlibat dalam kegiatan tersebut. Peserta terdiri atas 12 mahasiswa Universiti Teknologi Malaysia (UTM), lima mahasiswa Konan Women’s University, dan sembilan mahasiswa Meijo University. Dari Universitas Brawijaya, program dipimpin oleh Inggang Perwangsa Nuralam, S.E., MBA, PhD, dengan anggota tim Edlyn Khurotul Aini, S.AB., M.AB., MBA dan Lusy Deasyana Rahma Devita, S.AB., M.AB. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya sebagai bagian dari upaya memperkuat internasionalisasi dan kontribusi akademik di tingkat global.

Ketua Tim Pengabdian, Inggang Perwangsa Nuralam, mengatakan program tersebut tidak hanya bertujuan memperkenalkan keragaman budaya di kawasan Asia, tetapi juga membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga keberlanjutan warisan budaya.

“Program ini kami rancang agar mahasiswa tidak hanya mengenal budaya negara lain, tetapi juga memahami bagaimana warisan budaya dapat terus dijaga dan dikembangkan di tengah perubahan zaman,” ujar Inggang.

Perkuat Kolaborasi Internasional melalui Program Asian Culture and Sustainable Heritage

Menurutnya, warisan budaya memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar identitas sosial dan sejarah. Budaya juga dapat menjadi sumber inovasi sekaligus membuka peluang ekonomi apabila dikembangkan dengan tetap memperhatikan nilai autentiknya.

“Kami berharap program ini tidak hanya memperkuat pemahaman lintas budaya, tetapi juga mendorong generasi muda untuk melihat warisan budaya sebagai sumber inovasi dan pembangunan berkelanjutan,” katanya.

Selama pelaksanaan program, mahasiswa mengikuti berbagai sesi pembelajaran dan sosialisasi yang membahas budaya serta keberlanjutan. Materi yang diberikan meliputi Malaysian Culture and Tangible Heritage, Entrepreneurial and Intangible Cultural Heritage, Sustainability Innovation, Change Maker, Heritage Textile, serta Nusantara Culture, Indonesia Language, Arts and Crafts.

Inggang menjelaskan, rangkaian materi tersebut disusun untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai berbagai bentuk warisan budaya, baik yang berwujud maupun tidak berwujud.

Dorong Generasi Muda Kenali Warisan Budaya sebagai Sumber Inovasi Berkelanjutan

“Mahasiswa kami ajak untuk melihat budaya dari berbagai perspektif. Tidak hanya dari sisi sejarah dan identitas, tetapi juga bagaimana budaya dapat menjadi bagian dari inovasi dan aktivitas ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Selain pembelajaran di dalam kelas, peserta juga mengunjungi sejumlah lokasi budaya dan pusat kerajinan di Johor. Kunjungan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat secara langsung praktik pelestarian budaya yang dilakukan oleh masyarakat setempat.

“Kami ingin pembelajaran tidak berhenti pada teori. Karena itu, mahasiswa diberikan kesempatan untuk melihat langsung bagaimana masyarakat menjaga budaya mereka dan bagaimana potensi tersebut dikembangkan menjadi kegiatan yang memberikan manfaat ekonomi,” tutur Inggang.

Melalui pendekatan experiential learning, mahasiswa juga diajak memahami keterkaitan antara budaya, identitas masyarakat, dan pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bahan bagi peserta untuk mengembangkan gagasan yang relevan dengan isu keberlanjutan.

Dalam rangka pertukaran budaya regional, tim Universitas Brawijaya turut menyelenggarakan sesi Nusantara Culture, Indonesian Language, Arts and Crafts. Sesi tersebut memperkenalkan berbagai aspek budaya Indonesia kepada mahasiswa dari Malaysia dan Jepang.

Perkuat Kolaborasi Internasional melalui Program Asian Culture and Sustainable Heritage

Peserta diperkenalkan dengan dasar-dasar Bahasa Indonesia, seni, kerajinan Nusantara, serta berbagai aktivitas budaya yang dilakukan secara interaktif.

“Kami ingin budaya Indonesia dapat dikenal dengan cara yang lebih dekat dan menyenangkan. Jadi, mahasiswa tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga ikut mencoba dan berinteraksi secara langsung,” ungkap Inggang.

Untuk mendukung keberlanjutan pembelajaran, tim dosen Universitas Brawijaya juga menyusun dan mengembangkan modul pembelajaran Bahasa Indonesia dasar bagi mahasiswa Jepang. Modul tersebut diharapkan dapat digunakan sebagai media pembelajaran untuk memperkuat komunikasi dan pemahaman lintas budaya.

“Modul ini kami susun agar pembelajaran Bahasa Indonesia tidak berhenti selama program berlangsung. Harapannya, mahasiswa Jepang tetap memiliki media yang dapat digunakan untuk belajar setelah kegiatan selesai,” katanya.

Selain pertukaran budaya, program tersebut juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan perspektif kewirausahaan berbasis budaya lokal. Peserta dari Malaysia dan Jepang dibagi ke dalam kelompok lintas negara untuk menyusun ide bisnis yang memanfaatkan potensi warisan budaya.

“Di sini mahasiswa belajar bahwa budaya juga bisa menjadi sumber nilai tambah. Namun, ketika dikembangkan menjadi sebuah bisnis, aspek keberlanjutan dan keaslian budaya tetap harus diperhatikan,” ujar Inggang.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan presentasi dan kompetisi business model. Setiap kelompok mempresentasikan gagasan bisnis kreatif yang menggabungkan unsur budaya dengan pendekatan keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman dalam mengembangkan konsep bisnis, bekerja dalam tim lintas budaya, serta mempresentasikan gagasan kepada peserta dari negara lain.

“Proses menyusun business model ini menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa karena mereka harus menggabungkan ide dari latar belakang budaya yang berbeda. Dari situ, mereka belajar berkomunikasi, berkolaborasi, dan menemukan kesamaan dalam melihat sebuah peluang,” jelas Inggang.

Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam konsep sustainable heritage. Menurutnya, pelestarian budaya perlu dilakukan melalui kolaborasi dan inovasi agar warisan budaya tetap relevan bagi generasi mendatang.

“Pelestarian budaya tidak berarti membiarkannya tetap seperti dulu. Kita perlu mencari cara agar budaya tetap hidup, dikenal generasi muda, dan memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa kehilangan nilai aslinya,” katanya.

Program pengabdian masyarakat internasional tersebut juga menghasilkan sejumlah luaran akademik dan kelembagaan. Di antaranya penyusunan artikel ilmiah yang ditargetkan terbit pada jurnal nasional terakreditasi SINTA 5, presentasi pada seminar nasional, pemanfaatan karya dosen oleh masyarakat sebagai media edukasi budaya, serta penguatan kerja sama internasional melalui dokumen Implementing Agreement (IA) 2026.

Program tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Quality Education, SDG 11 tentang Sustainable Cities and Communities, dan SDG 17 tentang Partnership for the Goals.

“Kolaborasi seperti ini menjadi kesempatan bagi perguruan tinggi untuk tidak hanya berbagi pengetahuan, tetapi juga membangun jejaring dan menciptakan kegiatan yang memberikan dampak bagi masyarakat,” kata Inggang.

Ia berharap kolaborasi antara UB, UTM, Konan Women’s University, dan Meijo University dapat terus dikembangkan melalui berbagai program akademik dan pengabdian di masa mendatang.

“Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti pada satu program. Ke depan, jejaring yang sudah terbentuk dapat dikembangkan menjadi kolaborasi yang lebih luas, baik dalam bidang pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat,” pungkasnya. [Sumber: RST/Humas UB – prasetyaonline]

Leave a Comment